Beranda Artikel Ubah Kebiasaan Fomo Jadi Jomo

Ubah Kebiasaan Fomo Jadi Jomo

BERBAGI
Ilustrasi gejala FOMO, tak mau ketinggalan update status. (Nur Aida Rossa/DETaK)

Artikel | DETaK

Akhir-akhir ini istilah FOMO atau Fear of Missing Out semakin familiar karena sejak pandemi melanda, kita menggunakan teknologi agar selalu terhubung. Tidak bisa dipungkiri, arus globalisasi membuat milyaran informasi terus muncul dan bisa diakses dengan mudah dan cepat. Aliran informasi yang cepat pun membuat tren baru muncul tiap hari, bahkan detiknya.

Fear of Missing Out adalah ketakutan ketertinggalan. Przybylsi di jurnalnya yang berjudul “Motivational, Emotional, and Behavior Correlates of Fear of Missing Out” menyatakan bahwa FOMO adalah fenomena dalam dunia psikologi, di mana banyak orang memiliki gejala terobsesi pada hal khusus yang sedang dan sering terjadi. FOMO juga sebuah proses perubahan emosi yang mengarah pada eksploitasi dan pemanfaatan media sosial dan gawai secara berlebihan. Intinya, banyak orang yang berlomba-lomba untuk mengikuti tren tertentu sehingga tak sadar menjadi terobsesi agar bisa diterima dalam suatu kelompok atau takut dikucilkan karena berbeda.

Iklan Souvenir DETaK

Beberapa contoh gejala FOMO, yaitu cepat marah, cemas dan punya perasaan tidak mampu. Perasaan ini akan cenderung memburuk saat seseorang mengakses media sosial. Kebiasaan must do dan must have dapat membuat seseorang membeli produk yang lebih baik bahkan lebih mahal dari teman mereka agar tidak kehilangan kesempatan untuk “menyesuaikan diri”. Orang-orang senang menjadi “yang tahu”. Walaupun demi mengejar pengakuan itu, harus melakukan banyak hal, terkadang sampai berlebihan, orang-orang terus mencoba menyerap informasi sebanyak mungkin.

Terlalu sering melihat story teman, terkadang membuat kita ingin merasakan apa yang teman kita rasakan juga. Akses ke media sosial terus menerus dapat membuat orang merasa lebih buruk karena tidak mengikuti apa yang dikatakan, dilakukan bahkan dibeli orang lain. FOMO bisa menyebabkan masalah psikologis dan kesehatan parah seperti stres, kecemasan, depresi, kurang tidur serta demotivasi akademik, penggunaan ponsel bermasalah, dan penggunaan media sosial yang bermasalah.

Lalu apa solusinya??? Tinggalkan FOMO jalani JOMO. Jangan takut jika tidak mengikuti tren tertentu karena sebenarnya hal tersebut bukanlah suatu keharusan. Temukan kebahagiaan versi dirimu. Munculkan perasaan senang karena tidak mengikuti tren, inilah yang dikatakan Joy of Missing Out. Seorang yang JOMO biasanya tidak memiliki keinginan untuk diakui. Beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk meninggalkan FOMO:

  • Jadilah Pengguna Media Sosial yang Pintar
    Tak ada yang bisa mengontrol apa yang kamu gunakan selain diri sendiri. Karena itu, pakainya sesuai kebutuhan aja yaa.
  • Batasi Waktu Mengakses Media Sosial
  • Matikan Notifikasi
    Beberapa orang saat melihat notif muncul, langsung segera mengecek gawainya. Cobalah menon-aktifkannya, kecuali notifikasi penting.
  • Hargai Waktu
    Buatlah jadwal dan prioritas yang penting dilakukan.
  • Tentukan Prioritas Hidup
    Coba buatlah daftar impian dan prioritas hidup yang mau kamu capai. Teruslah fokus dan komitmen. Dengan ini, kamu tidak akan mudah merasa iri karena sudah memiliki tujuan yang jelas.
  • Bersyukur
    Tren akan selalu berubah dari masa ke masa. Kalau mau bahagia harus dengan standar sendiri, tidak perlu selalu mengikuti tren. Bersyukur dengan yang dimiliki saat ini dan kamu akan merasa puas.
  • Rencanakan Keuangan
    Biar ga terbawa arus tren membeli sesuatu, pisahkan uang yang mau dikeluarkan dan uang yang akan disimpan. Dengan ini, semua akan lebih tertata.
  • Me Time!
    Saat terfokus dengan yang dikatakan di media sosial, jendela hidup jadi terbatas karena segalanya diatur oleh standar orang lain. Kita lupa apa yang sebenarnya kita inginkan dan melakukan hal lain yang tidak membuat kita bahagia.

Mau tidak mau, kita memang harus mengikuti perkembangan teknologi saat ini. Tetap ikuti tapi usahakan tidak hilang kendali. Jangan lupa, dukungan untuk diri sendiri secara langsung juga penting lho![]

Sumber:
-Santoso, I. H., Widyasari, S., & Soliha, E. (2019). Fomsumerism: Mengembangkan Perilaku Conformity Consumption Dengan Memanfaatkan Fear of Missing Out Konsumen. Jurnal Ilmiah Bisnis dan Ekonomi Asia. 15(2): 159-171.
-Hayran, C., & Anik, L. (2021). Well-Being and Fear of Missing Out (FOMO) on Digital Content in the Time of COVID-19: A Correlational Analysis among University Students. International Journal of Environmental Public Health. 18(4): 113.
-Salidah, Fithriyah. 2021. “Bingung Cara Mengatasi FOMO? Berikut 5 Solusi yang Pas Buat Kamu” diakses dari https://pemimpin.id/bingung-cara-mengatasi-fomo-berikut-5-solusi-yang-pas-buat-kamu/.

Penulis bernama Nur Aida Rossa, mahasiswi Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Syiah Kuala angkatan 2020. Ia juga merupakan anggota UKM Pers DETaK.

Editor: Sahida Purnama