
Marsa Nurmalisari & Maisara Naila | DETaK
Banda Aceh – Vihara Dharma Bhakti bercat putih dengan ornamen dua naga emas dikombinasikan warna merah yang apik menjadi ciri khas yang melekat pada warga Tionghoa. Berdiri kokoh di antara pertokoan dan hiruk-pikuknya perkotaan, tepatnya di Peunayong. Kokohnya bangunan ini menjadi saksi bisu akan perjalanan rentetan sejarah yang tertoreh sejak tahun 1878. Ditemani hangatnya sinar matahari, saya berkesempatan mendatangi langsung di lokasi vihara ini yang juga bertepatan pada peringatan Imlek.
Sesampainya di depan vihara bernuansa merah emas terlihat orang-orang dengan pakaian biasa atau ada juga dengan pakaian merah dengan ukiran naga yang indah masuk untuk beribadat dengan khidmat dan saling bertemu ramah sesama. Birunya langit yang menandakan betapa teriknya matahari tidak menghilangkan khidmat mereka untuk beribadah serta tetap menerapkan protokol kesehatan serta penjagaan oleh beberapa pihak kepolisian.

Dari kejauhan, asap membumbung serta bau khas tercium yang berasal dari dupa yang dibakar. Dupa disebut juga sebagai hio yang dipakai oleh masyarakat Tionghoa dalam ritual ibadah. Hio memiliki arti harum dan sesuai dengan namanya, hio akan mengeluarkan wangi yang khas ketika dibakar. Hio terbuat dari campuran serbuk kayu, lem khusus, pewangi, dan pewarna. Jumlah hio yang dibakar bervariasi tergantung kepercayaan masing-masing individu.
Pada bagian dalam ruang juga terdapat jeruk mandarin sebagai salah satu sajian khas dan wajib saat perayaan Imlek yang ternyata memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Tionghoa. Jeruk dalam bahasa mandarin adalah, “chi zhe“. Chi artinya rezeki, zhe artinya buah. Secara tidak langsung, jeruk memiliki arti buah pembawa rezeki. Dalam kepercayaan Tionghoa, warna oranye pada buah jeruk dianggap sebagai lambang emas yang berkonotasi pada uang. Maka dari itu, masyarakat Tionghoa mengartikan jeruk mandarin sebagai simbol keberuntungan, dan kemakmuran.
Penjual burung di depan vihara juga menunggu burungnya untuk dibeli. Seorang warga Tionghoa membeli burung itu dan melepaskannya dengan perlahan. Melepaskan burung pipit ini merupakan tradisi saat Imlek yang memiliki makna tersendiri baik dari segi keberkahan, panjang umur, dan hal-hal baik lainnya.
Selain dari Vihara Peunayong tersebut, kami juga berkempatan mewawancari mahasiswa Tionghoa USK. Putri Susanty, remaja Tionghoa asli Aceh yang merayakan Imlek dan berbagi kegiatannya pada saat Imlek dan beberapa hari sebelum Imlek.
“Biasanya ke tempat ibadah sesuai agama, terus siapin kue di rumah bagi yang open house dan kasih angpao. Dan pas sebelum Imleknya ada yang namanya makan besar atau sik thai chon sama keluarga. Pas hari H Imlek ya ke rumah saudara, bagi yang belum nikah bakalan dapat angpao dan yang kasih angpao harus yang udah nikah,” jelasnya.
Sebagai seseorang yang tumbuh dan besar di Aceh, Putri menyebutkan bahwa tidak ada bedanya Imlek di Aceh atau di luar Aceh, hanya jumlah yang merayakan saja yang beda.
“Aku asli Banda, engga ada beda sih, aku pernah juga Imlek di Medan dan sama aja vibes-nya cuma udah pasti lebih rame orang-orang yang rayain Imlek di Medan,” ungkapnya
Pembicaraan pun kian mengalir hingga timbul secercak rasa penasaran kami mengenai tingkat tolenrasi orang-orang di sekitarnya. Ketika disinggung mengenai sedikit pengalaman kurang menyenangkan terkait permasalahan toleransi di lingkungan sekitarnya ia mengungkapkan pernah mendapatkan perlakuan tak enak dari anak-anak kecil.
“Kurang sih ya kalau dilihat dari keseluruhan bukan dari lingkungan aku aja. Karena dari anak kecil aja mereka sudah meng-judge orang, contohnya aku pernah nih pergi ke suatu tempat kan nah ada anak-anak dan mereka bilang ke aku kayak ‘woy mana jilbab mana jilbab gitu’. Seorang anak kecil loh. Dan pernah lagi waktu itu di USK waktu ikut dia pengurus ntah dosen ntah siapa lah intinya punya peran di USK tuh nah dia kek bilang gini ke aku, ‘nanti ikut teman-temannya ya pindah Islam” ungkap Putri.
Putri menambahkan ia juga sering mendapatkan perilaku intoleran dari pemuda yang kerap kali mengejek dengan menggunakan logat Cinanya.
“Aku gak mempermasalahkan agama Islam-nya tapi dengan cara dia ngomong kayak gak ada etikanya dan di sini tuh sering anak mudanya ngejek gitu. Chinese kan ada logatnya, nah banyak tuh anak-anak muda yang sering ngejek dengan logat kami tuh bahkan ke orang tua yang Chinese juga digituin. Tapi untuk lingkungan sekitar aku kayak teman kampus, kakak abang sepupu aku yang mereka Muslim, mereka tuh welcome banget gak nge-judge atau gimana tapi berbagi pengetahuan,” tuturnya.
Dengan mencermati dan sedikit mengulik cerita dalam momentum Imlek ini, semoga dapat kian meningkatkan toleransi dengan saling menghormati dan yang terpenting tidak melakukan tindakan-tindakan atau ucapan-ucapan yang menyudutkan pihak tertentu. Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan semboyan bangsa kita yang seharusnya tidak secara lisan saja kita gaungkan tetapi tanamkan dalam pola pikir kita yang diwujudkan melalui perilaku yang kita lahirkan. Karena sekali lagi apapun kepercayaan yang kita anut, bukankah semuanya membawa manusia pada ajaran kebajikan, lantas mengapa masih mencuat rasa menghakimi bagi mereka yang minoritas?[]
Editor: Indah Latifa





![[DETaR] Tips Olahraga di Bulan Puasa Agar Tubuh Tetap Sehat dan Bugar](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/WhatsApp-Image-2026-03-15-at-15.23.21-100x75.jpeg)
![[DETaR] Ramadan dan Tantangan Menjaga Hidrasi Tubuh](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/03/Ilustrasi_Ramadhan-dan-Tantangan-Menjaga-Hidrasi-Tubuh-100x75.png)


