Beranda Artikel iPhone 17 Mahal tapi Minim Inovasi, Apple Mulai Kehilangan Daya Saing?

iPhone 17 Mahal tapi Minim Inovasi, Apple Mulai Kehilangan Daya Saing?

BERBAGI
Grafis. (Muhammad Azkal Azkiya (AM)/DETaK)

Artikel | DETaK

Setelah peluncuran iPhone 17 yang dianggap akan menjadi inovasi baru untuk Apple, harga saham perusahaan justru mengalami penurunan. Selain itu, data juga menunjukkan penjualan iPhone yang berada di Tiongkok, yang disebut sebagai pasar terbesar Apple di luar Amerika Serikat, mengalami penurunan tajam sebesar 31%. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan dari para konsumen, apakah Apple mulai kehilangan daya tariknya?

Peluncuran iPhone 17 yang berlangsung secara megah ternyata tidak mampu meyakinkan pasar. Nilai pasar Apple dilaporkan turun sebesar 108 miliar AS (sekitar 1,6 kuadriliun) hanya dalam hitungan hari setelah peluncuran. Penurunan itu dipicu karena iPhone 17 dianggap minim inovasi dan tidak menghadirkan pembaruan yang signifikan dibandingkan produk sebelumnya. Bahkan, sejumlah analis menyebut langkah Apple kali ini bisa menjadi peringatan awal bahwa strategi lama mereka tidak lagi sepenuhnya efektif.

Iklan Souvenir DETaK

Di media sosial, kritikan terus bermunculan. Sejumlah pengguna menyebut bahwa fitur unggulan iPhone 17, seperti perekaman video 8K, refresh rate 120Hz, dan fitur dual recording, sebenarnya bukan hal baru karena sudah lebih dulu hadir di ponsel kompetitor seperti Samsung, Poco, maupun Realme. Beberapa komentar juga menyindir kalau iPhone 17 dianggap mirip beberapa handphone Android kelas menengah, sehingga kurang memberikan kesan eksklusif seperti seri-seri sebelumnya.

Meskipun begitu, sebagian analisis penurunan saham di Apple dianggap sebagai fenomena yang sementara. Menurut laporan dari Bank of America dan Evercore, saham Apple cenderung melemah setelah peluncuran produk besar, tetapi biasanya akan pulih dalam waktu 30 sampai 60 hari. Bahkan, sejumlah analis menaikkan target harga saham Apple hingga 270 dolar AS, didorong optimisme terhadap model baru seperti iPhone Air, yang lebih tipis, ringan, dan dipasarkan dengan harga yang relatif terjangkau.

Tantangan terbesar dari Apple justru datang dari pasar Tiongkok. Berdasarkan data dari China Academy of Information and Communications Technology (CAICT), penjualan ponsel merek asing, termasuk iPhone, mengalami penurunan hingga 31,1% pada Juni 2025. Dari sebelumnya 2,8 juta unit, pengiriman turun hingga menjadi 1,9 juta unit. Angka ini menunjukkan tekanan yang kompetitif dari merek lokal seperti Huawei, Oppo, dan Xiaomi, yang menawarkan produk dengan harga yang lebih agresif dan spesifikasi mumpuni untuk kelasnya.

Situasi ini membuat Apple berada pada titik krusial. Di satu sisi, perusahaan masih mengandalkan ekosistem iOS, brand loyalty, serta strategi harga dengan meningkatkan kapasitas penyimpanan minimum pada model Pro. Namun, di sisi lain, ekspektasi publik terhadap inovasi yang lebih besar menuntut Apple untuk bekerja keras agar tidak dianggap stagnan.

Perdebatan Apple untuk masa depan pun ramai menjadi perbincangan di dunia maya. Ada yang menyamakan kondisi saat ini dengan Nokia, yang gagal beradaptasi dengan perubahan pasar. Namun, tak sedikit pula yang percaya kalau Apple akan bertahan berkat basis pengguna setia dan integrasi ekosistem yang belum tertandingi. Bahkan, loyalitas konsumen Apple sering dianggap sebagai aset terbesar yang menjaga perusahaan tetap stabil meskipun diterpa kritik.

Meskipun iPhone 17 menuai kritik soal minimnya inovasi dan penurunan penjualan di pasar penting seperti China, Apple masih memiliki peluang untuk bangkit. Strategi yang bisa ditempuh termasuk memperkuat integrasi ekosistem, menghadirkan fitur-fitur baru yang benar-benar unik, menyesuaikan strategi harga agar lebih kompetitif, dan memperluas produksi di pasar utama untuk mengurangi risiko tarif. Dengan langkah-langkah tersebut, Apple berpotensi mengembalikan kepercayaan investor dan menjaga daya tariknya di mata konsumen global.

Penulis bernama Mauliza Araska, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Pramudiyanti Saragih