Beranda Terhangat Tanggapan Mahasiswa USK yang Mengikuti Program PMM Terkait Pengkonversian Nilai

Tanggapan Mahasiswa USK yang Mengikuti Program PMM Terkait Pengkonversian Nilai

BERBAGI
Ilustrasi Pengkonversian Nilai. (Rani Mauizzah/DETaK)

Rani Mauizzah | DETaK

Darussalam – Mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) telah selesai mengikuti program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) periode pertama selama satu semester di semester ganjil tahun 2021.

Pertukaran Mahasiswa merupakan bagian dari program Kampus Merdeka yang diadakan oleh Kemendikbudristek RI guna mengasah kemampuan Mahasiswa. Sebelum dilepaskan untuk mengikuti perkuliahan di universitas yang dituju, Mahasiswa mendapatkan arahan oleh dosen tentang pengonversian nilai dan bagaimana memilih mata kuliah yang sesuai dengan yang disediakan oleh prodi agar sesuai dengan jurusan.

Iklan Souvenir DETaK

Siraj Defara merupakan Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi angkatan 2020 yang mengambil pertukaran di Universitas Slamet Riyadi, ia mengungkapkan bahwa ia mendapatkan penjelasan perihal memilih mata kuliah dan pengonversian nilai oleh Zakirah sebagai dosen pembimbing.

“Ada dijelasin gimana milih mata kuliahnya biar sesuai sama yang di ilkom, soalnya kalau salah ambil nanti nggak bisa dikonversikan. Terus yang dijelasin juga nggak jauh beda sama kenyataannya yang penting rajin komunikasi aja sama dosen, susahnya tu kalau hubungin akademik tentang nilai kan agak susah via chat. Apalagi, jadwal di USK sama Univesitas Slamet Riyadi ini beda jadwalnya, USK sudah masuk kami baru selesai UAS. Ini aja sebenarnya nilai keluar tanggal 31 Januari, cuma aku mintak keringanan biar nilai yang udah keluar bisa langsung dikirimkan dan kami bisa ikut mata kuliah semester 4 di USK,” jelas Siraj

Kemudian ia menjelaskan bahwa program ini sangat direkomendasikan untuk mahasiswa karena adanya hanya di semester ganjil.

“Menurut aku, program ini recommended banget untuk mahasiswa, karena kan kita jumpa sama orang baru dari pulau, suku, agama, bahasa, dan ras yang berbeda. Jadi kayak dapat sesuatu yang baru. Jangan takut, ini juga nggak bisa didapat dua kali. Kalau udah ikut, otomatis kayak aku ini nggak bisa ikut lagi,” kata Siraj

Sama halnya seperti Siraj, Nadya Faradisi juga merupakan mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi angkatan 2020 yang mengambil PMM di Universitas Slamet Riyadi, ia menjelaskan bahwa informasi tentang program pertukaran mahasiswa ini ia dapatkan panduan nya melalui Instagram. Ia mendapat bimbingan ketika setelah selesai mendaftar dan ingin meminta surat rekomendasi dari pihak prodi.

“Kalau dari prodi nggak ada info apa-apa tentang program ini dan nggak ada bimbingan khusus. Aku dapatnya pas sudah setengah jalan, di step terakhir yaitu minta surat rekom tu lah baru di bimbing sama kaprodi buat konsultasi mata kuliah yang akan di konversikan. Di situ banyak kali kesalahan aku dalam ambil mata kuliah, aku terlanjur ambil mata kuliah yang gak bisa dikonversi dan gak disetujui sama kaprodi ilkom, tapi aku pun udah terlanjur submit pendaftarannya dan gak bisa diubah lagi. Setelah kejadian itu baru ada dosen pembimbing dan pembekalan dari ilkom untuk program ini yaitu Bu Zakirah,” jelas Nadya

Nadya juga menjelaskan tentang pengkonversian yang dijelaskan oleh prodi sesuai dengan yang dijelaskan dan sesuai dengan syarat maupun ketentuan yang berlaku. Setelah itu kesulitan yang dialaminya hanya adanya miskomunikasi dengan dosen perihal pengkonversian nilai.

“Untuk pengkonversinnya sesuai sih, kan sebelum itu ada konsultasi dulu sama kaprodi. Syaratnya mata kuliahnya harus sama atau mirip-mirip sama kuliah yang ada di Ilkom. Kesulitan yang aku dapat adalah telatnya keluar transkrip nilai dari Universitas Slamet Riyadi, soalnya kalender akademik USK sama Univ Slamet Riyadi berbeda. Dari aku semoga sistem untuk program ini lebih diperbaiki lagi, supaya nggak ada miskomunikasi sama dosen,” tutup Nadya.[]

Editor: Hijratun Hasanah