Beranda Artikel Kebiasaan Buruk di Masa Muda Mengundang Penyakit di Hari Tua

Kebiasaan Buruk di Masa Muda Mengundang Penyakit di Hari Tua

BERBAGI
Ilustrasi. Rahil Alya Fadhilah/(DETaK)

Artikel | DETaK

Fase kehidupan dimulai sejak seseorang lahir menjadi bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan tua. Di antara fase tersebut masa remaja menjadi fase paling menentukan bagi seorang individu. Pasalnya, di fase ini seseorang mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Pada masa inilah hidup manusia mengalami banyak perubahan (pancaroba) yaitu masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, tanpa batasan usia yang jelas. Di periode ini, kesehatan fisik mencapai titik optimal sehingga akan membentuk pola kesehatan di masa dewasa hingga tua. Dipandang dari sisi perspektif psikologi perkembangan, menyebutkan masa muda sering dianggap sebagai masa yang rentan.

Hal ini dikarenakan, di fase ini seseorang mengalami masa transisi atau peralihan dari masa kehidupan anak-anak menuju kedewasaan yang biasanya ditandai dengan adanya krisis kepribadian. Pada saat ini, rasa penasaran terhadap suatu hal tertentu, rasa ingin mencoba hal-hal baru semakin tinggi dialami. Sehingga tidak heran di usia muda banyak terjadi bentuk penyimpangan perilaku. Salah satunya seperti perkelahian, kejahatan seksual, pencurian, perampokan, penyamunan hingga perilaku begal. Dapat diartikan, kebiasaan merupakan bentuk tanggapan atau reaksi yang cenderung terjadi secara otomatis dengan dipicu oleh aspek konteks kerja, yang meliputi lingkungan dan tindakan terdahulu.

Iklan Souvenir DETaK

Dikaji dalam skala global, kesehatan menempati posisi penting untuk melangkah ke masa depan. Gambaran status kesehatan anak muda saat ini menentukan gambaran status kesehatan penduduk dewasa dalam dekade berikutnya. Pada dasarnya, masa muda adalah waktu emas untuk mengembangkan diri, mempersiapkan kesehatan, kemampuan dan kecerdasan. Namun, tidak bisa dipungkiri masih banyak anak muda yang menyia-nyiakan kesempatan ini, bahkan membiasakan hal yang tidak seharusnya dibiasakan. Seharusnya, kita semua memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh status kesehatan optimal. Faktanya, banyak orang yang mengabaikan peluang itu untuk dimanfaatkan.

Sesuatu dikatakan kebiasaan apabila sudah pernah dilakukan dan biasanya dilakukan secara berulang. Kebiasaan dapat berbentuk hal positif maupun negatif atau biasa dikenal dengan kebiasaan baik dan kebiasaan buruk. Perilaku yang dilakukan secara konsisten ini akan berpengaruh terhadap kehidupan di hari esok. Jika kebiasaan buruk terus menerus dilakukan maka akan memperburuk keadaan sehingga ini harus dihentikan. Kebiasaan diri yang buruk dapat menjadi tidak produktif dan dapat mengganggu kesehatan mental seseorang. Seperti penelitian yang dilakukan American Psychology Association (APA) terhadap milenial, mengemukakan bahwa generasi yang paling tinggi tingkat stressnya dan juga tidak produktif dikarenakan kebiasaan kebiasaan seperti sistem tidur yang buruk, pola makan yang tidak baik, meminum kopi, durasi duduk yang tidak baik, penggunaan telepon yang berlebihan, waktu kerja yang tidak teratur, menonton TV secara berlebihan dan nongkrong dengan orang yang mudah cemas (Beaton, 2017).

Kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut tidak langsung berdampak terhadap produktifitas seseorang namun dampaknya akan menyerang kesehatan fisik atau mental terlebih dahulu. Pola tidur yang buruk jika tidak ditangani akan berpotensi meningkatkan resiko munculnya beberapa penyakit seperti hipertensi dan penyakit jantung (Willy, 2019). Sementara itu, (Anggraini, 2019) mengungkapkan bahwa data yang diperoleh terkait pola makan yang tidak baik pada tahun 2017 menyebabkan kematian terhadap sekitar 11 juta jiwa di seluruh dunia dan penyakit jantung, kanker dan diabetes tipe 2 merupakan penyebab kematian 10 juta jiwa dari total kematian tersebut.

Dilansir dari media (Kompas.com), seperti kata pepatah “apa yang kamu tabur, itulah yang kamu tuai”. Ungkapan pepatah ini dapat menjadi gambaran atau tolak ukur dalam memprediksi kondisi kesehatan seseorang di kemudian hari. Tentu, kebiasaan hidup buruk di masa muda dapat mengundang penyakit di hari tua. Berikut beberapa kebiasaan buruk yang sering dibiasakan muda , membawa dampak buruk di hari esok. Kebiasaan anak muda yang suka makan fast food , kebiasaan anak belajar hingga larut malam, anak muda seringkali menunda-nunda sesuatu, kebiasaan buruk remaja yang seringkali berbohong, malas minum air putih, tidur dalam keadaan terang, begadang, telat makan, kecanduan media sosial, kurang tidur, menggigit kuku, mendengarkan musik keras–keras, menggendong tas berat, tidur tanpa membasuh wajah, malas olahraga, tidak suka air putih, dan merokok.

Segala macam kebiasaan di atas akan memperburuk kondisi di hari tua. Di antara beragam kebiasaan di atas, hal yang paling sulit untuk dihindari generasi muda, khususnya mahasiswa ialah begadang. Kerap kali, untuk menyelesaikan tugas mahasiswa harus merelakan waktu tidur, agar dapat mengejar deadline. Kebiasaan yang berangsur-angsur menjadi sebuah pola yang sulit untuk dilepaskan. Hal ini menyebabkan kebanyakan mahasiswa menjadi terbiasa begadang, maka tak heran banyak mahasiswa yang terkena asam lambung, tidak fokus, pusing, kunang-kunang, bahkan berujung kematian. Kebiasaan dapat berubah kapan saja dikarenakan berbagai hal dan umumnya suatu kebiasaan berubah dikarenakan suatu situasi yang berubah pula seperti merubah pola makan karena suatu penyakit.

Untuk itu, masa muda sangat menentukan pola pembentukan status kesehatan di masa dewasa bahkan di hari tua. Perilaku yang dibentuk pada masa ini akan berdampak besar terhadap hasil yang akan diperoleh di masa tua, sehingga dianggap sebagai kelompok dengan kesehatan prima. Namun, umumnya perilaku berisiko dimulai pada periode ini. Memberikan perhatian pada anak usia muda merupakan salah satu kunci sukses untuk menentukan keberhasilan berkepanjangan sebagai investasi di hari tua. Strategi yang tepat untuk mengubah pola kebiasaan buruk dengan membiasakan hal baik akan menguntungkan anak muda dan kesehatan mereka di masa tua.

Penulis bernama Intan Eriyani, Mahasiswi jurusan Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP), Universitas Syiah Kuala (USK).

Editor: Putri Izziah