Beranda Feature Tim BioDent dan Perjalanan Panjang Menciptakan Saliva Ejector Berbahan Bioplastik

Tim BioDent dan Perjalanan Panjang Menciptakan Saliva Ejector Berbahan Bioplastik

BERBAGI
Tim BioDent mendapatkan dukungan langsung dari Wali Kota Banda Aceh pada expo Milad USK 17/9/2025 (Dok. Pribadi)

Feature | DETaK

Di tengah sorotan global isu lingkungan, sekelompok mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Syiah Kuala (USK) menghadirkan sebuah terobosan yang menarik perhatian. Mereka mengembangkan BioDent, sebuah saliva ejector (alat penghisap ludah) ramah lingkungan berbahan dasar bioplastik Polylactic Acid (PLA) berbasis pati umbi-umbian atau pati jagung.

Bagi sebagian orang, saliva ejector mungkin terdengar asing. Padahal, alat kecil berbentuk tabung lentur ini hampir selalu hadir di setiap prosedur perawatan gigi. Letaknya sering di sudut mulut pasien, diam-diam bekerja menyedot ludah, darah, atau cairan lain agar area kerja dokter tetap kering.

Iklan Souvenir DETaK

Meskipun sering dianggap sepele, saliva ejector memiliki peran yang cukup besar. Tanpanya, dokter gigi akan kesulitan melihat dengan jelas bagian gigi yang sedang dirawat. Pasien pun bisa merasa tidak nyaman karena mulut dipenuhi oleh air liur. Dengan adanya alat ini, prosedur jadi lebih efisien dan pasien tetap merasa aman tanpa takut tersedak.
Namun, justru karena penggunaannya yang sekali pakai, alat ini menyisakan persoalan baru, yaitu tumpukan limbah plastik medis. Dari sinilah kemudian lahir gagasan untuk menghadirkan BioDent, inovasi ramah lingkungan yng mencoba menjawab persoalan klasik tersebut.

Berbeda dengan saliva ejector konvensional yang terbuat dari plastik sekali pakai dan sulit untuk terurai, BioDent menawarkan solusi hijau. Alat ini tidak hanya aman digunakan dalam prosedur perawatan gigi, tetapi juga mendukung konsep “Green Dentistry”, yaitu sebuah konsep praktik kedokteran gigi yang berfokus pada pelayanan kesehatan gigi dengan cara yang lebih ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan.

Bukan cuma alatnya yang ramah lingkungan, BioDent juga memperhatikan detail sampai ke kemasannya. Dirancang dari bahan berlabel ramah (eco label) yang mudah terurai, sehingga kemasan produk ini tidak akan menambah tumpukan limbah plastik medis sekali pakai. Selain itu, desainnya sederhana tapi tetap steril, sehingga dokter gigi bisa langsung menggunakannya tanpa ribet. Kemasan ini juga menjadi wajah BioDent, memperkenalkan identitas produk mahasiswa FKG kepada dunia kesehatan.

Tim di Balik BioDent
Terobosan ini lahir dari tangan kreatif tim yang tergabung dalam Program P2MW (Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha). Mereka adalah:
1. Dr. drg. Diena Setya Ningsih, M.Si, (Dosen Pembimbing)
2. Reza Fahrozi (Chief Executive Officer, FKG USK)
3. Dona Al-Yandra Fitri Tanjung (Chief Operating Officer, FKG USK)
4. Rizkia Kamila Arindy (Chief Marketing Officer, FKG USK)
5. Sabilillah Rhamadhanti Putri Adinda (Chief Community & Partnership, FKG USK)

Setiap anggota tim memegang peran khusus sesuai dengan keahliannya, memastikan proyek berjalan meski berada di tengah padatnya jadwal kuliah dan praktikum.

Dari Limbah Klinik ke Ide Inovasi
Gagasan ini berawal dari keprihatinan terhadap sampah plastik medis yang menumpuk di fasilitas kesehatan, terutama dari alat sekali pakai. Mahasiswa FKG USK melihat bahwa saliva ejector adalah salah satu alat dengan tingkat penggunaan tinggi sementara limbahnya kerap menumpuk tanpa solusi ramah lingkungan.

