Beranda Headline Dilema Ruang Bersekat di Gedung Psikologi

Dilema Ruang Bersekat di Gedung Psikologi

BERBAGI
Ruangan bersekat di gedung Psikologi Unsyiah. 06/03/19 (Cut Siti Raihan | DETaK)

Anis Rahmani | DETaK

Darussalam- Mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) merasa ruangannya jauh dari kata layak. Pasalnya para mahasiwa Psikologi belajar dalam keadaan ruangan yang disekat-sekat. Hal ini bagi mahasiswa sendiri dirasa kurang nyaman karena tidak bisa leluasa dalam proses belajar-mengajar, apalagi pada saat proses diskusi berlangsung.

Menurut pengakuan RA (inisial), mahasiswi Psikologi angkatan 2012, Gedung Psikologi sebelumnya mempunyai tiga ruang kemudian dipecah menjadi enam ruang pada tahun 2015. Ruangan ini dipecah dengan diberi pembatas dari kayu, namun antara ruang satu dengan ruang lain tidak kedap suara.

Iklan Souvenir DETaK

“Masa kami dulu ruangnya nggak disekat, kami belajarnya satu mata kuliah masuknya satu leting di satu ruang. Dulu permasalahannya adalah karena ramai yang masuk di satu kelas, kalau sekarang masalahnya adalah sekatan kelasnya yang tidak mendukung untuk proses belajar-mengajar,” ungkapnya saat ditemui Tim detakusk.com pada Rabu, 27 Maret 2019.

Baca juga: Tanggapi Ruangan Bersekat, Ketua Prodi Psikologi Sudah Ajukan Perbaikan

ME (inisial) salah satu mahasiswa jurusan Psikologi angkatan 2018 mengatakan bahwa jurusan mereka kekurangan ruang untuk belajar. Selain itu, pendingin ruangan juga tidak berfungsi dengan baik.

“Kami ada shift-shift gitu, udah ada jadwal untuk yang gunain kelas, kalau seandainya mau ganti ruang, kami harus lapor ke akademik dulu. Ruangnya agak kecil dan AC-nya sekarang udah nggak berfungsi lagi sehingga kalau panas banyak yang ngeluh,” terang ME.

Selain itu, Sm (inisial) mahasiswa Psikologi angkatan 2015 menambahkan bahwa gedung Psikologi memang kekurangan ruangan, fasilitasnya juga tidak mumpuni terutama dari LCD dan pendingin ruangan yang sering rusak. Selain itu, kurangnya kebersihan ruang dan juga kurangnya ketersediaan air di toilet sangat tidak mendukung proses belajar.

Para mahasiswa sudah menyampaikan aspirasinya untuk mengadakan perbaikan kepada himpunan maupun BEM, akan tetapi belum ada kemajuan sampai sekarang, sehingga para mahasiswa berang dan sering merasa dianak-tirikan dibandingkan dengan jurusan Pendidikan Kedokteran.

“Merasa dianak-tirikan karena ketika kami meminta ini mungkin lebih diutamakan yang bagian sana sedangkan kami sudah lama meminta pembangunan gedung tapi gedung sebelah sana malah jadi duluan, gedung dekanan juga udah jadi duluan. Kami boro-boro gedung dibangun, air saja suka macet,” keluh Sm kesal. [*]

Editor: Junina Rizki