Puisi | DETaK
Di kedai kopi
Kita duduk saling berhadapan
Di antara kita mengambang 22 juta perut yang kerontang
Aku sibuk membaris kata
Namun napas lisongmu lagi-lagi menghamburkan semua

75 tahun merdeka
Tapi kopi kita tak kunjung teduh
Di asapnya melayang nasib anak-anak yang putus sekolah
Dan tangis paman-bibi yang kehilangan tanah
Di dasar kopi
Munir dan Widji Thukul menjadi ampas
Mengendap menunggu basi
Kini kita kian mulai terbiasa
Berdebat dengan gelas kopi
Kemudian memecahnya
Lalu menancapkan belingnya ke diri sendiri
Dan pada akhirnya
Kita memesan lagi
(Tak lama kopi baru datang
Yang ini dari biji korona
Didiang di gedung KPK
Pekat rasanya
Bertunas-tunas asapnya
Diembus-embus angin reshuffle)
Kita masih duduk saling berhadapan
Aku yang membaris kata
Asapmu yang mengacaukan semua
Dan kopi baru kita yang terus tiba
Hingga lisongmu pun padam
Aku berusaha membaris kata
Menuntunnya dengan rapi ke dalam puisi
Ketika jadi
Kuketuk rumahmu sekali
Lalu kusuratkan puisiku tanpa api.[]
Penulis bernama Ahlul Aqdi, mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala. Ia juga merupakan anggota aktif di UKM Pers DETaK USK.










