Beranda Cerbung Kenapa Ini Bisa Terjadi?

Kenapa Ini Bisa Terjadi?

BERBAGI
Ilustrasi. (Afif Wicaksono [AM]/DETaK)

Cerbung | DETaK

Part 1

Mungkin terdengar old fashion, tapi Ryan sama sekali tidak percaya dengan adanya issue mental health. Baginya isu-isu tersebut hanya alasan bagi orang-orang yang tidak dapat mengurus hidup mereka dengan baik. Meski pengetahuan tentang kesehatan mental telah ditemukan sejak awal abad ke-20 yang semakin memprihatinkan dan meningkat kasusnya pada abad ke-21. Ryan sendiri masih tidak percaya pada adanya hal tersebut atau mungkin lebih dibilang, Ryan tidak percaya pada seseorang dapat terkena penyakit mental se-mudah dan se-muda itu terutama pada remaja. 

Iklan Souvenir DETaK

Meski sudah berusia 25 tahun, Ryan masih ingat jelas berbagai kejadian yang menggegerkan di masa sekolahnya, mulai dari peristiwa bunuh diri seorang siswi yang mengalami stres berlebihan akibat tekanan ujian masuk perguruan tinggi, hingga salah satu teman lelakinya yang didiagnosis mengidap OCD. Ia juga masih teringat dengan seorang siswi berprestasi yang memenangkan berbagai lomba, namun ternyata memiliki anxiety yang membuatnya harus pergi ke psikiater.

Ryan sendiri tidak memahami bagaimana rekan kerja serta seniornya yang sangat ia hormati tenyata banyak diantaranya pergi ke psikiater bahkan meminum obat anti-depresi. Ia sendiri selalu berpikir dalam hati bagaimana jika mereka lebih fokus ke pekerjaan dan bersyukur atas apa yang ada daripada pergi menghabiskan uang untuk konsultasi dengan orang-orang tidak jelas itu, atau jika hal tersebut benar-benar mengganggu mereka, mengapa mereka tidak mengambil cuti dan melakukan hal yang menyenangkan atau berkumpul bersama keluarga untuk meredakan pikiran mereka. 

Jujur Ryan jengah mendengar keluhan dan cerita mereka tentang bagaimana kondisi dan cara mengatasi kondisi mental mereka di acara kantor bersama. Mengapa mereka memilih membicarakan hal- hal yang tidak nyaman pada acara yang harusnya menyenangkan. Atau bagaimana mereka berucap seolah-olah kondisi mereka adalah hal permanen yang sulit membaik. Bagi Ryan sangat disayangkan bahwa hidup mereka yang tenang dikacaukan penyakit mental yang tidak jelas dan akan merepotkan mereka seumur hidup. 

Dari sini banyak orang sering bertanya kepadanya, apakah Ryan pernah stress atau hal-hal lainnya? Maka jawabannya adalah tidak. Ryan sendiri mengaku bahwa ia tidak pernah merasa ia masuk ke kategori yang disebut ‘stress’. Banyak pikiran itu hal wajar, Ryan sendiri pernah mengalami hal tersebut, namun apakah banyak pikiran yang dimaksud itu dapat dikatakan sebagai stress? Ia rasa tidak.

Mungkin alasan mengapa ia tidak pernah mengalami stress ialah karena denial atau filososinya yang tidak percaya pada hal-hal konyol seperti itu. Namun yang pasti, Zahad adalah salah satu alasannnya. Zahad adalah seseorang yang dianggap sahabat oleh  Ryan, mereka pertama kali bertemu di usia 14 tahun ketika Ryan mencari tempat untuk menenangkan diri setelah bertikai dengan saudaranya. 

Ryan saat itu sedang duduk di pinggir sungai, melamun, tiba-tiba ia didatangi oleh Zahad yang merasa harus menghibur Ryan. Zahad adalah orang yang sangat ramah dan menarik. Ia adalah seseorang yang ceria dan dapat membuat Ryan lupa akan keadaan dirumah dengan cerita-ceritanya yang mengejutkan. Mulai saat itu, setiap Ryan terlibat dalam masalah dan butuh waktu untuk menenangkan diri, Zahad pasti akan hadir disampingnya.

Zahad selalu muncul secara tiba-tiba, mengajak Ryan mengobrol, mendengarkannya, dan memberi saran yang benar-benar bisa dipraktikkan serta disukai Ryan. Percakapan mereka biasanya berakhir ketika Zahad harus pergi karena ada tanda-tanda seseorang akan datang ke tempat itu. Meskipun Ryan sadar bahwa pertemanan mereka terbilang unik, ia tidak berniat mengubah apa pun. Ia justru merasa bersyukur atas hubungan yang mereka miliki dan sudah lama memutuskan untuk membiarkan semuanya tetap seperti apa adanya.

Ryan sadar alasan di balik perasaannya itu adalah karena ia merasa puas dengan tidak adanya keterikatan di antara mereka. Ia senang karena tidak perlu terlibat dalam kegiatan orang lain atau berpura-pura peduli terhadap hal-hal yang mereka bicarakan. Ia juga lega karena tidak harus ikut campur dalam masalah emosional orang lain yang sebenarnya tidak ia pedulikan.

Ia menyukai bagaimana Zahad hanya benar-benar muncul ketika ia diperlukan saja. Terkadang Ryan merasa bersalah terhadap Zahad tentang bagaimana hubungan mereka berjalan. Bagaimanapun, hubungan satu arah tidak dapat berjalan dengan baik. Ryan pun akhirnya mengutarakan perasaan itu kepada Zahad.

“Zahad, kamu benar-benar tidak ada hanya ingin diceritakan? Aku siap mendengarkan loh”.

“Ya ampun Ryan, aku tau sebenarnya kamu tidak benar-benar bermaksud menanyakan hal tersebut. Kamu sebenarnya tidak pedulikan tentang apa yang dipikirkan oleh orang lain, bukan? Padahal aku lebih senang mendengarkan saja loh,” sahut Zahad.

Di momen itu Ryan sadar, bahwa alasan terbesar ia nyaman dengan Zahad adalah fakta bahwa ia dapat menjadi dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain yang rumit. Ia dapat bercerita tentang rahasia dan pikiran terdalam dan terkotor miliknya tanpa ada rasa bersalah dan dihakimi. Pikiran tentang bagaimana ia membenci keluarganya yang hina dan bagaimana orang disekililingnya adalah orang bodoh yang tidak tau diri. Atau rahasianya bahwa ia pernah mencuri barang berharga seorang pembully hingga ia menangis dan menertawakanya dibelakang.

Ryan menyukai bagaimana Zahad mendengar semua keluhannya tanpa menginterupsi. Bagaimana Zahad dengan setia muncul ketika ia memiliki hari yang sulit. Bagi Ryan, Zahad adalah sahabat sekaligus partner in crime-nya. Zahad adalah satu-satunya manusia yang benar-benar ia pedulikan. Ia tidak butuh orang lain, ia hanya butuh Zahad. 

Bersambung ke part 2

Penulis bernama Riva Alya Najeela, Mahasiswi Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Amirah Nurlija Zabrina