Jamalidiana | DETaK
Darussalam – Darussalam – Di tengah tekanan akademik yang kian kompleks, Universitas Syiah Kuala (USK) menghadirkan sebuah program layanan psikososial dan spiritual bernama Peubat Hatee yang beroperasi di lingkungan Masjid Jami’ Universitas Syiah Kuala. Program ini hadir sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan mahasiswa terhadap pendampingan kesehatan mental yang holistik, terjangkau, dan berbasis nilai-nilai islami.
Direktur Peubat Hatee, Nucke Yulandari, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa program ini didirikan untuk membantu mahasiswa memulihkan dan menjaga kesehatan mental melalui pendekatan yang mengintegrasikan dukungan psikologis, sosial, spiritual, dan edukatif.Mahasiswa pada fase perkuliahan berada pada masa transisi perkembangan yang penuh tuntutan, mulai dari adaptasi lingkungan, tekanan akademik, masalah keluarga, kecemasan masa depan, hingga persoalan finansial.

“Kondisi ini sering memunculkan stres, burnout, kecemasan, penurunan motivasi belajar, bahkan gangguan mental yang apabila tidak ditangani dapat berdampak pada prestasi akademik, relasi sosial, serta keberlangsungan studi mahasiswa,” ujar Nucke.
Ia menambahkan, mahasiswa penerima Bidikmisi atau KIP Kuliah menjadi kelompok yang paling rentan karena selain menanggung beban akademik, mereka juga membawa tekanan ekonomi dan harapan keluarga yang besar. Kondisi tersebut, apabila tidak ditangani, dapat memunculkan perasaan rendah diri, kelelahan mental, hingga putus asa.Peubat Hatee hadir sebagai ruang aman (safe space) yang memberikan pendampingan emosional, konseling, penguatan spiritual, serta dukungan sosial agar mahasiswa mampu kembali berfungsi secara adaptif dan produktif.
Mahasiswa yang membutuhkan layanan dapat menghubungi admin Peubat Hatee melalui WhatsApp, Instagram, maupun Facebook. Setelah mendapat respons awal, mahasiswa mengisi data sederhana berupa nama atau inisial, fakultas, kontak, serta keluhan umum. Sesi pendampingan kemudian dijadwalkan dan dilaksanakan langsung di Masjid Jami’ USK, dilanjutkan dengan evaluasi dan tindak lanjut bila diperlukan.
Peubat Hatee menyediakan beragam layanan, di antaranya konseling individu, konseling kelompok, career planning, psikotes bakat dan minat, hypnotherapy berbasis Islam, serta layanan curhat dan dukungan emosional. Seluruh layanan dirancang untuk mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa secara menyeluruh.
“Kami menyediakan ruang aman bagi mahasiswa untuk bercerita, didengarkan tanpa
menghakimi, serta mendapatkan dukungan psikologis dan spiritual,” jelas Nucke.
Layanan Peubat Hatee ditangani oleh psikolog dan konselor profesional lulusan perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Selain tenaga profesional, program ini juga didukung oleh relawan mahasiswa dan alumni dari USK serta Universitas Islam Negeri Ar-Raniry yang berperan sebagai pendamping sebaya (peer support).Kolaborasi antara psikolog, konselor, dan volunteer dilakukan secara terarah agar layanan yang diberikan tetap profesional, humanis, serta sesuai kebutuhan mahasiswa.
Soal kerahasiaan, Nucke menegaskan bahwa seluruh informasi mahasiswa dijaga sesuai prinsip profesional dan kode etik psikologi. Data pribadi, cerita, hasil konseling, maupun hasil psikotes tidak disebarluaskan kepada pihak lain tanpa izin mahasiswa yang bersangkutan. Pengecualian hanya berlaku pada kondisi darurat yang membahayakan keselamatan mahasiswa atau orang lain.
Secara keseluruhan, respons mahasiswa terhadap layanan ini dinilai sangat positif. Banyak mahasiswa mengaku merasa lebih lega, tenang, dan terbantu setelah mengikuti sesi pendampingan. Keterlibatan psikolog, konselor, dan volunteer sebaya membuat mahasiswa lebih mudah membuka diri karena layanan tidak terkesan kaku atau formal berlebihan.
“Mahasiswa menyatakan layanan ini insightful. Mereka merasa permasalahan yang dihadapi tidak hanya dibahas pada tataran rasional semata, tetapi juga dicari solusi secara komprehensif sesuai kondisi pribadi masing-masing,” ungkap Nucke.
Di balik respons positif tersebut, Peubat Hatee menghadapi tantangan nyata berupa keterbatasan pendanaan operasional. Layanan psikologis dan konseling profesional memerlukan waktu, kompetensi, energi, serta tanggung jawab etik yang besar sehingga tidak dapat sepenuhnya berjalan secara gratis dalam jangka panjang.Nucke menyebut bahwa dukungan institusi menjadi kunci agar psikolog, konselor, maupun volunteer dapat memperoleh apresiasi yang layak sesuai kontribusi profesional yang diberikan.
Dalam menjalankan programnya, Peubat Hatee telah menjalin kolaborasi dengan berbagai fakultas di USK, termasuk melalui sosialisasi kepada mahasiswa baru pada kegiatan Pembinaan Akademik dan Karakter Mahasiswa Baru (PAKARMARU). Sejumlah dosen juga berperan aktif merekomendasikan mahasiswa yang menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis, seperti penurunan IPK, sering absen, atau menarik diri secara sosial, untuk mendapatkan pendampingan di Peubat Hatee.
Ke depan, Peubat Hatee berencana memperluas jangkauannya dengan terlibat dalam berbagai seminar, pelatihan, dan kegiatan sosial-edukatif di lingkungan USK, serta menjalin kerja sama dengan pengelola masjid kampus di berbagai wilayah Aceh. Penempatan program di masjid kampus dinilai memiliki nilai strategis karena masjid sejak dahulu bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan karakter, penguatan nilai moral, dan pemberdayaan mahasiswa.
“Kami ingin menghadirkan kembali fungsi masjid sebagai ruang yang ramah, menenangkan, dan mendukung kesehatan mental generasi muda. Dengan mahasiswa yang lebih sehat secara emosional dan mental, proses pembelajaran, prestasi akademik, serta kontribusi sosial mahasiswa diharapkan dapat berkembang secara optimal,” tutup Nucke. []
Editor: Kamilina Junita Damanik










