Rinatul Mauzirah | DETaK
Darussalam– Sejak diresmikan pada Februari 2020 oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), mesin fraksinasi Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK) sudah memproduksi sebanyak 800 kg minyak nilam. Hasil ini masih jauh dari potensi ekonomi mesin fraksi tersebut yang bisa menghasilkan 24 ton pertahun. Hal ini dikarenakan, untuk produksi dalam jumlah besar masih terkendala dengan market.
“Mesin fraksinasi minyak nilam sudah digunakan, akan tetapi masih terkendala dengan market, khususnya market ekspor sehingga kami masih belum bisa memproduksi dalam jumlah yang besar, semakin banyak market-nya, semakin banyak yang bisa diekspor, sehingga nilai ekonominya juga semakin besar,” ungkap Syaifullah Muhammad, Ketua ARC USK.

Meskipun demikian, saat ini pihak ARC sedang dalam proses pengusulan surat untuk bisa mendapatkan market ekspor, “Kami sudah mengusulkan surat ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Aceh sejak Februari 2021, dan saat ini masih dalam tahapan untuk bisa mendapatkan market ekspor, jika market ekspornya sudah ada. Kami menargetkan bisa memproduksi 10.000 botol parfum pada bulan Agustus 2021 untuk dieskpor dengan harga Rp. 350.000 per botol, sehingga bisa diperoleh 3,5 milyar rupiah, meskipun potensi ekonomi mesin fraksinasi mampu memproduksi 12 juta botol parfum per tahun, tetapi kapasitas atau kemampuan kita, ARC, hanya mampu memproduksi 60.000 ribu botol per tahun jika banyak market yang tersedia, sehingga untuk memproduksi 12 juta botol parfum harus dinaikkan kapasitasnya, perlu pabrik atau tempat yang lebih besar,” lanjut Syaifullah Muhammad.
Sementara itu, mesin fraksinasi minyak nilam ARC dikenal sebagai Molecular Distillation and fractionation, sesuai dengan namanya, mesin tersebut mempunyai dua fungsi, yaitu untuk penyulingan minyak nilam guna dieskpor dan sebagai alat untuk fraksinasi minyak nilam guna dijadikan parfum.[]
Editor: Cut Siti Raihan