Berdasarkan data sistem informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) tahun 2023, plastik menyumbang sekitar 19,21% dari total timbunan sampah nasional yang mencapai 38,6 juta ton pertahun, dan dapat meningkat hingga 64,6 juta ton bila semua daerah melaporkan. Disisi lain, pengelolaan limbah medis di indonesia masih menghadapi banyak sekali kendala, sehingga limbah sekali pakai seperti saliva ejector sering kali menjadi ancaman baru bagi lingkungan.
Dari kondisi tersebut, muncul ide untuk menghadirkan BioDent, saliva ejector berbahan bioplastik PLA ramah lingkungan yang dapat terurai secara alami dan lebih aman bagi bumi.

“ Dari kenyataan itu, kami merasa perlu menghadirkan inovasi sebagai solusi alternatif. BioDent hadir untuk menjawab masalah limbah plastik yang berpotensi mencemari lingkungan. Inspirasi ini juga telah diperkuat dengan hasil diskusi bersama dosen pembimbing” ujar Sabilillah Rhamadhanti, mahasiswi FKG USK yang menjabat sebagai (Chief Community & Partnership).

Membangun sebuah inovasi tentu tak lepas dari tantangan. Begitu juga dengan perjalanan tim BioDent. Tantangan pertama muncul saat mereka harus mengumpulkan data valid tentang seberapa besar potensi pasar untuk alat kesehatan ramah lingkungan. Bukan pekerjaan mudah, karena data semacam itu tidak bisa hanya ditebak-tebak.
Tim pun akhirnya turun langsung, menyebar survei kepada dokter gigi umum, koas, hingga dokter gigi spesialis. Dari situ, mereka mendapat gambaran lebih jelas tentang kebutuhan nyata di lapangan.

Proses berikutnya juga tak kalah menantang, yaitu proses trial dan error produk. Ibarat meracik resep, mereka mencoba berbagai cara agar saliva ejector berbahan bioplastik bisa tetap nyaman untuk digunakan. Survei lewat Google Form pun mereka lakukan, demi mendapat masukan langsung dari calon pengguna.

Ada pun tantangan dalam menjelaskan aspek teknik bioplastik PLA kepada orang-orang di luar bidang kedokteran gigi. “PLA itu apa?, aman ga untuk digunakan? Apa benar-benar bisa digunakan?” pertanyaan-pertanyaan seperti itu sering muncul. Untuk mengatasinya, tim menyiapkan penjelasan sederhana yang dilengkapi ilustrasi dan prototipe. Dengan begitu, orang awam sekalipun bisa memahami gagasan yang tim ciptakan.


Aspirasi dan Dukungan
BioDent bukan hanya sekedar inovasi yang berencana di atas kertas. Produk ini bahkan sudah direview oleh dokter gigi, dokter gigi spesialis, hingga Ketua dan Dewan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI). Bahkan, Wali Kota Banda Aceh turut memberikan perhatian pada terobosan yang dibuat oleh tim BioDent. Dukungan tersebut semakin menguatkan keyakinan anggota tim, bahwa BioDent punya masa depan yang cerah di dunia kesehatan.

Selain itu, hal yang tak kalah menarik ialah perkembangan BioDent yang tak hanya berfokus pada inovasi alat, tetapi juga pada dampak sosialnya. Dalam proses produksinya, tim menggandeng Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) 3D printing yang menghasilkan limbah PLA untuk di olah kembali menjadi bahan baku. Tak sampai disitu, masyarakat setempat pun ikut dilibatkan sebagai pengumpul limbah yang bisa dijual kepada tim BioDent. Dengan begitu, sistem ekonomi ramah lingkungan dapat tercipta, masyarakat berdaya dan UMKM lokal ikut tumbuh.

Bagi tim BioDent, perjalanan inovasi ini tidak hanya sampai disini. Mereka punya mimpi besar yaitu menjadikan BioDent sebagai langkah awal menuju masa depan kedokteran gigi yang lebih baik. Ke depan, tim berharap bisa terus mengembangkan berbagai produk ramah lingkungan lainnya seperti, dental floss, dental aplicator, hingga cheek rectrator yang juga berbahan dasar bioplastik.

Harapan tim BioDent sederhana tapi memiliki makna yang besar. Mereka ingin BioDent tak hanya dikenal di provinsi Aceh, tapi juga bisa digunakan oleh tenaga medis yang ada di seluruh Indonesia. Dengan semakin banyaknya pengguna saliva ejector ramah lingkungan ini, maka dampak positif kepada bumi pun akan semakin terasa.

Penulis bernama Naisya Alina, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala

Editor: Sara Salsabila