Beranda Terkini RDK USK Gelar Marriage Edu-Fest, Bahas Fenomena Penurunan Minat Menikah

RDK USK Gelar Marriage Edu-Fest, Bahas Fenomena Penurunan Minat Menikah

BERBAGI
Pemteri di sesi pertama, Ichsan Al Basith sedang memberikan materi tentang pernikahan dalam acara marriage edu-fest, Jumat, 06/03/2026. (Dok. Panitia)

Zarifah Amalia & Musfirah | DETaK

Darussalam-Menanggapi fenomena menurunnya minat menikah di kalangan generasi muda Indonesia, panitia Ramadhan di Kampus (RDK) Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Marriage Edu-Fest yang berisi rangkaian seminar, workshop, dan screening kesiapan menikah. Kegiatan ini diadakan pada Jumat dan Sabtu, 6-7 Maret 2026, di lantai 2 Masjid Jamik USK. Kegiatan ini bertujuan untuk membedah citra negatif tentang pernikahan sekaligus memberikan panduan praktis bagi mahasiswa.

Berkolaborasi dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), kegiatan ini diharapkan dapat memberikan bekal nyata bagi pemuda di Aceh agar berani melangkah ke jenjang pernikahan tanpa rasa takut yang berlebihan. Hari pertama membahas pentingnya kesadaran bahwa pernikahan merupakan awal perjalanan hidup bersama, termasuk penguatan komunikasi serta pengelolaan finansial yang sehat. Sementara itu, hari kedua diisi dengan workshop mengenai kesiapan psikologis dan mental bagi mahasiswa untuk menjawab pertanyaan “apakah saya siap menikah?”.

Iklan Souvenir DETaK

Koordinator acara, Muhammad Iqbal Fajri mengungkapkan kekhawatirannya terhadap fenomena “resesi pernikahan” seperti yang terjadi di Jepang. Ia menjelaskan bahwa tren penurunan minat menikah mulai menjadi perhatian di berbagai negara, termasuk Indonesia. Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak pada keberlangsungan generasi muda di masa depan sehingga menjadi salah satu latar belakang pemilihan tema kegiatan ini.

“Pernikahan itu hal yang sakral. Kami ingin menekankan bahwa nikah itu sebenarnya mudah, yang membuatnya terasa berat seringkali hanya faktor gengsi,” ujar Iqbal saat diwawancarai di Masjid Jamik.

Hal serupa disampaikan oleh Shafira Isbah Riskiana selaku moderator acara dalam sesi pertama menekankan pentingnya manajemen rasa takut, terutama terkait finansial. Ia mengingatkan generasi Z (gen Z) agar tidak terjebak pada pernyataan ‘marriage is scary’. Menurutnya, pernikahan tidak akan menakutkan selama pasangan memiliki komunikasi yang baik serta memahami tanggung jawab masing-masing sebagai suami dan istri.

“Jangan sampai generasi Z terjebak pada anggapan ‘marriage is scary’. Pernikahan justru bisa berjalan baik jika pasangan memiliki komunikasi yang baik dan memahami tanggung jawab masing-masing,” ujarnya.

Kegiatan ini turut mensosialisasikan program Pendewasaan Usia Pernikahan (PUP) dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta BKKBN. Berdasarkan standar tersebut, usia ideal menikah bagi Perempuan adalah minimal 21 tahun, sedangkan laki-laki usia ideal menikahnya adalah 25 tahun. Pemilihan usia ini didasarkan pada kematangan perkembangan otak untuk mengambil keputusan besar serta kesiapan laki-laki dalam menjadi “nahkoda” rumah tangga.

Melalui kegiatan ini, panitia berharap mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai kesiapan menikah, baik dari sisi komunikasi, finansial, maupun mental, sehingga mampu memandang pernikahan secara lebih realistis. Selain rangkaian acara Marriage Edu-Fest, RDK USK turut mengadakan berbagai kegiatan menarik lainnya selama bulan ramadhan, untuk informasinya bisa diperoleh di laman Instagram @rdkusk.[]

Editor : Zikni Anggela