Beranda Cerpen Mereka yang Tak Lagi Percaya Ironi Cinta

Mereka yang Tak Lagi Percaya Ironi Cinta

BERBAGI
Ilustrasi. (Cut Dira Alya Gadiza [AM]/DETaK)

Cerpen | DETaK

Jika Layla Nasdwarda diberi pertanyaan mengapa dia belum menikah. Maka ia akan menjawab, “saya tidak berniat menikah”. Keyakinan Layla untuk tidak menikah merupakan hal yang telah diketahui oleh khalayak umum. Meski dianggap sebagai salah satu perempuan terkaya dan tercantik di negeri itu, fakta bahwa ia tidak pernah menjalin hubungan romansa, membuat para lelaki tercengang.

Hal tersebut dikarenakan Layla menjadi top 1 perempuan yang menjadi pilihan pasangan kencan oleh banyak pria. Banyak yang menyayangkan bahwa Layla tidak tertarik dalam hubungan romansa dan berharap Layla dapat mengubah pikiran akan keyakinannya tersebut. Tapi sangat disayangkan, karena ia sama sekali tidak mau mengubah pendiriannya tersebut.

Iklan Souvenir DETaK

Suara hantaman bergema di ruangan yang terletak di lantai tertinggi sebuah gedung pencakar langit di Kota Lewbaon. Sumber suara itu berasal dari sebuah tablet yang dibanting ke atas meja. Pelaku kejadian tampak kesal setelah membaca sebuah artikel. Ya, dia adalah Layla Nasdwarda, kepala keluarga Nasdwarda, perempuan berusia 28 tahun yang kini hanya bisa mengernyit sambil mengurut keningnya, menandakan rasa jengkel yang ia rasakan.

Suara detikan jam dinding besar menemani Layla. Banyak yang menganggap keberadaan jam itu cukup aneh. Bagaimana tidak? Jam bergaya klasik Eropa tahun 1920-an itu berdiri megah di belakang kaca besar kantor bernuansa modern. Ditambah lagi, suara detiknya yang nyaring sering kali mengganggu konsentrasi saat bekerja. Tak seorang pun tahu alasan Layla tidak pernah memindahkannya. Namun satu hal yang pasti, Layla memiliki kebiasaan melamun sambil menatap jam tersebut, terutama ketika ia sedang stres atau hendak mengambil keputusan besar, contohnya seperti yang ia lakukan sekarang.

Sebagai kepala keluarga Nasdwarda, keluarga peringkat ketiga di negeri Nostana, tidak heran jika Layla kerap dipenuhi banyak pikiran. Keluarganya bergerak di bidang arsitektur sebagai usaha utama, serta di bidang kuliner dan seni sebagai usaha pendukung. Kesuksesan besar yang diraih justru sering membuatnya pusing dalam mengatur segala urusan. Ia dikenal sebagai sosok yang selalu sibuk, bahkan ketika tampak tidak melakukan apa pun. Meski begitu, banyak pria justru menganggap hal itulah yang membuatnya menarik.

Seperti Holand, teman semasa kuliahnya. Banyak yang berpendapat bahwa Layla seharusnya berpacaran dengan pria berambut pirang itu. Namun, ia tahu betul bahwa alasan Holand menyukainya hanyalah karena dirinya sulit didekati. Dengan latar belakang keluarganya, menjalin hubungan dengannya akan terasa seperti memenangkan trofi, seolah-olah menandakan bahwa ia adalah pemenang, sementara lelaki lain hanyalah pecundang.

Orang mungkin bertanya-tanya, bagaimana Layla bisa mengetahui hal itu padahal ia tak pernah berpacaran? Jawabannya sederhana: meski tidak mengalami sendiri, kita bisa belajar dari kisah orang lain. Bagi Layla, cinta adalah sesuatu yang indah sekaligus menyakitkan dalam waktu yang bersamaan. Ia sudah terlalu sering menyaksikan kisah cinta yang melukai mereka yang tulus mencinta.

Seperti temannya Rose, Rose adalah perempuan memesona yang luar biasa logis. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul. Namun di balik sikap hangatnya, Rose sangat tegas dalam menjalin hubungan dengan pria.
Kalian pikir kisah cintanya berjalan mulus? Orang lain mungkin tidak tahu, tapi Layla tahu. Ia tahu bagaimana seorang pria pernah memanfaatkan keramah-tamahan Rose, menipu dan mengkhianatinya dengan cara yang kejam. Pria itu berhasil memenangkan hati Rose, bahkan sampai melamarnya, sebelum akhirnya berselingkuh dengan adik perempuan Rose, tiga bulan sebelum pernikahan mereka.

