Beranda Puisi Jendela Senja di Langit Tujuh

Jendela Senja di Langit Tujuh

BERBAGI
Grafis. (Jamalidiana [AM]/DETaK)

Puisi | DETaK

Di balik Bukit Kapur, desaku terhampar sunyi
Jalan setapak hafal lenguh langkah petani
Kini kakiku pijak beton, langit kawat besi
Mengeja janji di gedung tinggi, tempat mimpi bersemi

Bukan ladang yang kuolah, bukan pula jala kutebar
Namun buku-buku tebal, peta-peta ilmu yang menyebar
Setiap subuh dingin, dari kamar kontrakan sempit
Kutengok pulang, di sana harap keluarga tersemat

Iklan Souvenir DETaK

Kota ini riuh, tapi kesunyianku paling bising
Orang-orang asing, bicara dalam aksen yang asing
Kutahan rindu aroma kayu bakar dan hujan yang lebat
Demi selembar ijazah, bekal kembali ke tempat asal dan bermanfaat

Uang kiriman menipis, perhitungan menjadi pilu
Malam-malam kuisi dengan kerja sambilan, waktu tercuri lalu
Kadang air mata jatuh di atas diktat yang berdebu
Mengingat pesan Bapak: “Nak, pendidikan adalah panenmu.”

Aku bukan penyerah, meski cahaya terasa jauh
Akan kupanggul ilmu ini, menjadi jembatan bagi kampung yang rapuh
Sebab di setiap lembar catatanku, ada harapan yang ikut terukir
Bahwa anak desa ini akan pulang membawa pelita, bukan sekadar getir.

Penulis bernama Jamalidiana Mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala.

Editor : Rimaya Romaito Br Siagian