Resensi | DETaK
Judul: The Kite Runner
Penulis: Khaled Hosseini
Penerbit: Mizan
Tahun Terbit: 2022
Penerjemah: Berlian M. Nugrahi
Tebal Buku: 492 halaman
Ukuran: 13 cm × 21 cm
Tentang Penulis
Khaled Hosseini lahir pada 4 Maret 1965 di Kabul, Afghanistan. Ayahnya seorang diplomat dan ibunya guru bahasa Farsi. Pada 1976 keluarganya pindah ke Paris karena tugas sang ayah. Setelah Uni Soviet menginvasi Afghanistan, keluarganya tidak kembali dan mendapat suaka politik di Amerika Serikat pada 1980, lalu menetap di San Jose, California. Hosseini menempuh pendidikan biologi di Santa Clara University (lulus 1988) dan kedokteran di University of California, San Diego (lulus 1993). Ia berprofesi sebagai dokter penyakit dalam sebelum menjadi penulis penuh waktu.

The Kite Runner adalah novel pertamanya dan berhasil meraih New York Times Best Seller selama lebih dari dua tahun. Bukan hanya itu, novel ini sudah terjual jutaan eksemplar di seluruh dunia dan meraih berbagai penghargaan bergengsi. Adaptasi filmnya (2007) juga masuk nominasi Golden Globe untuk Film Berbahasa Asing Terbaik. Novel-novel berikutnya dari Hosseini adalah A Thousand Splendid Suns (2007) dan And the Mountains Echoed (2013).
Sinopsis Novel
The Kite Runner mengisahkan tentang Amir, anak dari keluarga kaya di Kabul, Afghanistan, yang memiliki sahabat setia, Hasan, anak dari pelayan keluarganya. Sudah bersama sejak kecil, hubungan mereka tumbuh erat. Namun, Amir memilih mengkhianati Hasan saat suatu peristiwa kelam terjadi. Sikap Amir ini menimbulkan rasa bersalah dan malu bagi dirinya sendiri. Bermula dari sini, ia mulai menjauh dari Hasan.
Ketika api perang Soviet membakar tanah kelahirannya, Amir dan ayahnya meninggalkan Kabul dengan hati yang tercerabut, lalu berlabuh di Amerika Serikat. Di negeri asing itu, Amir menata hidup baru dan menekuni mimpinya menjadi penulis. Namun, masa lalu bagai bayang-bayang yang setia membuntuti, tak pernah benar-benar bisa ditinggalkan. Hingga suatu hari, kabar tentang Hasan, sahabat lamanya, menyentuh kembali luka yang lama terpendam. Amir pun memutuskan untuk pulang ke Afghanistan yang kini dicengkeram Taliban, sebuah perjalanan untuk menebus dosa yang telah lama menghantuinya. Perjalanan yang membawanya pada rahasia yang tak pernah disangka-sangka.
Kelebihan dan Kekurangan
Novel ini menghadirkan narasi yang berhasil menyentuh hati. Gaya penulisannya sederhana, tetapi perasaan yang digambarkan sungguh emosional. Penulis juga cermat memilih layang-layang sebagai simbol dari persahabatan Amir dan Hasan. Permainan sederhana ini melambangkan masa kecil yang polos, serta kebebasan, sekaligus menjadi awal dari luka dan rasa bersalah yang menghantui Amir. Karena permainan ini dikenal di banyak negara, pembaca dari latar budaya mana pun mudah merasa dekat dengan kisahnya.
Pengambaran sejarah Afghanistan dan budayanya disajikan lewat kisah personal sehingga terasa dekat dan. Hal tersebut memudahkan pembaca memahami latar sosial dan politik yang memengaruhi karakter tokoh. Kutipan-kutipan dalam buku ini juga sangat indah dan bermakna. Kekurangan novel ini terasa pada alur cerita yang lambat. Bagian latar belakang dan kisah masa kecil Amir dibahas cukup panjang sehingga alur sempat berlarut-larut sebelum konflik utama bergerak kembali.
Penulis bernama Syakira Azzahra, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Husniyyati










