Siaran Pers | DETaK
Empat mahasiswa Universitas Syiah Kuala mengadakan kegiatan edukasi pencegahan Zoonosis, pada kamis, 10 Agustus 2023 di Dayah Yayasan BTRG Ulee Kareng. Kegiatan ini adalah bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) yang diketuai oleh Tasya Amanda (Pendidikan Dokter, 2022), dan beranggotakan Syifaul Nazila (Ilmu Keperawatan, 2021), Aufa Asy-Syifa (Pendidikan Dokter Hewan, 2022) dan Irfan Agung Sukmana (Pendidikan Dokter Hewan, 2022). Pelaksanaan program ini dibimbing oleh dosen pembimbing, Rina Suryani Oktari, dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Syiah Kuala (USK). Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Dinas Peternakan Provinsi Aceh dan Dinas Sosial Kota Banda Aceh.
Tasya Amanda selaku ketua tim menjelaskan bahwa terdapat dua sesi dalam kegiatan ini. Pada sesi sosialisasi dilakukan oleh para dokter dan sesi edukasi akan dilakukan oleh tim mahasiswa.

“Kegiatan ini berisi sosialisasi dan edukasi, yang mana untuk sosialisasi sendiri materinya disampaikan oleh dokter-dokter yang telah hadir dari Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan, sedangkan edukasi akan kami berikan secara langsung nantinya,” ujarnya.
Tasya berharap lembaga dinas yang hadir dapat mendukung kegiatan ini agar kedepannya edukasi mengenai pencegahan penularan zoonosis dapat lebih diperkenalkan kepada masyarakat.
“Besar harapan kami agar program ini dapat didukung oleh dinas-dinas terkait yang telah hadir dalam pembukaan acara kami, agar program edukasi terkait pencegahan penularan zoonosis ini nantinya bisa didapat oleh lebih banyak masyarakat, karena topik tentang zoonosis sendiri masih menjadi topik yang sangat jarang diketahui oleh masyarakat,” harapnya.
Pemateri pertama, Nila Frisanti dari Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menyampaikan materi dengan judul “Pencegahan Penularan Zoonosis”. Dalam penyampaian materi tersebut, Nila memberikan pemahaman mengenai apa itu zoonosis, dari mana saja infeksi tersebut dapat ditularkan dan faktor pemicunya.
“Zoonosis adalah penyakit atau infeksi yang dapat ditularkan dari hewan kepada manusia dan 60 % penyakit menular pada manusia bersumber dari zoonosis. Hewan penyebab zoonosis diantaranya anjing, kucing, babi, kelelawar, tikus, kambing, kerbau, sapi, kuda, unggas, reptil dan hewan liar lainnya. Faktor pemicu daripada zoonosis ini bisa saja terjadi karena peningkatan populasi, globalisasi, urbanisasi, penggundulan hutan dan perubahan iklim,” jelas dokter dari Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh tersebut.
Dalam penyampaian materinya, Nila juga memaparkan bagaimana pencegahan penularan zoonosis. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencuci bersih bahan makanan dan memasaknya dengan benar dan matang, serta menghindari gigitan atau cakaran hewan peliharaan.
“Penularan zoonosis ini dapat dicegah dengan berbagai cara, seperti mencuci makanan sampai bersih dengan benar sebelum diolah. Jika mengolah bahan makanan, harus dimasak dengan benar dan juga matang. Untuk adik-adik yang punya hewan peliharaan atau di sekitarnya terdapat hewan peliharaan, maka hindari diri agar tidak terkena gigitan atau cakaran hewan tersebut,” ungkap Nila.
