Opini | DETaK
Pernahkah kita merasa sudah memahami politik hanya karena sering melihatnya di media sosial? Pernahkah kita berdebat di kolom komentar tanpa benar-benar memastikan kebenaran informasi yang kita pegang? Gen Z disebut sebagai generasi paling kritis, tapi apakah itu benar? atau jangan-jangan, kita hanya terlihat kritis, padahal sebenarnya sedang dikendalikan oleh algoritma?
Politik dan Gen Z. Dua hal yang jika digabungkan, seringkali menimbulkan perdebatan. Ada yang bilang generasi ini apatis, tidak peduli, terlalu sibuk dengan gawai mereka, lebih tertarik mengikuti tren dibanding memahami realitas politik. Ada juga yang berpendapat sebaliknya, Gen Z justru generasi paling kritis, paling vokal, paling berani bersuara. Tapi mari jujur, apakah mereka benar-benar kritis atau hanya terlihat kritis?

Banyak orang mendapatkan informasi politik tanpa membaca berita dari media kredibel, tidak mencari informasi mendalam, dan tidak menguji kebenaran. Sebaliknya, mereka bergantung pada TikTok, percaya begitu saja pada video berdurasi 30 detik, lalu merasa cukup paham untuk berdebat di kolom komentar.
Maka, mari kita bahas dengan lebih jujur. Gen Z ini kritis atau hanya terjebak dalam ilusi kritis?
Media Sosial: Jendela Informasi atau Kotak Kepalsuan?
Tidak ada yang meragukan bahwa Gen Z adalah generasi paling melek teknologi. Mereka lahir di era digital, tumbuh dengan internet, hidup dalam ekosistem media sosial. Informasi ada di ujung jari mereka, lebih cepat, lebih banyak, lebih beragam dibanding generasi sebelumnya. Tapi masalahnya, terlalu banyak informasi juga bisa berarti terlalu banyak kebingungan.
Coba perhatikan bagaimana Gen Z mengonsumsi berita, mereka tidak membaca koran, jarang menonton siaran berita, dan hampir tidak pernah duduk diam menyimak diskusi panjang. Sumber utama mereka? TikTok, X, dan Instagram. Tidak salah, tapi ada bahaya besar di baliknya. Algoritma media sosial bekerja bukan untuk memberi informasi paling akurat, melainkan yang paling menarik, paling sensasional, dan yang paling banyak memancing reaksi.
Sebuah penelitian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa misinformasi politik di Indonesia meningkat tajam menjelang Pemilu. Lebih mengkhawatirkan lagi, 60% anak muda mengaku mendapatkan informasi politik mereka dari media sosial tanpa memverifikasi kebenarannya. Mereka percaya begitu saja karena kontennya viral, karena banyak yang like dan share, bukan karena itu fakta. Lebih buruk lagi, media sosial menciptakan apa yang disebut sebagai echo chamber—ruang gema yang hanya memperkuat apa yang ingin kita percaya. Jika algoritma tahu kita cenderung menyukai satu pandangan politik tertentu, ia akan terus memberi kita konten yang mendukung pandangan itu. Hasilnya? Kita terjebak dalam realitas yang sudah dikurasi oleh mesin, tanpa pernah benar-benar melihat sisi lain.
Maka pertanyaannya: apakah Gen Z benar-benar kritis atau hanya mengulangi apa yang diberikan algoritma?
Fenomena ini berbahaya, karena politik bukan sekadar tentang emosi, tetapi juga tentang pemahaman. Jika kita hanya mengikuti apa yang viral, kita bukan sedang berpikir kritis—kita sedang membiarkan diri kita dikendalikan oleh tren.
Mudah percaya juga berarti malas mencari informasi yang lebih akurat. Ketika ada hoaks yang tersebar, seberapa banyak dari kita yang benar-benar mengecek kebenarannya? Berapa banyak dari kita yang bersedia membaca artikel panjang dari sumber yang kredibel, bukan hanya sekadar scroll TikTok dan merasa cukup tahu?
