Puisi | DETaK
Di Aceh, hujan turun seperti doa yang pecah,
namun sungai tak lagi punya bahu menampung lelah.

Air berlari membawa amarah,menyeret rumah, mimpi, dan langkah
Menyapu segala rintangan tanpa arah
Di hulu hutan, harapan bumi telah dipotong,
akar dicabut dari rahim tanah,
pohon yang dulu memeluk gunung
Kini menjadi gelondongan tak bernama namun rapi terukir indah
Ada tangan yang tak bertanggung jawab
mengiris hijau menjadi setumpuk uang meninggalkan luka di perut bumi,
membiarkan banjir membawa seluruh harta mereka yang tak bersalah
Anak-anak bertanya pada langit keruh,
“Kenapa rumah kami hanyut, kenapa sekolah kami basah?
”Angin menjawab pelan lewat sisa daun:
“Karena hutanmu dirampas tanpa rasa bersalah.”
Aceh menangis di antara lumpur dan arus,
bukan hanya karena hujan yang deras,
tetapi karena pohon-pohon yang dulu setia melindungi
telah tumbang sebelum waktunya
Semoga dari puing dan air yang surut
tumbuh kesadaran yang tak ikut hanyut
bahwa menjaga hutan adalah menjaga hidup,
dan memeluk bumi adalah memeluk masa depan.
Penulis bernama Afif Wicaksono, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Sara Salsabila











