Cerpen | DETaK
Pecahan botol hampir saja mengenai Renal, seorang laki-laki yang tengah bersantai dengan segelas kopi. Sedikit terkejut, ia memalingkan wajahnya ke gadis masam yang berdiri di depannya.
“kamu siapa?” Renal tersentak, lalu berdiri “Apa maksudnya ini?”

“Aku mau bunuh kamu” gadis itu menatapnya tajam. Perlahan sayu, bagai bendungan luka yang terpenjara, tatkala tak kuasa menahan, kini air mata lepas dari kelopak matanya, deras kian membasahi wajahnya “Aku akan bunuh kamu, Ren” ucapnya lagi.
Renal terkejut ketika gadis itu mendekatinya, tangan kanannya mengenggam pecahan botol dan mengarah tajam ke depan mata Renal. “Tunggu” Renal melangkah mundur, sedikit menjauh dari gadis itu, “Aku tidak paham kenapa kamu ingin membunuhku”
Gadis itu tak hirau, dengan wajah penuh marah ia tetap melangkah maju, “KAMU PENDUSTA!” murkanya “KENAPA KAMU LAKUKAN ITU PADAKU”
Renal semakin dibuat bingung, “Maaf, Aku bahkan tidak kenal kamu” Mundur dan terus mundur, hanya itu yang ia lakukan sekarang “mungkin kamu salah orang”.
“Aku tidak salah orang” gadis itu menarik nafas, mencoba mengontrol diri “Namamu Renal, tinggi 173 cm, umur 22 tahun, dan warna kesukaanmu adalah hitam, makanan favoritmu Mie Ayam”.
Renal tertegun tapi masih dalam bingung, “Aku benar-benar tidak mengenalmu”.
“BOHONG!” Gadis itu murka lagi “KAMU PEMBOHONG”
Renal menjadi panik, baru saja gadis itu menyerangnya, jika saja ia tak pandai mengindar sudah pasti jantungnya berhenti bekerja karena tertusuk kaca. Renal mencoba menghentikan gadis itu namun ia tak mampu berlaku kasar pada perempuan “Tolong berhenti dulu, kita bicarakan ini baik-baik”.
Entah cahaya kebenaran apa yang didapatkan oleh gadis itu sehingga ia menjatuhkan kaca di tangannya ke lantai, tapi ia menangis, sedikit meraung “Aku membencimu Ren, aku membencimu, Kenapa tuhan pertemukan kita, kenapa kamu berlagak seperti pahlawan jika ujung-ujungnya kamu pergi meninggalkanku”.
Renal masih tidak paham, namun ia tak tega melihat seorang perempuan menangis di hadapannya. Pelan-pelan ia bergerak mendekati gadis itu, lalu membuatnya tenang.
“Jika aku memang pernah menyakitimu, aku minta maaf” ucapnya “Tapi sebelum itu, tolong jelaskan apa sebenarnya yang terjadi, aku sama sekali tidak mengenalmu”.
Gadis itu mengangkat wajahnya menatap Renal, Meski mulai sedikit tenang namun ia masih menyimpan luka dan benci dalam dirinya, “Aku Leila!” ucapnya pelan “yang pernah kamu selamatkan hidupnya”.
_
Leila Sabrina, gadis pengidap anxiety dan sirosis hati selalu merasa ingin mengakhiri hidupnya, ia baru saja putus asa dan berniat akan bunuh diri dengan melompat dari rooftop rumah sakit. Namun saat ia akan melompat, seseorang menariknya dari belakang.
“Jangan ikut campur masalahku, harusnya biarkan saja aku mati” Leila marah dan menampar wajah orang asing tersebut “Kamu tidak akan paham karena kamu bukan aku” Ia menangis dan menutup wajahnya. Meskipun sempat marah tapi Leila tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
“Aku Renal,” ucap orang asing tersebut “panggil saja Ren, mungkin kita bisa menjadi teman”.
Leila menjawab acuh “Aku ga butuh teman”
“Barangkali kamu butuh seseorang untuk berbagi cerita” Renal membujuknya pelan.
Meski perasaannya masih tidak baik, pada akhirnya Leila menyebutkan namanya, “Leila” ucapnya masam, “Itu namaku”.
Renal kemudian memberikannya minum dan mengajaknya duduk.
