Beranda Cerpen Ketika Waktu Subuh

[DETaR] Ketika Waktu Subuh

BERBAGI
Ilustrasi. (Neira Salsabila/DETaK)

Muhammad Abdul Hidayat | DETaK

“Kali ini saya udah cukup kesal dengan ulahnya si Joni. Masa setiap saya datang ke rumahnya, dia selalu ngga ada,” oceh seorang pria bertubuh jangkung dengan raut wajah berkerut menandakan rasa dongkol yang ia pendam.

“Kemarin saya kembali datang ke rumahnya. Saya udah ketok pintu rumahnya berkali-kali, tapi ngga ada sahutan,” lanjut pria itu sambil mengelap tetesan keringatnya yang jatuh satu per satu di dahinya. “Pas saya tanya ke tetangga sebelah, katanya si Joni sedang pergi keluar. Tapi, ini udah yang ketiga kalinya aku datang, dan dia selalu ngga ada di rumah,” tukas pria berwajah malang tersebut.

Iklan Souvenir DETaK

“Mungkin dia lagi ada urusan penting yang perlu diselesaikan. Kalau gitu, coba aja kamu telepon si Joni. Nih nomor hape-nya ada sama saya,” sahut pria di depannya yang sedang sibuk mencuci gelas dan piring yang kotor.

“Nah, itu masalahnya, Toni. Saya juga sudah hubungi nomor hape-nya sekitar dua hari yang lalu. Tapi, nomornya tidak aktif,” jawab si pria bertubuh jangkung itu kembali.

Pria yang diketahui bernama Toni itu pun diam dan tak menanggapi perkataan si pria tadi. Menurutnya, urusan piring dan gelas di hadapannya ini harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum waktunya ngobrol. Memang tumpukan gelas dan piring kotor itu terlihat banyak di westafel tempat ia mencuci tersebut. Beberapa gelas berisikan sisa-sisa bubuk kopi dan piring-piring yang bersisakan beberapa potongan kue yang tidak habis dimakan.

Inilah kebiasaan yang dilakukan Toni setiap seusai melaksanakan salat subuh berjama’ah di surau dalam beberapa hari terakhir ini. Piring dan gelas yang kotor setelah digunakan sebagai tempat makan dan minum oleh orang-orang bertadarrus semalaman menjadi tugas dan tanggub jawab Toni untuk membersihkannya.

Bukan hanya karena tanggung jawabnya sebagai marbot di surau tersebut, tapi ini merupakan kerjaan ikhlas yang ia pinta sebagai bentuk amal baiknya di bulan suci yang mulia ini. Baginya, meskipun tidak ikut tadarrus bersama mereka, namun ia setidaknya berkontribusi dalam menyiapkan segala keperluan untuk tadarrus.

Kala ini, waktu subuh sedang ramai-ramainya dipenuhi oleh muda-mudi yang berkeliaran di jalan-jalan. Terkadang, sempat terdengar beberapa letusan petasan yang sengaja dimainkan oleh segerombolan bocah yang iseng untuk mengejutkan pengendara di jalanan. Pria jangkung yang penuh ocehan tadi juga baru selesai dari aktivitas jalan santainya. Peluh di keningnya yang bercucuran deras ini bukan disebabkan jalan santai yang ia baru saja lakukan, tapi lebih dari itu.

Ia sempat berlari mengejar beberapa anak yang jahil mengusilinya dengan melemparkan petasan cabe persis dihadapannya tanpa ia sadari. Rasa lelah yang menghampirinya setelah itu membuatnya harus duduk beristirahat di pondok jaga surau terdekat. Pertemuannya dengan Toni, si marbot surau, mengalihkan pikirannya kepada permasalahan yang saat ini sedang ia alami. Pikirnya, bisa jadi si Toni punya ide cemerlang terhadap masalah yang ia punya sekarang.

“Ah!” Seru si pria itu sambil menyeruput kopi hitam di dekatnya. Wajahnya sedikit reda menikmati aroma serta rasa dari kopi di mulutnya itu. Tampaknya, ia sedang mengambil ancang-ancang buat melanjutkan kembali ceritanya.

