Beranda Opini Ketika Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Dibayar Tanpa Kepastian

Ketika Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Dibayar Tanpa Kepastian

BERBAGI
Ilustrasi. (Dok. Istimewa)

Opini | DETaK

Guru sering disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari berdiri di depan kelas, mengajar, membimbing, dan menanamkan nilai-nilai kepada generasi muda. Mereka bukan hanya mengajarkan pelajaran seperti matematika atau bahasa, tetapi juga mengajarkan disiplin, tanggung jawab, dan cara bersikap dalam kehidupan. Namun, di balik peran besar itu, ada satu kenyataan yang sering luput dari perhatian, yaitu kondisi guru honorer yang dibayar tanpa kepastian. Guru honorer adalah guru yang belum berstatus pegawai tetap. Mereka bekerja di sekolah negeri maupun swasta dengan tanggung jawab yang sama seperti guru tetap. Mereka membuat rencana pembelajaran, mengajar di kelas, memeriksa tugas, bahkan ikut dalam kegiatan sekolah. Dalam banyak kasus, jam kerja mereka tidak jauh berbeda dengan guru yang sudah berstatus aparatur sipil negara. Namun, yang membedakan adalah soal gaji dan jaminan kesejahteraan.

Tidak sedikit guru honorer yang menerima gaji jauh di bawah upah minimum. Bahkan, ada yang hanya menerima ratusan ribu rupiah setiap bulan. Lebih menyedihkan lagi, gaji tersebut kadang tidak dibayarkan tepat waktu. Ada yang harus menunggu satu hingga tiga bulan untuk menerima upah. Situasi ini tentu sangat memberatkan. Guru honorer juga memiliki kebutuhan hidup seperti membayar sewa rumah, membeli kebutuhan sehari-hari, dan membantu keluarga.

Iklan Souvenir DETaK

Ketika gaji tidak pasti, kehidupan mereka pun menjadi tidak pasti. Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam sistem pendidikan. Di satu sisi, negara berharap pendidikan terus berkembang dan menghasilkan generasi yang cerdas dan berkualitas. Di sisi lain, masih ada tenaga pendidik yang belum mendapatkan hak secara layak. Bagaimana mungkin pendidikan bisa berjalan maksimal jika para gurunya hidup dalam tekanan ekonomi? Ketidakpastian penghasilan dapat memengaruhi semangat dan fokus dalam bekerja, meskipun banyak guru honorer tetap berusaha profesional.

Sering kali kita mendengar cerita guru honorer yang harus mencari pekerjaan sampingan. Ada yang berjualan kecil-kecilan, menjadi ojek online, atau bekerja paruh waktu di tempat lain setelah jam sekolah selesai. Mereka melakukan itu bukan karena tidak mencintai profesinya, tetapi karena kebutuhan hidup memaksa. Kondisi ini tentu melelahkan secara fisik dan mental. Setelah seharian mengajar, mereka masih harus memikirkan cara menambah penghasilan. Masalah gaji guru honorer bukan sekadar soal angka. Ini adalah soal penghargaan dan keadilan. Jika kita benar-benar
menganggap guru sebagai pahlawan, maka sudah seharusnya mereka diperlakukan dengan hormat dan diberi kesejahteraan yang layak. Penghargaan tidak hanya berupa kata-kata atau pujian saat Hari Guru, tetapi juga melalui kebijakan yang nyata dan berpihak.

Selain itu, ketidakpastian status juga menjadi beban tersendiri. Banyak guru honorer yang telah mengabdi bertahun-tahun tanpa kejelasan pengangkatan menjadi pegawai tetap. Mereka tetap setia mengajar meskipun peluang untuk mendapatkan status yang lebih baik tidak selalu jelas. Dalam kondisi seperti ini, kesabaran dan keteguhan hati mereka patut dihargai.

Pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi suatu bangsa. Masa depan negara sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan hari ini. Jika guru sebagai ujung tombak pendidikan tidak mendapatkan perhatian yang cukup, maka dampaknya bisa terasa dalam jangka panjang. Anak-anak didik mungkin tetap belajar, tetapi kualitas pembelajaran bisa terpengaruh jika guru merasa tidak dihargai. Namun, di tengah segala keterbatasan, banyak guru honorer yang tetap menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka tetap hadir tepat waktu, tetap mengajar dengan penuh semangat, dan
tetap peduli pada perkembangan siswa. Hal ini menunjukkan bahwa bagi mereka, mengajar bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan hati. Justru karena itulah, kondisi mereka tidak boleh diabaikan.

Pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk memperbaiki kesejahteraan guru, seperti membuka seleksi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja. Namun, proses tersebut masih belum mampu menjangkau semua guru honorer. Masih banyak yang belum mendapatkan kesempatan atau belum lolos seleksi. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih merata dan berkelanjutan.

Sekolah dan masyarakat juga memiliki peran penting. Dukungan moral, perhatian, dan kepedulian terhadap kondisi guru honorer dapat menjadi bentuk penghargaan sederhana. Masyarakat perlu memahami bahwa di balik proses belajar mengajar yang terlihat biasa, ada perjuangan besar yang tidak selalu terlihat. Ini bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan untuk mengajak semua pihak berpikir bersama. Guru honorer bukanlah tenaga cadangan yang bisa diperlakukan seadanya. Mereka adalah bagian penting dari sistem pendidikan. Tanpa mereka, banyak sekolah akan kekurangan tenaga pengajar.

Artinya, keberadaan mereka sangat dibutuhkan. Sudah saatnya kita berhenti menganggap pengabdian sebagai alasan untuk membayar rendah. Pengabdian memang mulia, tetapi kebutuhan hidup tetap nyata. Guru honorer berhak atas kehidupan yang layak seperti profesi lainnya. Memberikan gaji yang pasti dan sesuai bukan hanya soal anggaran, tetapi soal komitmen terhadap masa depan bangsa.

Ketika pahlawan tanpa tanda jasa dibayar tanpa kepastian, yang dipertaruhkan bukan hanya kesejahteraan individu, tetapi juga kualitas pendidikan secara keseluruhan. Jika kita ingin melihat generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing, maka kita harus mulai dari memperhatikan mereka yang mendidik generasi tersebut. Menghargai guru honorer berarti menghargai proses panjang pembentukan masa depan. Sudah seharusnya pengabdian mereka dibalas dengan kepastian dan keadilan. Pendidikan yang kuat tidak mungkin berdiri di atas kesejahteraan yang rapuh. Jika
guru sejahtera, maka mereka dapat mengajar dengan lebih tenang dan fokus. Pada akhirnya, yang akan merasakan manfaatnya adalah seluruh masyarakat.

Penulis bernama Annisa Salsabilla Musran, Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Naisya Alina