Beranda Artikel Clash of Champions, Tontonan Pemantik Tumbuhnya Motivasi dalam Diri Anak Bangsa

Clash of Champions, Tontonan Pemantik Tumbuhnya Motivasi dalam Diri Anak Bangsa

BERBAGI
Ilustrasi. (Neni Raina Mawaddah/DETaK)

Artikel | DETaK

Siapa yang tidak kenal Clash of Champions (CoC)? Bagi sebagian besar mahasiswa, acara yang diselenggarakan oleh Ruangguru ini sudah tidak asing lagi. Sejak pertama kali tayang pada tahun 2024, dilanjutkan dengan musim kedua pada tahun 2025, hingga menginjak musim ketiganya pada tahun 2026, reality show yang mengadu kecerdasan putra-putri terbaik bangsa ini terus memikat perhatian masyarakat Indonesia. Konsistensi CoC menyajikan tantangan-tantangan yang unik di setiap musim berhasil menjadikannya sebagai salah satu tontonan edukasi favorit yang paling berpengaruh di Indonesia. Lantas, apa yang membuat acara ini begitu memikat dan terus menginspirasi mahasiswa?

Daya tarik utama series CoC sebenarnya tidak hanya terletak pada kerumitan soal matematika, permainan memori, ataupun penalarannya saja. Lebih dari itu, CoC berhasil menciptakan cara pandang baru terhadap mahasiswa yang ambisius atau berprestasi. Kehadiran para peserta dari universitas top nasional hingga internasional mulai meruntuhkan stereotip lama. Dulu, orang yang jenius selalu dipandang sebagai orang yang kaku karena kesulitan untuk bersosialisasi.

Iklan Souvenir DETaK

Namun, melalui CoC, mereka justru tampil dengan kepribadian yang berbeda. Mereka memperlihatkan bahwa tidak semua mahasiswa ambis lupa bagaimana caranya bersosialisasi. Mereka tampil dengan gaya yang humble, humoris, serta aktif membagikan vibes positif baik di dunia nyata maupun dunia maya. Secara psikologis, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori Parasocial Interaction yang dicetuskan oleh Horton dan Wohl (1956). Teori ini menjelaskan bahwa penonton cenderung merasa memiliki ikatan emosional dan kedekatan dengan figur publik yang mereka kagumi. Kebanyakan mahasiswa kini melihat bahwa dengan menjadi seseorang yang berprestasi dan memiliki IPK sempurna adalah sebuah pencapaian yang keren dan patut dibanggakan.

Maka dari itu, tidak heran jika rasa kagum ini semakin menumbuhkan percikan motivasi yang kuat. Series CoC lahir didasari tujuan untuk mengirimkan sinyal inspiratif kepada para mahasiswa Indonesia. Mahasiswa diharapkan dapat mentransformasikan sinyal inspiratif itu menjadi aksi nyata dalam kehidupan akademiknya.

Sejak CoC menjadi topik yang hangat diperbincangkan banyak mahasiswa dan remaja, atmosfer akademik seakan semakin bergairah sebab mereka berlomba-lomba untuk menjadi versi terbaik diri mereka. Bahkan banyak mahasiswa mulai meniru kebiasaan belajar para peserta CoC, meramaikan tren konten Study with Me, hingga mengadopsi berbagai teknik belajar efektif seperti Active Recall, Spaced Repetition, dan Pomodoro Technique. Mengacu pada Social Learning Theory dari psikolog Albert Bandura, manusia cenderung tertarik untuk mempelajari dan mengadopsi perilaku baru melalui proses observasi dan pemodelan (modeling). Dalam fenomena ini, CoC berhasil menciptakan positive peer pressure ataupun mengubah Fear of Missing Out (FOMO) yang biasanya dalam lingkup negatif menjadi positif dalam hal mengejar ketertinggalan akademik dan meningkatkan kapasitas diri.

Selain memicu semangat belajar, keterlibatan mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di universitas luar negeri ternama dalam ajang CoC memberi perspektif baru bagi mahasiswa dalam negeri. Persaingan yang ketat namun suportif antara mahasiswa PTN/PTS lokal dengan mereka yang berkuliah di institusi berperingkat teratas dunia (seperti yang dicatat dalam QS World University Rankings) menjadi bukti nyata bahwa potensi anak bangsa tidak kalah saing. Fenomena ini perlahan mengikis rasa minder (insecure) yang kerap membayangi mahasiswa Indonesia. Dikutip dari berbagai diskursus ketenagakerjaan dan pendidikan tinggi, paparan terhadap standar kompetensi global ini membuka mata mahasiswa bahwa dunia pascakampus menuntut adanya daya saing, kemampuan analisis kritis, dan ketahanan mental yang tinggi. CoC bukan semata-mata memberikan hiburan edukatif saja, melainkan memperlihatkan gambaran riil tentang bagaimana cara berpikir terbaik dapat terbentuk.

Namun, di balik series inspiratif ini, ada aspek-aspek yang perlu kita cermati secara kritis. Keinginan untuk menjadi seseorang yang tampil dengan kecerdasan dan paras yang sempurna seperti para peserta CoC sangat berisiko memicu jebakan produktivitas yang tidak baik (toxic productivity) jika tidak disikapi dengan bijak. Sebab, keinginan berlebihan untuk terus memaksakan diri belajar tanpa batas sering kali berujung pada academic burnout, yaitu sebuah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan akademis yang berkepanjangan.

Menurut berbagai studi psikologi pendidikan, perbandingan diri (social comparison) yang berlebihan dapat meningkatkan tingkat kecemasan dan menurunkan rasa percaya diri mahasiswa. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menyadari bahwa inspirasi seharusnya berfungsi sebagai bahan bakar motivasi, bukan beban ekspektasi. Pada dasarnya, setiap mahasiswa memiliki garis awal yang berbeda. Maka, sudah seharusnya kita menghargai proses yang dilalui serta tetap menjaga kesehatan mental di tengah ambisi menjadi sosok yang sempurna, khususnya dari segi pencapaian akademis orang lain.

Pada akhirnya, Clash of Champions telah sukses menjalankan perannya sebagai pemantik perubahan dalam merumuskan panggung prestasi anak muda Indonesia. Namun, keberlanjutan dari gelombang positif ini sepenuhnya berada di tangan kita sendiri. Setelah berakhirnya tren musiman CoC, apakah kita tetap teguh pada pendirian untuk menjadi sosok yang inspiratif atau malah kehilangan ambisi karena tidak sesuai dengan ekspektasi? Sebab keputusan terakhir berada pada diri kita untuk menetap atau justru pergi. Mari jadikan inspirasi ini sebagai pijakan untuk mengasah kapasitas diri, bukan hanya agar terlihat cerdas di panggung kompetisi, melainkan agar kecerdasan dan ilmu yang kita miliki mampu memberi dampak riil bagi kemajuan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Penulis bernama Neni Raina Mawaddah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Husniyyati