Jika kritis berarti selalu bertanya, selalu mencari, selalu menggali lebih dalam, maka banyak dari kita belum benar-benar kritis. Kita hanya terlihat kritis, tapi sebenarnya sedang menjadi korban dari informasi yang kita sendiri tidak pahami.
Apatisme yang Terselubung
Banyak yang berargumen bahwa Gen Z adalah generasi yang paling peduli terhadap isu-isu sosial dan politik. Mereka turun ke jalan, menggelar petisi online, mengkritik kebijakan, membuat kampanye digital. Tapi mari kita lihat lebih dekat. Apakah semua ini benar-benar lahir dari kepedulian, atau hanya sekadar ikut-ikutan?
Saat ini, ada banyak orang disekitar kita yang ikut menyuarakan suatu isu hanya karena sedang viral, hanya karena ada selebritas atau influencer yang membahasnya. Tapi ketika tren itu lewat, mereka pun ikut menghilang.
Ini bukan sekadar masalah partisipasi, tapi masalah komitmen. Peduli terhadap politik bukan hanya saat ada isu yang sedang hangat, bukan hanya saat ada yang menarik di FYP kita. Politik adalah tentang pemahaman yang berkelanjutan, bukan reaksi sesaat.
Lalu ada mereka yang benar-benar apatis. Yang merasa politik itu kotor, penuh kebohongan, tidak ada gunanya. Yang berpikir bahwa suara mereka tidak akan mengubah apa pun, jadi lebih baik diam. Ini juga berbahaya. Karena semakin banyak yang berpikir seperti ini, semakin mudah bagi mereka yang tidak kompeten untuk berkuasa.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kalau kita ingin benar-benar kritis, maka ada beberapa hal yang harus kita ubah dalam cara kita berpolitik.
- Jangan malas mencari informasi. Jangan hanya percaya pada satu sumber. Baca dari berbagai perspektif. Jangan biarkan diri kita hanya menerima apa yang ingin kita dengar.
- Verifikasi sebelum percaya. Jangan hanya karena sesuatu viral, kita langsung menganggapnya benar. Cek faktanya, cek sumbernya, cek konteksnya.
- Berpolitik dengan pemahaman, bukan hanya dengan emosi. Politik bukan hanya soal siapa yang paling lantang berbicara, tapi siapa yang benar-benar memahami apa yang dibicarakan.
- Jangan hanya ikut-ikutan. Jika ingin peduli, maka pedulilah secara konsisten. Jangan hanya saat tren, jangan hanya saat ramai. Politik bukan sekadar tren sesaat.
- Gunakan media sosial dengan bijak.
Jangan biarkan algoritma mengendalikan cara kita berpikir. Jangan hanya konsumsi, tapi juga analisis.
Kesimpulan: Kita Mau Jadi Generasi yang Seperti Apa?
Gen Z punya potensi besar. Mereka punya akses ke informasi, mereka punya suara yang bisa mengubah banyak hal. Tapi semua itu tidak akan berarti apa-apa kalau mereka hanya sekadar menjadi penonton dalam politik, atau lebih parah lagi—menjadi korban dari informasi yang tidak mereka pahami.
Maka, pilihannya ada di tangan kita. Apakah kita mau benar-benar menjadi generasi yang kritis, atau hanya generasi yang terlihat kritis?
Apakah kita mau benar-benar memahami politik, atau hanya ikut arus informasi tanpa berpikir lebih dalam?
Karena pada akhirnya, demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin. Demokrasi adalah soal bagaimana kita berpikir. Jika kita malas berpikir, jangan heran jika kita terus-menerus dipermainkan oleh mereka yang lebih paham cara mengendalikan opini publik.
Penulis bernama Shafna, mahasiswi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.
Editor : Khalisha Munabirah






![[DETaR] Tips Olahraga di Bulan Puasa Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-15-at-15.23.21-100x75.jpeg)
![[DETaR] Ramadan dan Tantangan Menjaga Hidrasi Tubuh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi_Ramadhan-dan-Tantangan-Menjaga-Hidrasi-Tubuh-100x75.png)


