Beranda Headline Kelompok NARASA Gelar Kampanye “Speak Up, Stand Tall” di SMAN 11 Banda...

Kelompok NARASA Gelar Kampanye “Speak Up, Stand Tall” di SMAN 11 Banda Aceh

BERBAGI
Foto bersama setelah selesai melakukan kampanye dan penyampaian materi. 24/10/2026 (Dok. Pribadi)

Nuzulia Rahmi | DETaK

Darussalam-Kelompok NARASA menggelar kampanye sosial bertajuk “Speak Up, Stand Tall: Sekolah Aman Tanpa Perundungan” di SMAN 11 Banda Aceh, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa terhadap bahaya perundungan atau bullying di lingkungan sekolah. Program ini menyasar siswa kelas X SMAN 11 Banda Aceh, khususnya remaja berusia 15–16 tahun, dengan tujuan mendorong keberanian siswa untuk bersuara, membantu korban, dan melaporkan tindakan perundungan.

Kampanye ini dilatarbelakangi oleh persoalan perundungan yang dapat terjadi dalam berbagai bentuk, mulai dari tindakan fisik, perkataan yang menyakiti, hingga perundungan melalui media digital atau cyberbullying. Dalam perencanaan programnya, Kelompok NARASA menyoroti rendahnya keberanian korban untuk melapor karena takut mendapat pembalasan, merasa malu, atau khawatir tidak mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya.

Iklan Souvenir DETaK

Selain korban, sikap siswa yang menyaksikan perundungan juga menjadi perhatian. Siswa yang melihat kejadian tersebut terkadang memilih diam, menertawakan korban, atau menganggap tindakan itu sebagai candaan biasa. Padahal, perilaku tersebut dapat membuat korban merasa tertekan dan menyebabkan perundungan terus berulang.

Salah seorang siswa bernama Syifa, mengatakan bahwa perundungan terkadang dianggap sebagai candaan oleh pelakunya. “Menurut saya, kadang ada orang yang menganggap mengejek teman itu cuma bercanda. Padahal, kita tidak tahu bagaimana perasaan teman yang diejek. Bisa saja dia sakit hati, tetapi memilih diam,” ujarnya.

Melalui kampanye ini, Kelompok NARASA ingin mengajak siswa memahami perbedaan antara bercanda dan merundung. Candaan yang menyakiti, mempermalukan, atau membuat seseorang merasa tertekan perlu mendapat perhatian dan tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar.

Siswa diharapkan lebih peka terhadap perasaan orang lain serta mampu membangun hubungan pertemanan yang sehat. Pemilihan siswa kelas X sebagai sasaran program didasarkan pada pertimbangan bahwa mereka sedang berada dalam masa peralihan dari sekolah menengah pertama ke sekolah menengah atas. Pada usia tersebut, siswa masih menyesuaikan diri dengan lingkungan pertemanan dan membentuk pola perilaku sosial. Oleh karena itu, penanaman sikap saling menghargai sejak awal diharapkan dapat membantu menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.

Dalam perencanaan kegiatannya, Kelompok NARASA menyiapkan beberapa media komunikasi untuk menyampaikan pesan anti-perundungan. Salah satunya adalah video edukasi pendek berjudul “Batas Nyata” dengan durasi sekitar satu hingga dua menit. Video tersebut dirancang menggunakan pendekatan storytelling yang menggambarkan dampak perundungan terhadap korban, penyesalan pelaku, serta pentingnya menghentikan perilaku yang menyakiti orang lain.

Video tersebut juga dirancang menggunakan pendekatan emosional untuk membantu penonton memahami dampak psikologis yang dapat dialami korban. Pada bagian akhir, video akan menyampaikan langkah yang dapat dilakukan ketika melihat perundungan, yaitu menghentikan tindakan jika aman dilakukan, membantu korban, dan melaporkannya kepada pihak yang tepat. Selain video, kampanye ini juga merancang poster digital dan infografis yang berisi informasi mengenai perundungan serta ajakan untuk berani bersuara. Media tersebut direncanakan untuk disebarkan melalui saluran komunikasi sekolah dan media sosial agar pesan kampanye dapat menjangkau lebih banyak siswa.

Kelompok NARASA turut merancang penggunaan speak box atau kotak penyampaian pesan sebagai sarana bagi siswa untuk mengungkapkan perasaan dan melaporkan perundungan. Terdapat dua jenis kotak yang direncanakan, yaitu kotak curhatan umum untuk menampung keluhan siswa mengenai interaksi antarteman dan kotak pengaduan perundungan untuk menerima laporan dari siswa yang mengalami atau menyaksikan tindakan tersebut. Pengaduan yang masuk melalui kotak tersebut direncanakan untuk ditindaklanjuti bersama guru Bimbingan Konseling (BK). Penggunaan speak box diharapkan dapat membantu siswa yang belum berani menyampaikan masalah secara langsung, dengan tetap memperhatikan kerahasiaan dan keamanan pelapor.

Menanggapi penggunaan media pengaduan tersebut, Risky Nafla selaku siswa menilai bahwa speak box dapat menjadi alternatif bagi siswa yang belum berani melapor secara langsung. “Menurut saya, speak box bisa membantu teman-teman yang takut untuk melapor langsung. Jadi, mereka punya cara lain untuk menyampaikan masalah dan bisa mendapatkan bantuan dari guru,” ungkap Nafla.

Dalam menyampaikan pesan kampanye, Kelompok NARASA menggunakan Elaboration Likelihood Theory (ELT) yang dikembangkan Richard E. Petty dan John T. Cacioppo pada 1986. Teori ini menjelaskan dua jalur pemrosesan pesan persuasif, yaitu jalur sentral dan jalur periferal. Jalur periferal direncanakan melalui penggunaan media visual yang menarik, seperti poster, slogan “Speak Up, Stand Tall”, dan video pendek. Pendekatan ini bertujuan menarik perhatian siswa agar tertarik terhadap pesan yang disampaikan. Sementara itu, jalur sentral diterapkan melalui seminar mini bertema “Bercanda atau Bullying?”, diskusi kelompok, dan pembahasan studi kasus untuk membantu siswa memahami dampak perundungan serta cara menghadapinya.

Kampanye ini juga menekankan pentingnya keterlibatan siswa sebagai saksi. Siswa diharapkan tidak hanya diam atau mengabaikan korban, tetapi juga memberikan dukungan, membantu menyampaikan laporan, atau meminta bantuan guru ketika situasi tidak memungkinkan untuk ditangani sendiri. Hal ini juga disampaikan Raisa yang mengajak siswa untuk berani membantu teman yang mengalami perundungan.

“Kalau melihat teman di-bully, sebaiknya kita jangan ikut menertawakan. Kita bisa menemani korban dan membantu melapor kepada guru supaya masalahnya tidak terus berlanjut,” kata Raisa.

Melalui kampanye “Speak Up, Stand Tall: Sekolah Aman Tanpa Perundungan”, Kelompok NARASA menargetkan perubahan perilaku siswa dari pasif dan acuh tak acuh menjadi lebih aktif serta peduli terhadap lingkungan sosialnya. Program ini dirancang untuk menanamkan nilai empati, keberanian, keadilan, dan tanggung jawab sosial agar siswa dapat ikut berperan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.[]

Editor: Zalifa Naiwa Belleil