“Anak sulung saya sekarang sedang butuh duit buat tes masuk universitas. Apa sih namanya sekarang itu? SPMB? UMB PT?”

“UTBK,” jawab Toni singkat.

“Nah, itu dia. Saya tak punya duit buat kasih ke dia. Makanya, itu alasan saya nagih utang saya sama si Joni.” Wajahnya kembali kecut ketika menyebut si Joni. Dari nada bicaranya saat menyebut nama Joni, Toni tahu betul kalau si pria ini sudah sangat jengkel dengan si Joni. Setelah mengetahui alasan kekesalan pria itu, Toni pun mulai berpikir cara untuk membantu pria malang tersebut.

“Nasrul, gimana kalau kamu datangi aja orang tua si Joni. Mungkin aja setelah kamu ceritakan masalah ini ke mereka, mereka bakal bertanggung jawab mengganti duitmu. Itu saran saya,” ujar Toni dengan wajah yang masih berkutat dengan tumpukan gelas dan piring di hadapannya.

“Memangnya kamu tau siapa orang tuanya?” tanya si pria jangkung yang baru saja diketahui namanya itu, Nasrul.

Cek Yeti dan Apa Burhan, itu nama panggilan mereka. Mereka tinggal di kampung sebelah, lorong rambutan, nomor 13. Kamu datang aja ke situ dan bilang perihal ini ke mereka. Mungkin itu caranya supaya urusanmu dengan Joni cepat selesai,” kata Toni.

Nasrul kembali meneguk kopi di dekatnya sembari memikirkan saran yang menurutnya cukup meyakinkan ini. Selama ini, Nasrul mengira bahwa Joni tak punya keluarga di dekat sini. Ia hanya menyangka bahwa Joni merupakan anak rantau yang datang untuk sekedar mencari pekerjaan tetap di daerah ini. Memang Nasrul dan Joni tidaklah seakrab teman pada biasanya. Mereka terkadang hanya berbicara di momen-momen tertentu, dan topik yang dibahas pun cenderung ke basa-basi.

Namun, sebulan yang lalu, tiba-tiba Joni mendatangi rumah Nasrul dengan maksud meminjam uang yang jumlahnya tak sedikit. Berbalut wajah iba dan suara memelas, Joni terus merengek kepada Nasrul supaya bersedia meminjamkan sebagian uangnya. Tak punya alasan buat menolak, Nasrul dengan berat hati terpaksa memberikan pinjaman uang sesuai yang diminta.

“Kenapa bisa ada orang tuanya disini? Bukannya dia pindah kesini sendirian?” tanya Nasrul penasaran.

“Kamu belum tau ya? Dia itu memang asli orang kampung sebelah. Namun, karena ada beberapa masalah yang ia buat semasa kecilnya, Joni dikirim ke daerah lain untuk bisa berbenah diri, sekaligus agar dia bisa mandiri dan menjadi pribadi lebih matang,” Jelas Toni dengan santainya.

“Ooo… Lagee nyan. Kalau gitu saya mau siap-siap ke rumah orang tuanya dulu,” sambil menyeruput habis sisa kopi di gelas yang ia pegang, ia bersiap-siap hendak beranjak dari lokasinya saat ini.

“Ya. Saya doa kan urusanmu cepat kelar,” balas Toni. Sejenak, Toni pun berbalik melihat Nasrul yang semula wajahnya kemelut, namun kini sudah kembali normal. Setidaknya, solusi simpel yang ia berikan ini dapat mencairkan suasana hatinya yang sedang tidak beres. Nasrul adalah teman sepermainannya sejak kecil, jadi dia tahu betul bagaimana gelagat pria itu ketika dihadapi sebuah masalah. Nasrul akan kesusahan dan sibuk mengoceh kesana-kemari daripada berpikir untuk mencari solusi. Begitulah Nasrul, menurut Toni.

Tiba-tiba.

“Eh,”

“Ada apa?” tanya Nasrul heran.

“Kamu baru aja minum kopi ini?”

“Iya, nggak apa kok. Saya udah terbiasa minum kopi kayak gitu. Kopi semalam kan?”

“Bukan itu, tapi ini kan…” []

#30 Hari Bercerita