Beranda Terhangat Aliansi Mahasiswa USK Gelar Aksi Simbolik, Desak Pemerintah Tuntaskan Rehab-Rekon Pasca-Bencana di...

Aliansi Mahasiswa USK Gelar Aksi Simbolik, Desak Pemerintah Tuntaskan Rehab-Rekon Pasca-Bencana di Aceh

BERBAGI
Aksi simbolik yang dilakukan oleh para mahasiswa. Senin 6/7/2026 (Zalifa Naiwa Belleil/DETaK)

Zalifa Naiwa Belleil & Zarifah Amalia | DETaK

Darussalam-Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar aksi simbolik dengan tema Aceh Pasca Bencana: Menakar Efektivitas Rehabilitasi dan Rekontruksi pada Senin, 6 Juli 2026 di Gelanggang, Darussalam. Fokus utama dalam aksi kali ini adalah pemenuhan hak-hak masyarakat korban bencana serta lambatnya proses rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon).

Ketua BEM FISIP USK, Hanif Al Afif, menyatakan bahwa aksi ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa tidak tinggal diam melihat kondisi Aceh saat ini. “Kami ingin membuktikan bahwa mahasiswa hari ini tidak diam terhadap bencana-bencana dan masalah yang belum selesai di Aceh ini. Kami juga mengajak kawan-kawan untuk peduli terkait hak-hak masyarakat pasca-rekon bencana,” ujar Hanif saat diwawancarai.

Iklan Souvenir DETaK

Aksi ini diikuti oleh seluruh elemen lembaga di lingkungan USK, di antaranya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Keperawatan (FKEP), Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP), serta lembaga pers mahasiswa seperti Perspektif FEB, Hahoe (Haba Aneuk Hukom), dll. 

Meski mengizinkan massa aksi untuk menyuarakan berbagai isu daerah secara bebas, Hanif menegaskan bahwa tuntutan utama hari ini difokuskan pada isu rehab-rekon pasca-bencana yang dinilai belum optimal.

Hanif juga melayangkan kritik tajam terkait mandirinya masyarakat dalam membangun infrastruktur akibat minimnya kehadiran negara. Ia mencontohkan kasus di mana warga harus patungan hingga miliaran rupiah demi fasilitas publik.
“Kita lihat masyarakat iuran duit sampai Rp1 miliar untuk membangun Jembatan Enang-Enang. Tentunya pemerintah harus malu, kenapa harus masyarakat yang buat jembatan?” tegas Hanif.

Suasana aksi semakin riuh ketika salah seorang orator memimpin doa duka cita bernada satir.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, telah berpulang ke rahmatullah Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) yang telah buta dan tuli dalam melihat kondisi masyarakat Aceh,” ucapnya lantang, yang kemudian diikuti oleh massa mahasiswa lainnya.

Melalui aksi ini, BEM USK mendesak seluruh pemangku kepentingan di Aceh untuk membuka mata bahwa kondisi Bumi Serambi Mekkah belum sepenuhnya pulih. Perhatian khusus sangat dibutuhkan oleh masyarakat di luar pusat kota, seperti di Kabupaten Pidie, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang.

“Besar harapan kepada seluruh pemangku kepentingan yang ada di Aceh, mohon sama-sama kita melihat bahwa Aceh ini belum pulih, belum baik-baik saja. Kepada pemerintah, tolong yuk mari sama-sama kita turun dan bereskan semua pasca-bencana ini. Buktikan bahwa pemerintah memang hadir di tengah-tengah masyarakat,” ungkapnya. []

Editor: Naisya Alina