
Siaran Pers | DETaK
Banda Aceh – Dampak pandemi selama dua tahun belakangan ini mempengaruhi proses pembelajaran dan mobilitas bagi anak dan remaja yang tinggal di panti asuhan. Sebagaimana yang teramati dari hasil observasi tim pada salah satu panti asuhan di Kota Banda Aceh yang mempengaruhi perkembangan diri mereka. Panti Asuhan Media Kasih Kota Banda Aceh yang dimaksud menampung 45 anak menempuh pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan, diperoleh bahwa konteks pendidikan dan sosial kerap membuat anak-anak panti asuhan kesulitan dalam meningkatkan konsep diri, khususnya permasalahan kepercayaan diri. Anak dan remaja panti asuhan memiliki beberapa aktivitas kelompok yang rutin dilakukan pada waktu tertentu, namun sangat minim untuk aktif tampil di depan kelompok pada aktivitas yang dilakukan tersebut. Kemudian pengurus juga mengungkapkan terdapat minimnya pengetahuan dan penanaman nilai budaya daerah.

Pada pelaksanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Tahun 2022 dalam tahap pendanaan, diangkatlah permasalahan pengembangan kepercayaan diri anak panti asuhan dengan adaptasi nilai budaya daerah pada anak dan remaja. Masa perkembangan remaja sangat penting karena akan menentukan konsep diri seseorang. Menurut Hurlock (1991) periode remaja adalah salah satu periode perkembangan individu dalam masa mencapai kematangan mental, emosional, sosial, fisik dan pola peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa.
Mengenai rumusan masalah tersebut, tim PKM-PM Catoe Rimueng yang beranggotakan empat orang dengan berbagai program studi di Universitas Syiah Kuala menawarkan solusi untuk mengembangkan kepercayaan diri remaja melalui permainan tradisional catoe rimueng dengan media anak melakukan seni bertutur di Panti Asuhan Media Kasih Kota Banda Aceh. Setelah melakukan seleksi pendanaan pada proposal yang diunggah, tim PKM-PM Catoe Rimueng mendapat kesempatan baik untuk melaksanaan program yang disusun selama empat bulan sejak Juni hingga September 2022. Turut juga dilaksanakan tahap presentasi sebelum final dalam kegiatan PIMNAS sebagai acara final dari rangkaian pelaksanaan PKM tahun 2022.
Tim memodifikasi media permainan catoe rimueng menjadi satu spanduk berukuran 3 x 5 meter dengan pola catoe rimueng yang sama seperti ketentuan aslinya, hal ini dimaksudkan agar bisa dimainkan oleh 17 anak sekaligus. Sebelum permainan dimulai, tim membagi tugas untuk melakukan pendataan sebagai bahan evaluasi kemajuan program dengan membagikan lembar pre-test kepercayaan diri dan melakukan observasi narasi. Catoe rimueng memiliki 1 harimau dan 17 kambing, dalam program ini yang menjadi harimau adalah salah satu anggota tim yaitu Muhammad Alif Naufal yang bertugas menangkap 17 anak di titik yang sudah ada. Setiap urutan anak yang berhasil ditangkap akan menjadi giliran untuk melakukan seni bertutur.
Dalam tahapan seni bertutur, setiap anak diberikan buku untuk membacakan cerita rakyat yang dikemas ulang oleh tim dari buku “Cerita Rakyat Aceh” yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Tahuan 1980-an. Setelah melakukan seni bertutur, anak diminta untuk mengisi lembar post-test seperti sebelum pelaksanaan. Kegiatan ini dilakukan selama dua hari yaitu tanggal 5 dan 6 Juli 2022 dengan total 33 anak panti asuhan sebagai peserta.
Pelaksanaan program dinilai berhasil oleh tim karena berdasarkan hasil observasi narasi, setiap anak yang mengikuti permainan catoe rimueng sangat antusias hingga menyelesaikan tahap seni bertutur, padahal sebelum permainan dimulai masih banyak anak yang menundukkan kepalanya dan tidak berani untuk berbicara. Hal ini juga didukung dengan perbedaan hasil diagram lingkaran melalui data perubahan perilaku sebelum dan sesudah pelaksanaan dengan sistem kepercayaan diri milik Lautser.
“Setelah kegiatan ini berlangsung, terlihat beberapa perubahan dari anak-anak seperti mereka sudah lebih percaya diri, berani dan mandiri dalam bertindak serta dapat bekerja sama di sebuah tim. Kemudian, mereka juga sudah mulai percaya diri untuk berbicara dan tampil di depan, ya walaupun mungkin ada perubahan yang belum terlihat dalam waktu singkat ini. Akan tetapi, jika permainan ini terus dilakukan mungkin akan ada perubahan lainnya,” tutur Niar selaku pengurus panti asuhan.
Niar mengaku turut senang para Tim PKM PM dapat mengenalkan literasi budaya kepada anak-anak panti dengan cara mengajarkan permainan catoe rimueng.
“Saya sangat senang karena anak-anak dikenalkan dengan permainan tradisional yaitu catoe rimueng yang saya sendiri juga belum mengenal permainan ini sebelumnya. Anak-anak juga dapat menambah pengetahuan mengenai literasi budaya,” imbuh Niar.
Dengan adanya program ini, tim sangat berharap ke depannya banyak anak yang terus percaya diri baik di lingkungan rumah hingga di sekolah. Keberlanjutan program juga menjadi salah satu kunci kesuksesan pelaksanaan PKM PM di Panti Asuhan Media Kasih Kota Banda Aceh. Selain itu, program ini dinilai menjadi gerakan pendukung SDGs bidang pendidikan berkualitas.[]
Editor: Della Novia Sandra









