Beranda Siaran Pers Peringati Hari Kartini, UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Masyarakat Perkuat Kepemimpinan Perempuan...

Peringati Hari Kartini, UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Masyarakat Perkuat Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim melalui Dialog Perempuan Penjaga Hutan

BERBAGI
Agenda foto bersama para narasumber. (Dok. Panitia)

Siaran Pers | DETaK

Darussalam-Dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi, sejumlah pihak dari kalangan akademisi, pemerintah, dan masyarakat sipil menggelar forum dialog bertajuk “Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender, Partisipasi, dan Kepemimpinan Perempuan dalam Aksi Iklim di Indonesia” di Aula Rektorat UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Selasa, 21 April 2026.

Kegiatan ini diikuti sekitar 150 peserta yang merupakan mahasiswa dari berbagai universitas seperti Universitas Syiah Kuala (USK), Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), dan UIN Ar-Raniry.

Iklan Souvenir DETaK

Forum tersebut diselenggarakan oleh The Asia Foundation (TAF) melalui program Women Forest Defenders (WFD) bekerja sama dengan GeRAK Aceh dan DEMA FISIP UIN Ar-Raniry. Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif nasional yang dilaksanakan serentak di delapan kampus yang ada di delapan provinsi Indonesia.

Saat ini, isu perubahan iklim terus menjadi perhatian global karena dampaknya yang luas terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi. Di Indonesia, perempuan dinilai sebagai kelompok yang rentan terdampak, namun juga memiliki peran strategis dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen dalam aksi iklim melalui berbagai kebijakan, salah satunya program perhutanan sosial yang hingga 2026 telah mencakup akses kelola seluas 8,33 juta hektare bagi masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada keberlanjutan hutan, tetapi juga membuka ruang partisipasi perempuan dalam pengelolaan sumber daya alam dan pengembangan ekonomi berbasis hutan.

Di Aceh, sejumlah perempuan terlibat aktif dalam menjaga lingkungan. Nurhalimah, Wakil Ketua Lembaga Pengelola Hutan Adat (LPHA) Mukim Kunyet, Kabupaten Pidie, melalui Women Forest Defenders (WFD), terlibat dalam rehabilitasi hutan, pemantauan kawasan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis hasil hutan.

Selain itu, Kartini, yang beraktivitas di Stasiun Penelitian Soraya, Subulussalam, turut mendukung kegiatan penelitian biodiversitas dan pemantauan restorasi hutan di kawasan hutan sekunder yang menjadi bagian dari Taman Nasional Gunung Leuser. Sementara itu, Rahmi dari Sekolah Anti Korupsi Aceh (SAKA) Baca Anggaran Lingkungan mendorong keterlibatan generasi muda dalam memahami kebijakan serta pengawasan anggaran lingkungan.

Dalam forum tersebut, Nurhalimah menyampaikan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian hutan. “Perempuan bukan hanya kelompok yang terdampak ketika hutan rusak, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaganya,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kartini yang menekankan bahwa kontribusi dalam menjaga hutan dapat dilakukan dari berbagai peran, termasuk melalui aktivitas sehari-hari yang mendukung upaya konservasi.

Sementara itu, akademisi STIK Pante Kulu, Dr. Cut Maila Hanum, menyatakan bahwa peringatan Hari Kartini perlu dimaknai sebagai momentum refleksi untuk mendorong pemikiran kritis dan aksi nyata dalam menghadapi tantangan lingkungan.

Dari hasil diskusi, forum menghasilkan sejumlah poin penting, antara lain peningkatan kesadaran akan pentingnya keterlibatan perempuan dalam aksi iklim, penguatan kapasitas perempuan dan generasi muda dalam memahami kebijakan serta anggaran lingkungan, serta perlunya kolaborasi antara masyarakat sipil, akademisi, dan pemerintah dalam mendorong kebijakan yang inklusif dan berkelanjutan. []

Editor: Zalifa Naiwa Belleil