Beranda Siaran Pers GAME ONLINE: PENYELAMAT ATAU PENGHANCUR MOTIVASI BELAJAR ANAK SD?

GAME ONLINE: PENYELAMAT ATAU PENGHANCUR MOTIVASI BELAJAR ANAK SD?

BERBAGI
(Doc.ist)

Siaran Pers

Di zaman ini, kita pasti sering melihat anak SD yang berumur 5–12 tahun sudah mengenal, bahkan sangat mahir menggunakan handphone, khususnya untuk bermain game online. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, anak usia 0–18 tahun menguasai pasar game online dengan persentase 46,2%. Tidak heran karena mereka tumbuh di zaman ketika teknologi sudah berkembang pesat, di mana handphone tidak bisa jauh dari kehidupan sehari-hari dan game sudah menjadi kebiasaan mereka. Namun, yang perlu kita ketahui adalah apa pengaruh game online terhadap motivasi anak-anak dalam belajar. Apakah dapat memberi pengaruh atau dorongan yang baik, atau malah membuat anak-anak malas belajar? Begini kira-kira jawabannya dari perspektif psikologi.

Asah Skill Kognitif

Iklan Souvenir DETaK

Game online dapat melatih kemampuan seperti problem solving. Anak dituntut untuk mencari cara keluar dari masalah yang diberikan di dalam game. Selain itu, kemampuan decision making juga terlatih, karena anak harus mengambil keputusan tentang apa yang harus dilakukan untuk keluar dari masalah yang mereka hadapi. Bahkan, anak dapat belajar Bahasa Inggris dari game yang mereka mainkan. Kebanyakan, bahkan hampir semua game online menggunakan Bahasa Inggris, sehingga anak secara sengaja atau tidak sengaja mengingat kosakata yang terdapat di dalam game yang mereka mainkan.


Penerapan Reinforcement Positive

Berdasarkan teori dari B. F. Skinner, terdapat konsep reinforcement positive, yaitu game dapat digunakan sebagai hadiah untuk mendorong keinginan anak untuk belajar. Misalnya, anak diberi kesempatan untuk bermain selama 15 menit dengan syarat wajib belajar terlebih dahulu selama dua jam, atau dapat bermain game selama 30 menit apabila sudah menyelesaikan PR-nya. Dengan begitu, anak akan termotivasi untuk lebih sering belajar dan menyelesaikan PR lebih awal.

Walaupun begitu, metode pemberian hadiah tersebut tidak dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Ada kondisi yang disebut reinforcement saturation, yaitu kondisi ketika anak mulai bosan dengan hadiah yang diberikan. Akibatnya, anak yang sebelumnya menganggap game sebagai hadiah setelah melakukan kewajibannya untuk belajar dan mengerjakan PR berubah menjadikan game sebagai motivasi utama mereka. Dari yang awalnya berpikir, “Aku belajar biar dibolehin main game,” berubah menjadi, “Kalau aku mau dibolehin main game, aku harus belajar.” Akibatnya, anak hanya rajin belajar saat ia ingin bermain game, bukan belajar karena keinginan untuk memahami pelajaran.

Mengatasi Reinforcement Saturation

Lalu, bagaimana solusi untuk mengatasi reinforcement saturation tersebut? Caranya, hadiah yang diberikan perlu dirotasi sesekali agar tidak selalu berupa game. Misalnya, hari Senin dan Selasa hadiahnya adalah bermain game, sedangkan pada hari berikutnya hadiah dapat diganti dengan makanan atau minuman favorit anak.

Bisa juga dengan menerapkan sistem poin. Setiap kali anak mengerjakan tugas matematika, ia mendapatkan tiga poin. Setiap 15 poin yang dikumpulkan dapat ditukarkan dengan hadiah yang dapat dipilih sendiri oleh anak. Dengan begitu, reinforcement saturation dapat dihindari.

Game = Awal Kehancuran

Namun, jika anak bermain game online secara berlebihan, bahkan sampai kecanduan, dampak buruk yang didapat akan sangat besar. Otak anak akan mendapatkan dopamine (hormon kebahagiaan) setiap kali ia memenangkan game yang dimainkan, sehingga anak menjadi sangat sulit untuk berhenti bermain.

Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya? Pada malam hari anak akan lebih memilih bermain game daripada tidur, sehingga pada pagi harinya ia akan mengantuk ketika berada di kelas dan tidak dapat menerima pelajaran dengan baik. Setelah pulang sekolah, ia lebih memilih mengambil kembali handphone-nya untuk bermain game daripada mengambil bukunya untuk mengerjakan PR. Siklus tersebut terus-menerus berulang.

Kemudian perlahan-lahan pola pikir anak akan berubah. Anak mulai berpikir bahwa belajar itu sulit dan hasil yang diperoleh membutuhkan proses yang lama. Akibatnya, ia tidak lagi tertarik menyentuh buku dan lebih menyukai kesenangan serta hasil instan yang diberikan oleh game.

Jadi, apakah game online itu baik dalam mendorong keinginan anak untuk belajar atau justru membuat anak menjauh dari buku? Game dapat menjadi pembantu ataupun penghancur dalam mendorong motivasi belajar anak, tergantung pada cara penggunaannya. Jika digunakan secara bijak, game dapat membantu meningkatkan motivasi belajar anak sekaligus melatih berbagai keterampilan. Namun, game dapat menjadi sumber masalah apabila digunakan secara berlebihan dan menyebabkan anak semakin enggan menyentuh buku. Kuncinya adalah pendampingan oleh orang tua ataupun guru dalam membatasi durasi penggunaan oleh anak. Teknologi hanyalah alat; cara kita menggunakannya yang menentukan segalanya.

Sumber:

McLeod, S. (2025). Operant conditioning. https:/www.sumplypsychology.org/operant-conditioning.html

Simply Psychology. Sucipto. (2024, Juni 8). BPS cata anak usia 0-8 tahun mendominais pasar game online. SINDOnews. https:/nasional.sindonews.com/.

Tim Gamelab Indonesia. (2023, Januari, 18). Benarkah bermain game membuat lebih pintar? Ini hasil penelitiannya. Gamelamb Inonesia. https:/www.gamelab.id/…

Penulis bernama Yutaka Aulia Nasrul, Mahasiswa Program studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Sara Salsabila