Resensi | DETaK
Judul: Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Tangguh Masa Kini
Penulis: Henry Manampiring

Penerbit Buku KompasTahun terbit: 2019 (edisi awal)
Tebal buku: ± 320–352 halaman
ISBN: 978-602-412-518-9 / 978-623-346-931-9 (edisi terbaru)
Harga (Pulau Jawa): sekitar Rp98.000 – Rp120.000
Tentang Penulis
Henry Manampiring adalah seorang ahli di bidang komunikasi, merek, dan strategi bisnis. Meskipun tidak memiliki latar belakang akademis dalam filosofi, justru hal ini menjadi sebuah keuntungan dalam karya tulisnya.
Dengan pengalamannya di dunia profesional dan kehidupan modern, Henry menyadari bahwa banyak individu terutama anak muda menghadapi tekanan mental yang disebabkan oleh:
• harapan dari masyarakat
• pengaruh platform media sosial
• pola pikir yang tidak sehat
Ia kemudian menemukan ketertarikan pada Stoikisme karena prinsip-prinsipnya yang sederhana namun efektif dalam membantu masyarakat menghadapi tantangan hidup.
Di dalam buku ini, Henry tidak hanya menguraikan teori, tetapi juga berbagi pengalaman dan pemahaman tentang penerapan Stoikisme dalam kehidupan sehari-hari. Cara menulisnya yang santai, terbuka, dan kadang disertai humor membuat pembaca merasa lebih terhubung dan lebih mudah menangkap inti dari buku ini.
Penulis juga memiliki tujuan yang jelas, yakni membantu pembaca untuk menjadi individu yang:
• lebih tenang
• tidak cepat tersinggung
• lebih rasional dalam berpikir
• lebih tangguh secara mental
Sinopsis
Buku yang berjudul Filosofi Teras membahas tentang sebuah aliran pemikiran kuno yang dikenal sebagai Stoikisme, yang berasal dari tradisi Yunani dan Romawi kuno. Filsafat ini mengajarkan kepada manusia bagaimana cara mengelola emosi, berpikir secara lebih logis, dan menghadapi berbagai tantangan hidup dengan lebih tenang tanpa berlebihan. Dalam buku tersebut, penulis tidak hanya menjelaskan teori-teori Stoikisme, tetapi juga menghubungkannya dengan realitas kehidupan modern yang sering dijumpai oleh banyak orang saat ini. Contohnya termasuk kecemasan yang berlebihan, mudah tersinggung terhadap ucapan orang lain, tekanan dari media sosial, serta emosi marah dan kecewa yang kerap muncul dalam aktivitas sehari-hari. Isu-isu ini disajikan dengan contoh yang sederhana dan relevan dengan pengalaman pembaca, sehingga mudah dimengerti.
Melalui pemaparan tersebut, buku ini menekankan bahwa banyak kendala yang kita alami sebenarnya bukan hanya akibat dari peristiwa yang terjadi, tetapi juga oleh cara kita memandang dan menginterpretasikan peristiwa tersebut. Kurangnya ketepatan dalam berpikir sering kali membuat suatu masalah terasa lebih besar daripada yang sesungguhnya. Oleh karena itu, pembaca diajak untuk lebih bijak dalam menghadapi kehidupan dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar dapat kita kendalikan, seperti pikiran, sikap, dan tindakan. Dengan memahami dan menerapkan konsep ini, seseorang dapat menjadi lebih tenang, tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal luar, serta mampu menjalani hidup dengan lebih seimbang dan terkontrol.
Tentang Buku
Buku yang berjudul Filosofi Teras adalah karya pengembangan diri yang mengeksplorasi ajaran Stoikisme, suatu filsafat dari zaman Yunani-Romawi kuno yang menekankan pentingnya pengendalian diri serta cara berpikir rasional dalam menghadapi tantangan hidup. Keunikan buku ini terletak pada cara penyampaian dari penulisnya. Ia tidak menjabarkan konsep Stoikisme dengan cara yang rumit atau bersifat teoritis, melainkan menggunakan pendekatan yang lebih sederhana, praktis, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Dalam buku ini, dibahas tentang bagaimana manusia seringkali mengalami perasaan negatif, seperti marah, cemas, kecewa, dan takut. Penulis menekankan bahwa pemicu utama dari emosi-emosi tersebut bukanlah peristiwa yang terjadi, tetapi cara kita menginterpretasikan peristiwa tersebut. Salah satu gagasan inti yang diangkat dalam buku ini adalah dikotomi kendali, yang merupakan kemampuan untuk membedakan antara:
• aspek-aspek yang dapat kita kontrol (pikiran, sikap, tindakan)
• aspek-aspek yang tidak dapat kita kontrol (pendapat orang lain, masa lalu, situasi tertentu)
Melalui pemahaman ini, pembaca diarahkan untuk lebih memperhatikan diri sendiri dan tidak menyia-nyiakan energi pada hal-hal yang tidak dapat mereka kontrol. Di samping itu, buku ini juga dilengkapi dengan berbagai contoh konkret dan latihan-latihan sederhana yang bisa segera diterapkan, sehingga tidak hanya memberikan pemahaman, tetapi juga mendorong perubahan dalam cara berpikir dan sikap hidup.
