Beranda Headline Usung Gagasan AQUA-SENSE, Tim Mahasiswa USK Raih Dua Penghargaan di Kancah Internasional

Usung Gagasan AQUA-SENSE, Tim Mahasiswa USK Raih Dua Penghargaan di Kancah Internasional

BERBAGI
Foto bersama tim mahasiswa USK setelah raih dua penghargaan di kancah internasional. 31/5/2026 (Dok. Pribadi)

Zahra Zakya Attamy & Kamilina Junita Damanik | DETaK

Darussalam-Tim Farmasi FMIPA Universitas Syiah Kuala (USK) meraih Bronze Medal dan Favorite Poster Award pada ajang 5th International Youth Summit: International Essay Innovation Competition yang diselenggarakan oleh Sentosa Foundation di Universiti Putra Malaysia (UPM) pada 30-31 Mei 2026.

Tim Farmasi FMIPA USK terdiri atas Muhammad Aljawady, Meutia Markhalida, Rahel Tri Ardiani, Niswatul Luthfiati, dan Muhammad Hafidul Sulthan. Kompetisi ini diikuti oleh peserta dari berbagai negara, seperti Indonesia, Djibouti, Malaysia, Thailand, dan Maroko.

Iklan Souvenir DETaK

Dalam kompetisi tersebut, tim mengusung gagasan AQUA-SENSE, sebuah sistem peringatan dini banjir berbasis Internet of Things (IoT) yang mengintegrasikan sensor ketinggian air, curah hujan, kelembapan tanah, dan kecepatan aliran sungai. Data yang diperoleh dari sensor dikirim menggunakan jaringan LoRaWAN (Long Range Wide Area Network) sehingga sistem tetap dapat beroperasi di daerah dengan keterbatasan sinyal internet. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memprediksi potensi banjir hingga enam jam sebelum kejadian. Sistem ini kemudian memberikan peringatan secara bertingkat melalui SMS, sirene, serta notifikasi kepada BPBD dan pemerintah desa.

Rahel Tri Ardiani, salah seorang anggota tim, menjelaskan bahwa ide utama pengembangan AQUA-SENSE lahir dari keprihatinan terhadap bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pengalaman menyaksikan secara langsung dampak banjir mendorong tim untuk mengembangkan sistem peringatan dini berbasis IoT yang mampu memberikan informasi secara real-time dengan biaya yang lebih terjangkau.

“Dari situlah kami terdorong untuk mengembangkan AQUA-SENSE, sebuah sistem peringatan dini banjir berbasis IoT yang mampu memberikan informasi secara real-time sebelum banjir terjadi. Kami ingin teknologi yang sudah ada dapat dibuat lebih terjangkau sehingga bisa dimanfaatkan oleh lebih banyak daerah yang rawan banjir,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam mengembangkan inovasi tersebut adalah memastikan sistem tetap memiliki biaya yang terjangkau sekaligus dapat dioperasikan di daerah dengan keterbatasan jaringan internet. Menurutnya, hal tersebut menjadi aspek penting agar inovasi ini benar-benar realistis untuk diterapkan di negara berkembang.

“Tantangan terbesar kami adalah merancang inovasi yang tidak hanya menarik secara teknologi, tetapi juga realistis untuk diterapkan di negara berkembang. Kami harus memastikan sistem ini memiliki biaya yang terjangkau, dapat digunakan di daerah tanpa jaringan internet yang stabil, dan tetap mudah dioperasikan oleh masyarakat,” ucapnya.

Lebih lanjut, Rahel menitipkan pesan kepada seluruh mahasiswa USK bahwa keterbatasan sumber daya bukanlah alasan untuk mengecilkan sebuah ide. Menurutnya, inovasi besar justru sering kali berawal dari kepekaan terhadap persoalan yang ada di sekitar.

“Solusi paling inovatif sering kali lahir dari pemahaman mendalam terhadap tantangan di sekitar kita. Kuncinya adalah kolaborasi dan keberanian untuk memulai,” pesannya. []

Editor: Zalifa Naiwa Belleil