Belum lagi kisah Margaret, sekretaris Layla, yang bercerai dua tahun lalu. Ia bertemu dengan mantan suaminya, Josh, di sebuah kencan buta saat masih kuliah. Berawal dari kegemaran mereka yang sama terhadap ice skating, keduanya menjadi akrab. Ditambah lagi, Josh memiliki sahabat masa kecil bernama Norman yang meruapakan seorang atlit ice skating terkenal sehingga mereka bisa melakukan kegiatan yang mereka gemari itu didampingi seorang profesional.

Margaret bahagia. Ia merasa hidupnya sempurna, bisa bersama pria yang ia cintai dan bersahabat dengan orang-orang yang menyenangkan. Ia bahkan sudah bisa membayangkan masa depan mereka. Hingga suatu hari, semua hal itu runtuh. Margaret mengetahui bahwa Josh dan Norman ternyata saling mencintai. Selama ini, mereka berpura-pura berpacaran dengan perempuan hanya untuk menutupi hubungan homoseksual mereka.

Kalian pikir hal terburuk dalam cinta adalah perselingkuhan? Kalian salah. Cinta bisa menyakiti dengan cara lain. Pernahkah kalian bertemu sepasang kekasih yang kisahnya tampak sempurna, yang membuat kalian percaya bahwa segalanya bisa diatasi dengan cinta? Itulah kisah Ryan, sahabat lelaki Layla, sosok yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri. Kisah klasik, berawal dari sebuah tabrakan kecil di koridor sekolah yang membuat sang gadis terjatuh. Dari situlah mereka berkenalan, lalu menjadi pasangan setelah satu semester bersama.

Sayangnya, Layla tidak sempat menyaksikan sendiri momen ketika keduanya resmi berpacaran. Namun, ia mendengar banyak orang membicarakan kisah itu selama 3 semester lamanya, tentang Ryan yang membawa buket mawar raksasa dengan bantuan teman-temannya, bekerja sama dengan klub drama sekolah, bahkan menipu Mr. Smith dengan alasan mewakili klub penyiar untuk membacakan morning announcement yang ternyata berisi pengakuan cintanya. Manis, bukan? Siapa sangka pernikahan yang tampak sempurna itu hanya bertahan lima tahun. Alasannya sederhana: she grew out of love.

Cinta yang dulu tampak indah ternyata bisa runtuh dengan cara paling menyedihkan. Cinta yang katanya mampu membuat seseorang berubah, justru bisa menjadi racun, mengekang, dan membuat sang pencinta sulit melangkah maju. Layla masih mengingat jelas bagaimana Ryan, lelaki yang selalu tegar layaknya tiang kokoh, menangis untuk pertama kalinya di hadapannya. Ia benar-benar hancur karena cinta. Belum lagi putra mereka yang baru berusia tiga tahun. Layla menyaksikan sendiri bagaimana anak kecil itu menangis mencari ibunya, sementara sang ayah belum pulih sepenuhnya. Ia juga melihat bagaimana bocah itu tumbuh dengan menyaksikan sang ibu hidup bahagia bersama suami dan anaknya yang baru, seolah dirinya tak pernah ada.

Terlalu banyak kisah menyakitkan yang ia lihat menghancurkan hati. Maka, untuk apa Layla yang sudah damai dengan hidupnya memilih terjun ke dalam pusaran racun yang belum tentu membawa kebaikan? Untuk apa mencinta jika ujungnya hanya ada kabar buruk? Untuk apa mengejar cinta, jika pada akhirnya cinta itu sendiri yang menghancurkan kepercayaan dan menanamkan trauma bagi generasi berikutnya?

Bagi Layla, yang hidup seorang diri dan terlahir dari pernikahan hasil perjodohan kedua orang tuanya, cinta hanyalah kemewahan kecil yang tak memiliki arti berarti. Baginya, orang yang mampu menemukan dan mempertahankan cinta adalah sosok yang kuat sekaligus rapuh. Namun di balik keteguhan hatinya, ia masih berharap, bahwa suatu hari, cinta dapat menjadi sesuatu yang sederhana dan murni, tanpa luka dan ketakutan.

“Untuk kalian yang masih mengejar cinta, semoga kalian menemukan akhir yang bahagia. Dan untuk kalian yang telah berhenti memperjuangkannya, ketahuilah, kalian tidak salah, mungkin itu hanya bukan jalan yang ditakdirkan untuk mengantarkan kalian pada akhir kisah yang indah,”

Penulis bernama Riva Alya Najeela, Mahasiswi Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Amirah Nurlija Zabrina