Beranda Cerbung Green Inside Out: Chapter 1

Green Inside Out: Chapter 1

BERBAGI
Ilustrasi. (Neni Raina Mawaddah | DETaK)

Cerbung | DETaK

Tak terhitung sudah berapa kali Lyn menghela nafas dikarenakan dirinya sibuk mengacaukan tembikar vas yang sedang dibuatnya. Lyn harus berkali-kali menghancurkan tembikarnya dan memulainya dari awalnya. Lyn sendiri telah mencintai pottery hampir selama ia mencintai ice skating.

Jika ice skating dalam hatinya adalah lovers maka pottery adalah first love, tidak bersama tapi selalu ada di hati. Lyn selalu menganggap pottery sama penting seperti ice skating disaat ia jenuh, dan muak mendengar omelan pelatihnya tentang progresnya, hal yang ia lakukan ialah membuat berbagai macam tembikar.

Iklan Souvenir DETaK

Bahkan alasan mengapa Lyn belajar merangkai bunga hingga membuka toko ialah disebabkan karena pottery, ia ingin tembikarnya digunakan untuk menaruh bunga-bunga cantik yang membahagiakan banyak orang. Alasan mengapa tembikarnya belum ia dagangkan karena ia ingin menyempurnakan rangkaian bunganya sekaligus mempersiapkan beberapa tembikar yang akan dipajang ditoko nanti.

Itulah yang saat ini Lyn lakukan. Lyn sengaja menutup toko lebih cepat untuk menyelesaikan beberapa tembikar yang sayangnya belum berhasil ia selesaikan satu buah-pun. Lyn pun hanya bisa menghela nafas dan beranjak untuk membersihkan dirinya. Ia membuka apron dan mengambil tanah liat yang terletak di wheel-nya, serta membasuhi sponge-nya dengan air untuk mengelapnya.

Setelahnya Lyn-pun bangkit dan berjalan kearah dapur untuk menyiapkan makanan, sambil menanti waktu berbuka tiba. Namun, setelah waktu berbuka-pun tiba, Lyn tidak dapat menghentikan pemikiran bahwasanya ia harus menyelesaikan setidaknya 1 tembikar dalam hari. Padahal ia tau bahwa hal itu ialah mustahil dilakukan dengan keadaannya saat ini. Entah mengapa Lyn tidak dapat mengacuhkan feeling-kan harus menyelesaikan setidaknya 1 tembikar. Yang menghasilkan Lyn kembali duduk di depan wheel-nya sambil berpikir keras bagaimana ia akan membuat tembikarnya.

Beberapa menit berlalu, Lyn yang telah duduk tanpa mengerjakan apapun akhir beranjak dan memutuskan menyelesaikan rangkaian bunga pesanan pelanggannya. Hal tersebut dapat mudah dilakukan dikarenakan tokonya memiliki studio yang dapat ditinggali yang dimana ialah tempat tinggalnya. Lyn-pun menuruni tangga dan segera masuk mengambil rangkaian bunga untuk dirangkai.

Lyn dengan sigap menyelesaikan beberapa rangakaian bunga pesanan, sebelum akhirnya tangan Lyn berhenti di bunga berwarna putih kecil dan biru cerah, chamomile dan hydrangea, bunga pesanan pria tersebut. Lyn secara otomatis membayangkan wajah sang pemesan, dengan mata biru khas orang barat dan rambut blonde terang menusuk mata. Pria tersebut memiliki mata tidak mudah, seolah-olah ia telah mengalami banyak hal atau mungkin, ia sedang mengalaminya. Ditambah dari gerak-geriknya, menyimpulkan bahwa ia seseorang yang tidak mudah didekati yang menambah pesonanya,

Mungkin ada benarnya kata-kata bahwasanya setiap artist memerlukan seorang muse yang membuat karya tetapi hidup. Seperti Lyn saat ini, tanpa dirinya sadari, ia melangkahkan kakinya dan duduk di depan wheel dan menggerakkan tangannya membuat sesuatu. Tiada sepatah kata-pun yang keluar dari Lyn, ia hanya fokus mengerakkan tangannya tanpa berfikir banyak hal yang baru berhenti setelah 15 menit. Lyn menatap dalam diam tembikar yang ia hasilkan.

Cantik, itulah pikiran Lyn setelah melihat hasil karya sendiri. Tembikar yang ia buat merupakan vas yang mirip seperti ombak melintang vertikal miring atau lebih tepatnya seashell dengan gagang seperti cangkir. Model yang playful namun masih classic

Sangat cocok untuk dia,” mendengar pemikirannya sendiri Lyn tiba-tiba merasa malu. Bagaimana bisa ia memikirkan orang asing seperti itu. Lyn-pun kembali menghela nafas untuk kesekian kalinya hari ini dan menatap kearah tembikar buatannya. Sejujurnya tembikar ini sangatlah cantik, dan lagi pula tujuan Lyn untuk menciptakan setidaknya satu tembikar hari ini telah berhasil tercapai dengan adanya tembikar ini, Lyn-pun memutuskan untuk mengangkat tembikar tersebut.

“Selamat datang di HaRanae Florist! Ada yang bisa diban- Ah! Anda datang untuk pesanan Margaret. Pesanannya saya letakkan disitu,” ucap Lyn dengan ceria sambil tersenyum meski matanya tidak. Pria tersebut berdiri diam menatapnya seperti pertemuan terakhir mereka. Kemudian berjalan mendekati buket rangkaian bunga yang terletak di sisi barat toko, sisi kanan Lyn, dan mengambil kedua bunga tersebut tanpa basa-basi sebelum mendekati Lyn meletakkan uang 10 rubel. Melihatnya Lyn dengan cepat mengerti. 3 rubel adalah sisa uang belum ia bayar umtuk 2 buket bunga yang ia pegang dan sisa 7 rubel untuk memesan 2 buket lagi.

Meski mengerti bahwa pesanannya sama, Lyn dengan cepat menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.

“Pelanggan! Apakah bunganya sama?” ucap Lyn terburu-buru melihat pria tersebut pergi yang menghentikan langkahnya, dan dijawab dengan anggukan.

“Oh baiklah, apakah ada hal lain yang ingin ditambahkan?” tanya Lyn untuk memastikan. Lyn berekspektasi pria tersebut hanya akan mengangguk atau menggeleng, namun sebaliknya ia melakukan hal yang mengagetkan Lyn.

“Verto.”

“Permisi?”

“Namaku Verto.”

“….”

Lyn hanya dapat terdiam mendengarnya, dari sekian banyak ekspektasi, inilah yang paling tidak dapat Lyn pikirkan. Sebelum sempat Lyn menjawab pernyataanya. Pria yang ia ketahui bernama Verto, sudah melangkah keluar dari tokonya. Meninggalkan Lyn sendirian dalam kondisi shock. Namun entah mengapa Lyn yang telah pulih dari ke kagetannya itu. Hanya bisa terdiam dan mengaguminya. Ia merasa bahwasanya pria tersebut merupakan karya seni. Baik wajahnya, perilakunya serta sifatnya sangatlah memikat Lyn. Lyn-pun tersadar bahwasnya pria tersebut ialah seorang muse, muse-nya.

Bersambung-

Penulis bernama Riva Alya Najeela, Mahasiswi Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Kamilina Junita Damanik