Dalam sesi sosialisasi tersebut Nila sangat menekankan pada anak-anak Yayasan BTRG yang berada dalam lingkup asrama untuk menjaga kebersihan lingkungan dan diri, tidak bertukar barang pribadi, tidak jajan sembarangan, makan makanan yang bergizi dan juga olahraga secara teratur. Di penghujung materi, beliau turut mendemonstrasikan 6 langkah cuci tangan pakai sabun yang sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Materi kedua berjudul “Pencegahan dan Penanganan Rabies” disampaikan oleh Agus Nurza Zulkarnain, dokter hewan utusan Dinas Peternakan Aceh. Dalam pemaparannya, Agus menyampaikan bahwa terdapat 18 provinsi yang belum bebas kasus rabies di Indonesia. Jumlah rata-rata per tahun kasus gigitan yang ditularkan dari hewan penular rabies kepada manusia, yaitu lebih dari 15.000 kasus. Ia juga mengungkapkan beberapa ciri-ciri yang dapat dilihat pada hewan yang terkena rabies, seperti gelisah dan agresif, menyendiri, takut cahaya, air liur berlebihan, takut suara, takut air, ekor suka ditekuk di antara kedua kaki belakang dan suka menggigit apa saja yang ada di sekitarnya baik benda ataupun manusia.
Agus mengatakan bahwa sosialisasi ini sangat penting untuk pencegahan karena virus rabies sangat berbahaya dan dapat berujung kematian bila terlambat ditangani.
“Oleh karena itu, penting untuk mensosialisasikan hal ini sebagai upaya pencegahan. Karena jika terlambat ditangani, maka virus rabies yang sangat berbahaya ini dapat berakhir dengan kematian,” pungkasnya.
Lebih lanjut, agus juga menjelaskan gejala yang terjadi jika seseorang terkena gigitan hewan pembawa virus rabies, seperti timbulnya nyeri pada luka gigitan, sakit kepala, lemas, gelisah, mulut berlendir, takut air, takut angin, takut cahaya dan suara.
Dalam penyampaian materinya, dokter hewan tersebut menjelaskan bahwa mengenali ciri hewan rabies sangat penting, namun, hewan yang memenuhi ciri-ciri rabies tidak diperkenankan untuk dibunuh, melainkan harus diserahkan dan melapor ke puskesmas dan petugas dinas peternakan dan kesehatan hewan agar ditangani sesuai dengan prosedur.
“Penting untuk kita mengenali ciri hewan pembawa rabies. Jika kita menemukan hewan dengan ciri-ciri rabies, maka jangan dibunuh, akan tetapi tangkap hewan tersebut dan lapor ke Puskesmas atau petugas dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan agar bisa ditangani sesuai prosedur,” jelas Agus Nurza Zulkarnain.
Di penghujung materi, Agus mengingatkan bahwa untuk penanganan awal, korban yang terkena gigitan hewan pembawa rabies ini sesegera mungkin mencuci luka dengan air mengalir, kemudian berikan obat antiseptic dan segera bawa ke pusat kesehatan hewan atau Rabies Center agar segera diberikan Vaksin Anti Rabies atau VAR.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Veteriner Dinas Peternakan Aceh, Ruhaty mengatakan bahwa, sosialisasi terkait pencegahan dan penanganan rabies sangat penting sebagai upaya melindungi manusia dari penyakit yang berbahaya.
“Sosialisasi ini sangat penting kita lakukan agar masyarakat memiliki pemahaman yang baik terkait penanganan dan pencegahan rabies. Langkah ini adalah upaya yang kita tempuh untuk mencegah dan menyadarkan masyarakat terkait ciri bahaya dari rabies dan juga cara untuk mengatasinya,” tutur Ruhaty.
Kegiatan sosialisasi dan edukasi ini ditutup dengan sesi tanya jawab oleh anak-anak Yayasan BTRG kepada pemateri, kemudian dilanjutkan dengan kuis ceria nan Islami dan ditutup dengan foto bersama. Terdapat juga pemberian vaksin rabies yang diberikan oleh Dinas Peternakan Aceh untuk seekor monyet yang dimiliki oleh salah satu pengurus yayasan.[]
Editor: Masya Pratiwi










