Beranda Artikel Self Healing : Berdamai dengan Diri pada Makna yang Sebenarnya

Self Healing : Berdamai dengan Diri pada Makna yang Sebenarnya

BERBAGI
(Sumber: www.pexels.com)

Artikel | DETaK

Selama ini, kita sering kali hanya diajarkan bagaimana cara agar mampu menyelesaikan sebuah masalah yang ada atau yang tampak. Akan tetapi, kita jarang atau bahkan tidak pernah diajarkan bagaimana cara untuk menyelesaikan hal-hal yang melukai diri kita secara tidak langsung. Sedikit demi sedikit hal yang secara tidak langsung melukai kita itu kemudian menumpuk sehingga menjadi luka yang tak terlihat, yaitu luka batin.

Luka masih sering dipersepsikan sebagai hal yang hanya terlihat secara fisik, misalnya: luka akibat tergores benda tajam, terjatuh, atau bahkan terpeleset. Lalu, luka tersebut harus segera diobati dengan obat merah, minyak gosok, atau langsung pergi ke tenaga medis jika sudah sangat parah.

Iklan Souvenir DETaK

Lantas bagaimana dengan luka batin? Mendengarnya saja terkadang membuat kita secara tidak langsung memancing kembali memori sedih, pahit, hingga traumatis yang pernah dirasakan. Memori tersebut membuat kita memilih untuk mencoba melupakan atau menahan perasaan negatif yang mencoba muncul, sehingga kita enggan untuk membicarakan serta memproses perasaan tersebut. Padahal, melupakan atau menahan perasaan negatif itu tidak membuat hidup kita menjadi lebih baik. Luka yang sebelumnya pernah terjadi tidak benar-benar terlupakan dan perasaan negatif tersebut tidak benar-benar menghilang. Tanpa dapat disadari, luka batin tersebut akan terus tersimpan rapi di alam bawah sadar kita.

Ada beberapa hal yang menandakan luka batin masih tersimpan di dalam diri. Pertama, adanya reaksi tubuh yang tidak biasa terhadap beberapa peristiwa. Contohnya seperti keringat dingin, jantung berdetak lebih kencang, atau bahkan pandangan kabur seketika. Kedua, saat diri terus menerus terjebak dalam sebuah situasi yang menahan kita untuk melangkah lebih maju.

Hidup tidak akan pernah terbebas dari luka, meskipun kita mencoba untuk menjaga diri atau menghindari luka. Oleh karena itu, hidup bukan hanya tentang bagaimana menghindari luka. Akan tetapi, bagaimana caranya kita dapat mengobati setiap luka yang pernah menggores diri kita secara psikis. Terlebih, masih banyak dari kita yang mengabaikan luka psikis dibandingkan luka fisik.

Self healing adalah kata yang sering kali menjadi perbincangan dalam beberapa tahun kebelakang. Namun, maknanya masih sering disalah artikan sebagai berlibur ke suatu tempat atau staycation untuk meredakan stres dan kelelahan fisik yang sedang dirasakan. Makna sebenarnya dari self healing menjadi rancu karena terlalu sering digunakan di media sosial, namun dalam situasi atau kondisi yang tidak tepat.

Lantas bagaimana makna self healing yang sebenarnya?

Self healing adalah sebuah proses penyembuhan dan pemulihan diri dari luka batin yang melibatkan kekuatan diri dengan penuh untuk mendapatkan kepribadian yang utuh. Ketika seseorang sudah mampu menerima kekurangan dan luka yang di rasakan oleh diri dan kemudian dapat melibatkan kelebihan yang dimiliki, itu adalah makna kepribadian yang utuh. Dengan begitu self healing adalah perjalanan untuk keluar dari penderitaan yang dimiliki oleh seseorang.

Proses self healing adalah perjalanan seumur hidup, yang artinya tidak ada waktu tertentu untuk menyebutkan bahwa seseorang telah pulih dari luka sepenuhnya. Apabila diri merasa sudah pulih dengan satu urusan, maka bisa saja muncul urusan lain yang membuat diri kembali merasa tidak nyaman. Begitulah sebuah kehidupan berjalan, masalah datang silih berganti. Dengan begitu, self healing bukan proses yang hanya perlu sekali dilakukan kemudian selesai jika kita sudah dapat melewatinya, tetapi akan terus kita alami selama diri masih hidup.

Dengan self healing kita bisa menjadi pribadi dengan emosi yang stabil. Kita tidak akan terjebak dengan emosi yang sama sehingga menghambat diri untuk bisa berkembang. Self healing juga dapat membuat kita mengizinkan diri untuk layak di cintai oleh orang lain. Kemudian, kita dapat merasakan kedamaian dalam menjalani kehidupan meskipun luka batin pernah hadir dalam kehidupan kita.

Perjalanan dalam proses penyembuhan ini membawa kita pada perasaan sadar akan diri terhadap berbagai macam potensi kita untuk pulih dari luka batin yang pernah terjadi. Setiap perjalanan self healing selalu berbeda bagi setiap orang yang menjalaninya. Self healing adalah sarana kita untuk menyapa kembali luka batin yang pernah menggores batin kita.

Kemudian, dalam proses ini kita harus mencoba untuk menerima hingga diri mengatakan, “Sampai di sini saja ya luka batinku, maafkan aku karena sudah mengabaikanmu selama ini. Terima kasih karena pernah hadir dan memberikanku banyak pelajaran dalam hidup dan memberikan banyak kebijaksanaan. Sekarang aku menerimamu sebagai bagian dari pembelajaran hidup. Aku melepaskanmu sebagai tanda bahwa aku sudah memaafkan dan menerimamu sebagai bagian dari hidupku.”

Self healing adalah perjalanan untuk bisa pulih dari luka batin yang pernah dirasakan oleh diri dengan melibatkan kekuatan diri untuk bisa melepaskannya. Terdapat beberapa tahapan dalam proses self healing, yaitu:

1. Menerima dan menghargai kehadiran luka batin

Sebelum melalui proses self healing kita perlu untuk menanyakan kembali pada diri apa hal yang secara berulang membuat diri tidak nyaman, adakah peristiwa yang terus mengganggu kita? Atau adakah perasaan yang membuat diri enggan untuk berkembang? Jika ada, maka bisa jadi luka batin yang menggores kita dulu masih belum selesai.
Menyadari dan mengenali luka yang pernah hinggap pada batin adalah proses dalam melakukan penyembuhan pada diri. Mencoba merasakan dan mengingat dengan intens luka tersebut membuat diri lebih mudah menyelesaikan proses penyembuhan, agar diri mengetahui tindakan seperti apa yang tepat untuk bisa mengobatinya.

2. Menyadari dan mengenali kehadiran luka batin

Belajar untuk tidak menyalahkan dari mana luka itu berasal adalah kunci dari kita untuk bisa menerima luka batin yang pernah di rasakan. Bisa saja luka yang kita rasakan berasal dari lingkungan terdekat kita yaitu keluarga. Akan tetapi, kita harus belajar untuk menghargai kalau setiap luka yang hadir adalah pembelajaran dalam kehidupan.

Usaha yang kita lakukan untuk dapat menerima dan menghargai inilah yang kemudian termanifestasi dalam bentuk penerimaan yang sesungguhnya. Menerima berarti kita dapat memproses seluruh luka batin yang dirasakan, kemudian diri kita bisa lebih mudah menetralkan luka tersebut.

Penulis adalah Putri Naya Cahya. Mahasiswi jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Fayza Ramulan