Cerbung | DETaK
Jika Lyn ditanyai, “Apakah puasa berat?”, maka Lyn dengan senang hati menjawab, “Iya!”, merupakan pengetahuan umum bagi umat muslim diseluruh dunia bahwasanya puasa adalah kewajiban yang harus dilaksanakan pada bulan Ramadhan setiap tahunnya. Oleh sebabnya, umat muslim sendiri sudah terbiasa dengan ada fenomena puasa ini.
Namun, hal ini berbeda bagi Lyn, puasa tahun ini merupakan puasa pertama Lyn seumur hidupnya. Bukan karena Lyn masih anak kecil atau sebab-sebab lain. Lyn sendiri berusia 27 tahun dan dalam keadaan sehat jasmani rohani, mengingat Lyn sendiri merupakan mantan figure ice skating papan atas, yang telah meraih medali emas pada masa puncaknya, Lyn tau dengan baik bagaimana menjaga kesehatannya sendiri. Jika kalau begitu apa penyebab Lyn mengalami fenomena puasa ini pertama kali dalam hidupnya? Jawabannya simple, Lyn adalah seorang mualaf yang baru berusia 5 bulan.

Lyn, perempuan berkebangsaan Russia, berusia 27 tahun 2 bulan lalu. Mantan atlet Ice Skating yang membawa pulang medali perunggu dalam World Champion, perak dalam European Champion serta meraih emas dalam Olympic Champion lima tahun lalu sedang mengalami pengalaman puasa pertamanya sebagai seorang mualaf di Russia. Sebagai seorang mualaf tentu saja Lyn masih menyesuaikan kebiasaan lama dengan kebiassan baru nya sebagai seorang muslim. Lyn diharuskan belajar banyak hal dari nol, seperti tata cara sholat, mengaji serta anjuran atau pantangan yang ada di dalam islam. Tentu saja, Lyn mengerjakan hal ini disela-sela aktivitasnya.
Lyn, sang pensiunan atlit, sekarang membiayai hidupnya dengan membuka serta mengelola toko bunga kecil yang terletak di dekat akademi olahraga ternama di Moscow. Jam kerja Lyn sendiri berkutak dari jam 08:00 hingga jam 17:00. Seperti hari ini, Lyn sedang merangkai bunga pesanan dari seorang wanita paruh baya yang memiliki tatapan hangat di matanya. Wanita itu sendiri merupakan pelanggan tetap di tokonya, yang belakangan ini Lyn ketahui sebagai coach Margaret salah satu pelatih di akademi yang berseberangan dengannya.
Lyn dengan terampil mengambil setangkai bunga Lily ungu dan 2 tangkai bunga Peony merah muda yang merupakan kombo setia yang diinginkan Margaret, dengan cepat dia rangkai buket tersebut mengingat waktu sudah hampir menunjukan pukul 15:19, waktu dimana Margaret biasa mengambil bunga tersebut. Seperti dugaan, tepat ketika angka 8 berubah menjadi 9 terdengar suara bel pintu toko berbunyi menandakan datangnya seseorang. Lyn dengan cepat bangkit dari tempat duduknya untuk menyapa Margaret. Namun,sebelum Lyn sempat menyapa Margaret, bibir Lyn pun terhenti ketika melihat daripada seorang wanita paruh baya yang berdiri didepannya. Melainkan seorang laki-laki tinggi yang Lyn prediksikan berusia sekitar awal 30-an berdiri didepannya
Laki-laki tersebut terlihat mengedarkan pandangannya dari kanan ke kiri memperhatikan ornament-oraneman toko dengan satu pandangan sebelum mata berhenti di kearah Lyn. Lyn hanya bisa terdiam sesaat, lalu akhirnya menyadari bahwa ia belum menyapa pelanggan yang memasuki toko bunganya.
“Hallo, selamat datang di HaRanae Florist! Ada yang dapat saya bantu?,” Ucap Lyn dengan buru-buru sambil menampilkan senyum yang biasa ia berikan untuk para pelanggannya. Diam. Tiada jawaban dari pria yang berdiri didepannya. Pria itu hanya berdiri menatap Lyn dalam-dalam sebelum mengedarkan pandangan matanya kearah buket yang berada didepan Lyn. Secara perlahan-lahan pria tersebut berjalan mendekat dan berhenti didepan Lyn dengan mata yang masih menatap kearah bawah, meraba buket tersebut dan membaca nametag Margaret di buket tersebut, sebelum menaikkan pandangannya kembali kearah Lyn. Lyn hanya bisa diam dengan keadaan masih tersenyum kearah lelaki tersebut sambil memperhatikan setiap pergerakannya.
Lyn hanya dapat bersikap tenang meski jantungnya tidak karu-karuan, atas alasan yang tidak Lyn ketahui. Setelah beberapa saat, lelaki itu meraih buket tersebut dan mengangkatnya serta menaruh 7 rubel untuk membayar buket bunga Margaret yang telah dilunaskan lebih dulu, lalu ia beranjak kearah pintu awal ia masuk. Lyn dengan cepat tersadar dan memanggil pria tersbut sebelum ia melangkah keluar.
“Permisi, tapi buket tersebut merupakan pesanan khusus dan telah dibayar”, ucap Lyn yang berhasil menghentikan langkah pria itu, kemudian Lyn mendengar suara yang membalas penyataannya.
“Atas nama Margaret kan? Itu Ibu saya. Kali ini ia tidak dapat mengambilnya, dan uang itu untuk pesanan selanjutnya.”, ucap pria itu sambil berbalik kearah Lyn, menatapnya. Membuat Lyn kembali terdiam beberapa saat sebelum dapat mengucap sesuatu kembali.
“Maaf tapi ini terlalu banyak harga 1 buket ialah 5 rubel.”
“Ah, jika kalau begitu buat 2 buket satu seperti biasa satu lagi buket bunga chamomile dengan hydrangea.”
Sebelum sempat Lyn menjawab, pria tersebut telah beranjak pergi dari toko tersebut dan meninggalkan Lyn yang terdiam menatap kearah pintu masuk tokonya. Itulah kisah pertemuan pertama Lyn dengannya.
Penulis bernama Riva Alya Najeela, Mahasiswi Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Naisya Alina