“Aku paling tidak suka melihat orang bunuh diri” ucap Renal “Di luar sana, banyak orang yang ingin hidup dan berjuang untuk tetap hidup, bahkan ada yang berjuang melawan penyakitnya demi bisa hidup lebih lama” Renal melirik Leila yang tengah menunduk “Dan kenapa kamu malah ingin membuang hidupmu ini, Nona?”
“Aku capek” Jawabnya singkat “Setiap saat aku menangisi penyakitku, aku ingin ini segera berakhir…..”
_
Pertemuan itu menjadi awal dimana pertemanan keduanya dimulai, pertemuan yang telah menjadikan mereka semakin dekat hingga akhirnya Leila merasa nyaman dengannya, gadis itu merasa jika Renal adalah rumahnya saat ini. Renal orang yang sangat baik, kepribadiannya yang lemah lembut membuat Leila jatuh hati padanya. Leila ingin hidup lebih lama, ia ingin sembuh dari penyakitnya, tekadnya untuk sembuh kini semakin kuat, Leila mulai memberanikan diri untuk melakukan operasi donor hati, meski rasa takut terus menyerangnya tapi dukungan dari orang-orang tersayang berhasil membuatnya melawan rasa takut itu.
Operasi yang harus ia lalui berlangsung selama tiga jam, dan Leila telah berhasil mengalahkan penyakitnya. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung begitu lama, beberapa bulan berlalu, hidupnya kembali berantakan, Leila merasakan tusukan yang berkali-kali lipat lebih sakit. Renal pergi meninggalkannya lewat sebuah surat.
Leila,
Maafkan Aku, Aku harus pergi.
(Mungkin) Aku tidak akan pernah kembali lagi.
Kita tidak akan pernah bertemu lagi
Ada alasan yang tidak bisa Aku jelaskan, biarkan waktu yang akan menjelaskannya.
Aku pergi bukan karena aku tidak mencintaimu
Aku pergi karena aku mencintaimu
Lupakanlah aku, begitu pun diriku.
Leila histeris, gadis itu mengacak-acak tempat tidurnya, melempar bantal dan melempar semua barang-barang di kamarnya. Salah satu penopang hidupnya telah pergi, rumahnya telah hilang, lalu kemana lagi ia akan bersandar?
Kepalanya mulai berisik, anxiety menyerang, Leila tertunduk lemas di atas kasur.
Hari ketiga kepergian Renal pun telah berlalu, namun Leila masih saja mengurung diri di kamar. Gadis itu terbujur kaku, ia masih menangisi kepergian Renal “Tolong bawa aku kembali ke masa lalu, aku bersumpah akan membunuhnya, aku akan membunuhnya sebelum pertemuan kami”.
Leila tak henti menangis, kadang marah, mendendam, kadang juga ia merasa rindu. Tubuhnya yang kini semakin melemah tak mampu lagi untuk bertahan kuat, pertahanannya roboh dan ia pun tersungkur di atas lantai.
Usai bercerita panjang, Leila kembali mengucapkan keinginan itu. “Aku meminta kepada tuhan untuk kembali ke masa lalu, aku bersumpah akan membunuhnya sebelum kami bertemu” ucapnya “Aku sengaja datang sepagi ini untuk mencegah pertemuan kita di jam dua belas nanti”
Renal masih terdiam kaku.
“Aku benci kamu Ren, kamu meninggalkanku begitu saja, aku tidak menyangka kamu sejahat itu”.
Leila memperhatikan ekspresi Renal yang tak kunjung berubah “Tapi aku tidak bisa membunuhmu, Aku mencintaimu, aku akan mengubah semuanya, Aku tidak akan membiarkanmu pergi, dan kamu juga tidak akan meninggalkanku lagi kan?”
Renal dapat melihat rasa frustasi di wajah Leila, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk mereka.
“Kamu tidak bisa mengubah takdir Leila, tidak ada seorangpun yang bisa mengubah kematian seseorang” Renal menatapnya pilu “Kamu bertemu laki-laki yang sisa hidupnya tinggal satu tahun lagi, dan sekarang waktuku hanya tinggal enam bulan lagi”
Leila mematung, bagai pisau yang menusuk jantung, perih, ia tak mampu membendung air matanya.
“Kita bertemu di rooftop rumah sakit dengan kondisi yang sama-sama putus asa, dan saat itu kita juga memiliki pikiran yang sama…”
“Maafkan Aku, Leila”.
Leila terbangun.
Esok hari ia tiba di pemakaman kekasihnya.
Penulis adalah Alya Anjadelisya Hasibuan, Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Nasywa Nayyara Tsany










