Beranda Terkini Tim KDFH USK Raih Juara 2 Debat Hukum Nasional Pada KPS Law...

Tim KDFH USK Raih Juara 2 Debat Hukum Nasional Pada KPS Law Fair II UIN Ar-Raniry 2025

BERBAGI
Tim KDFH USK yang meraih peringkat ke-2 pada KPS Law Fair II UIN AR-RANIRY 2025. 09/10/2025 (Dok. Pribadi)

Alya Mukhbita Nur [AM] | DETaK

Darussalam – Tim Komunitas Debat Fakultas Hukum (KDFH) Universitas Syiah Kuala (USK) meraih juara 2 dalam kompetisi Debat Hukum Nasional KPS Law Fair II UIN AR-RANIRY 2025 yang diselenggarakan oleh Komunitas Peradilan Semu Fakultas Syariah dan Hukum UIN AR-RANIRY dengan mengusungkan tema “Kilaukan Hukum, Meraih Juara di Tanah Rencong” pada Kamis, 9 Oktober 2025.

Kompetisi ini dilaksanakan secara online maupun offline yang diikuti oleh 317 peserta dari 26 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di seluruh Indonesia. Kegiatan ini membuka beberapa ajang kompetisi seperti, lomba IMCC, lomba poster, lomba orasi, lomba debat, lomba surat dakwaan, dan yang terakhir yaitu lomba surat gugatan. 

Iklan Souvenir DETaK

KDFH USK membawakan beberapa perwakilan mereka dalam kompetisi ini, setiap delegasi dipersiapkan dengan matang melalui proses seleksi internal dan pelatihan intensif yang dilakukan oleh tim pembina serta anggota senior komunitas. Berikut adalah nama-nama yang mengikuti ajang tersebut:

  1. Maulana Rizki (Prodi Ilmu Hukum)
  2. Najwa Nazila (Prodi Ilmu Hukum)
  3. Muthia Halida Zahra (Prodi Ilmu Hukum) 

Salah satu anggota dari perwakilan tim, Najwa Nazila mengungkapkan bahwa mereka telah bergabung dalam KDFH USK sehingga rutin melakukan latihan sebagai persiapan untuk setiap perlombaan yang akan diikuti. Ia juga menambahkan bahwa pada tahap awal KPS Law Fair II dengan seleksi video terlebih dahulu sebelum akhirnya lolos hingga final.

“Berhubung kami sudah bergabung dalam Komunitas Debat Fakultas Hukum USK, jadi memang kami sudah ada latihan berkala sebagai bekal untuk setaip perlombaan yang akan kami ikuti nantinya. Untuk tahap awal KPS Law Fair II ini kami memulainya dengan tahap seleksi video terlebih dahulu, baru kemudian lolos ke babak semifinal hingga final.” ujarnya. 

Dalam kompetisi ini Najwa mengatakan bahwa terdapat 4 mosi atau 4 isu yang akan dibahas saat debat.  Keempat mosi tersebut berfokus pada berbagai topik yang berkaitan dengan Aceh sebagai daerah dengan status otonomi khusus, mencakup aspek hukum, kebijakan pemerintah daerah, hingga implementasi syariat Islam dalam konteks nasional.

“Kami memperdebatkan isu Aceh sebagai otonomi khusus, mengingat Mou Helsinki sudah 20 tahun, maka lahir mosi mosi seputar isu Aceh ini sebagai bahan refleksi se-urgensi apa sih sebenarnya di masa sekarang, apakah semua tujuan Mou Helsinki sudah tercapai setelah dua dekade? Kami juga membahas apakah bagi hasil migas (minyak dan gas bumi) antara Aceh dan pusat itu sudah efektif, dan lainnya yang berkaitan,” jelasnya.

Walaupun sudah berlatih banyak untuk persiapan lomba, Najwa mengakui mendapatkan mosi H-2 sebelum waktu perlombaan dimulai, jadi dalam 2 hari tersebut tim mereka melakukan usaha semaksimal mungkin. Mulai dari riset mosi, membagikan tugas pembicaraan sesuai dengan porsinya, lalu mencari undang-undang yang berkaitan dengan mosi agar memperkuat argumen yang disampaikan. Maka dari itu, tantangan yang mereka hadapi adalah waktu, dikarenakan waktu untuk melakukan iset dianggap cukup singkat maka tim mereka harus memanfaatkannya dengan sebaik mungkin agar tetap profesional. 

Ia juga menyampaikan bahwa debat yang diikuti bukanlah debat biasa, melainkan debat yang berlandaskan ilmu. Melalui perlombaan seperti itu, pengetahuan mereka di bidang hukum pun terus bertambah.

“Namun debat juga bukan sembarang debat, tetapi debat dengan ilmu. Sehingga dengan mengikuti perlombaan seperti ini pengetahuan kami di bidang Hukum juga terus bertambah.” ucapnya

Najwa juga menuturkan bahwa dirinya bersama tim selalu berpegang pada prinsip untuk terus terlibat dalam kegiatan yang memberikan dampak positif bagi pengembangan diri. Menurutnya, mengikuti perlombaan bukan semata-mata untuk mengejar kemenangan, tetapi sebagai sarana untuk mengasah kemampuan berpikir kritis, memperluas wawasan, serta belajar menghadapi tekanan dengan cara yang profesional.

“Saran dan pesannya dari kami mungkin untuk mahasiswa yang ingin ikut lomba serupa terus semangat, karena dari perlombaan seperti ini banyak hal hal baru yang mungkin tidak semuanya kita dapat di kelas, namun pada saat riset mosi kita baru mendapatkannya,” tutupnya.[]

Editor: Amirah Nurlija Zabrina