Beranda Puisi Gelondongan di Tanah Rencong

Gelondongan di Tanah Rencong

BERBAGI
Ilustrasi. (Afif Wicaksono/DETaK)

Puisi | DETaK


Di Aceh, hujan turun seperti doa yang pecah,

namun sungai tak lagi punya bahu menampung lelah.

Iklan Souvenir DETaK

Air berlari membawa amarah,menyeret rumah, mimpi, dan langkah

Menyapu segala rintangan tanpa arah

Di hulu hutan, harapan bumi telah dipotong,

akar dicabut dari rahim tanah,

pohon yang dulu memeluk gunung

Kini menjadi gelondongan tak bernama namun rapi terukir indah

Ada tangan yang tak bertanggung jawab

mengiris hijau menjadi setumpuk uang meninggalkan luka di perut bumi,

membiarkan banjir membawa seluruh harta mereka yang tak bersalah


Anak-anak bertanya pada langit keruh,

“Kenapa rumah kami hanyut, kenapa sekolah kami basah?

”Angin menjawab pelan lewat sisa daun:

“Karena hutanmu dirampas tanpa rasa bersalah.”


Aceh menangis di antara lumpur dan arus,

bukan hanya karena hujan yang deras,

tetapi karena pohon-pohon yang dulu setia melindungi

telah tumbang sebelum waktunya 

Semoga dari puing dan air yang surut

tumbuh kesadaran yang tak ikut hanyut

bahwa menjaga hutan adalah menjaga hidup,

dan memeluk bumi adalah memeluk masa depan.

Penulis bernama Afif Wicaksono, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Sara Salsabila