Beranda Artikel Masjid Tuo Pulo Kambing, Bangunan Cagar Budaya Aceh Selatan

[Kilasan] Masjid Tuo Pulo Kambing, Bangunan Cagar Budaya Aceh Selatan

BERBAGI
Ist. (Sumber: Google)

Della Novia Sandra | DETaK

Aceh Selatan-
Aceh Selatan merupakan salah satu kabupaten tertua di Provinsi Aceh. Bukan hanya terkenal dengan cerita legendanya, namun juga kaya akan peninggalan sejarah yang sangat berharga. Salah satu masjid kuno tertua yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan ialah Masjid Nurul Huda atau yang lebih dikenal dengan Masjid Tuo Pulo Kambing yang terletak di Gampong Pulo Kambing, Kecamatan Kluet Utara, atau sekitar 36 kilometer dari Tapaktuan, Ibu Kota Aceh Selatan.

Ada dua versi tentang sejarah berdirinya masjid ini, versi pertama Masjid Pulo Kambing didirikan pertama kali pada masa kerajaan Teuku Kejruen Amansyah, pada tanggal 28 Ramadhan 1285 H/12 Januari 1869 M. Pembangunan tersebut melibatkan beberapa kampung yaitu Kampung Paya, Kampung Purut, Kampung Kluet, Kampung Krueng Batu, Kampung Ruwak, dan Kampung Tinggi.

Ada pun versi kedua, Masjid Pulo Kambing ini dibangun pada tahun 1351. Pendiri bangunan masjid ini adalah seorang ulama asal Persia bernama Syekh Muhammad Husen Al Fanjuri bin Muhammad Al Fajri Kautsar. Tiang pertama masjid ini, kayunya diangkut sendirian dari hutan dengan tangan kosong oleh salah seorang murid Syekh Muhammad Husen Al Fanjuri yang bernama Syech Mutawali Alfanshuri. Awal pembangunan masjid ini tanpa menggunakan paku. Sebagian besar masjid terbuat dari kayu. Jenis kayu yang dipakai adalah kayu reusak sejenis kayu besi atau kayu damar.

Masjid Pulo Kambing ini memiliki keunikan tersendiri, mulai dari kubah masjid yang berbentuk pagoda. Masjid ini memiliki empat soko guru seperti masjid-masjid tradisional Indonesia lain pada umumnya. Keempatnya memiliki diameter kurang lebih satu meter dengan ketinggian lebih kurang 15 meter. Soko guru ini dihiasi dengan ukiran kaligrafi yang menceritakan berbagai kisah-kisah sejarah kerajaan Islam Aceh.

Hal unik dari masjid ini, terdapat salah satu soko guru yang mengeluarkan air bening yang dingin sampai membasahi lantai masjid sejak masjid ini didirikan. Tetesan air dari soko guru tersebut dikumpulkan dan diambil oleh beberapa masyarakat sekitar masjid tersebut dan dijadikan sebagai obat. Menurut beberapa pengakuan masyarakat, air tetesan yang mengalir dari soko guru tersebut dapat mengobati berbagai macam penyakit. Namun, air yang keluar dari soko guru tersebut saat ini tidak sebanyak di masa lalu sejak bagian bawahnya disemen, dan bagian lantainya diubah menjadi keramik.

Masjid Tuo Pulo Kambing telah masuk daftar Cagar Budaya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan nomor penetapan PM 90/PW.007/MKP/2011 pada tanggal 17 Oktober 2011.

Referensi:
Pinem, Masmedia. 2013. Masjid Pulo Kameng Akulturasi dan Toleransi Masyarakat Aceh. Jurnal Analisa, 20(01) : 87-97.

#30HariKilasanSejarah

Iklan Souvenir DETaK

Editor: Indah Latifa