Beranda Cerpen Sekelumit Kisahku di Bulan Puasa

[DETaR] Sekelumit Kisahku di Bulan Puasa

BERBAGI
Ilustrasi. (M. Talal/DETaK)

Anis Monika | DETaK

Hari ini berjalan seperti biasa. Dengan tugas tanpa henti dan laporan yang menanti sungguh membuat hari hariku selama puasa terasa amat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kuliah di saat bulan puasa memanglah epik. Setiap minggu dikejar deadline laporan ditambah UTS yang ada setiap minggunya. Huff, sungguh melelahkan. Aku Rania, mahasiswi pendidikan angkatan 2020. Dihadapkan dengan suasana ramadhan dan aktivitas yang berbeda  membuat ramadhan kali ini terasa lebih berat.

Lebih parahnya disaat mahasiswa lain sudah pulang dan memilih kuliah online, Ada beberapa prodi yang belum diizinkan pulang. Kami pun hanya bisa gigit jari menahan iri karna tidak bisa pulang kampung. Laboratorium, Praktikum dan laporan adalah hal yang tidak bisa kami hindari dan semua akan tetap berjalan sesuai prosedur keputusan. Namun itulah kewajiban kami sebagai penuntut ilmu harus selalu semangat dan sabar agar dapat meraih kesuksesan kelak.

Iklan Souvenir DETaK

“Mak mau pulang huhu” Ucap temanku saat dosen telah keluar kelas dengan gaya lebay-nya. Kami memandanginya tanpa minat. Kalimat itu sudah ke 10 kalinya di ucapkan Riva hari ini.  Memang saat ini kami lagi ada di kelas untuk mengikuti pembelajaran dan Alhamdulillah kelas hari ini telah berakhir.

Aku memilih keluar terlebih dulu, temanku yang lain pun sama mereka meninggalkan kelas berbondong-bondong. Temanku bercanda ria membahas tentang hal random namun ada juga sebagian yang sedang membahas makanan apa yang akan dibeli untuk berbuka nanti. Di satu sisi akau sadar bahwa saat inilah waktu dimana aku bisa belajar untuk mandiri. Memang Ramadan kali ini sangat amat berbeda dari tahun sebelumnya. Tidak ada ibu yang membangunkan sahur, ayah yang mengusiliku dan adik-adikku yang membuat diriku marah.

Namun, di sini aku belajar apa itu arti usaha yang sesungguhnya, sabar meskipun makanan yang tidak sesuai selera dan aku jadi semakin tau rasanya hidup dirantauan. Temanku pun teramat sangat baik terhadap dirku. jadi setelah dipikirkan, semua memang tidaklah berjalan seperti apa yang kita mau. Namun, di sini aku belajar untuk menerima apa yang ada. Nah, maka dari itu jangan lupa bersyukur setiap harinya.[]

#30HariBercerita