Makna Penting yang Dapat Diambil dari Buku
Buku Filosofi Teras menyampaikan bahwa dalam kehidupan, tidak semua hal bisa kita kuasai, sehingga kita perlu belajar untuk menerima realitas dan lebih memusatkan perhatian pada aspek-aspek yang bisa kita kendalikan, seperti pikiran, sikap, dan tindakan. Emosi negatif seperti kemarahan, kecemasan, dan kekecewaan seringkali timbul bukan karena peristiwa yang terjadi, tetapi karena cara pandang kita terhadap peristiwa tersebut. Oleh karena itu, dengan mengubah cara berpikir, seseorang dapat lebih baik dalam mengatur emosinya dan menjalani hidup dengan lebih tenang.
Di samping itu, buku ini juga menyoroti pentingnya memiliki mental yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, serta tidak terlalu bergantung pada penilaian orang lain. Kebahagiaan sejati tidak berasal dari hal-hal eksternal seperti materi atau pengakuan, tetapi berasal dari dalam diri, yaitu dari kemampuan individu untuk berpikir secara logis, menerima kondisi yang ada, dan bersikap bijak dalam setiap situasi.
Kelebihan Buku
1. Satu keuntungan utama dari buku ini adalah penggunaan bahasa yang santai dan tidak kaku. Penulis menerapkan gaya bahasa sehari-hari yang menciptakan suasana seolah-olah sedang bercakap-cakap, bukan membaca buku filsafat yang berat. Ini sangat membantu, khususnya bagi pembaca yang baru pertama kali mengenal filsafat.
2. Buku ini mengupas berbagai isu yang sering dihadapi oleh generasi sekarang, seperti kebiasaan berpikir berlebihan, kecemasan, tekanan akibat media sosial, dan perasaan mudah tersinggung. Dengan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, pembaca dapat merasa terhubung dan lebih mudah memahami isi buku.
3. Tidak hanya menjelaskan teori Stoikisme, buku ini juga menyajikan langkah-langkah konkret yang bisa langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, cara mengatur emosi, mengubah pola pikir negatif, dan menghadapi masalah dengan lebih rasional. Ini membuat buku ini bukan hanya memberikan informasi, tetapi juga sangat bermanfaat.
4. Buku ini mengajarkan cara berpikir yang lebih tenang dan tidak mudah terpancing emosi. Setelah selesai membaca, pembaca dapat belajar untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap masalah kecil dan lebih memfokuskan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting.
5. Adanya ilustrasi dalam buku membuat isi lebih hidup dan tidak monoton. Ilustrasi ini juga membantu menjelaskan konsep-konsep abstrak agar lebih mudah dipahami.
6. Buku ini cocok untuk pelajar, mahasiswa, maupun orang dewasa. Tidak memerlukan latar belakang khusus dalam filsafat, sehingga siapa saja dapat dengan mudah memahami isi buku.
7. Buku ini menyampaikan bahwa kebahagiaan tidak tergantung pada faktor eksternal, tetapi lebih pada cara kita merespons situasi tersebut. Ini dapat mengubah cara pandang pembaca dalam menghadapi berbagai masalah hidup.
Kekurangan Buku
1. Karena ditujukan untuk khalayak umum, buku ini tidak mengupas Stoikisme secara mendalam atau filosofis. Bagi mereka yang ingin memahami filsafat dengan serius dan detail, buku ini mungkin terasa kurang memadai.
2. Di beberapa bab, penulis mengulang konsep yang sama namun dengan contoh yang berbeda. Meskipun bertujuan untuk memperjelas, bagi sebagian pembaca hal ini bisa menjadi sedikit membosankan.
3. Gaya penulisan yang santai dan sering diselingi humor menjadi daya tarik, tetapi bagi pembaca yang lebih menyukai gaya formal, hal ini dapat terlihat kurang serius atau kurang bersifat “ilmiah”.
4. Walaupun banyak saran yang disediakan, tidak semua metode atau sudut pandang Stoikisme dapat langsung diterapkan oleh setiap orang karena tiap individu memiliki kondisi dan pandangan yang berbeda.
5. Penjelasan mengenai latar belakang tokoh-tokoh Stoikisme dan sejarahnya tidak dibahas secara rinci. Fokus buku lebih pada aplikasi daripada sejarah atau teori yang mendalam.
6. Dikarenakan disuguhkan dengan pendekatan yang sederhana dan mudah, beberapa pembaca menganggap buku ini lebih mirip dengan buku motivasi daripada tulisan tentang filsafat, sehingga nuansa “filsafat”-nya tidak terlalu menonjol.
Penulis bernama Mila Karmila, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Naisya Alina










