Artikel | DETaK
Fenomena menyatakan perasaan secara anonymous atau tidak diketahui siapa sumbernya telah lama menjadi sebuah trend, terutama bagi kalangan Gen Z menyatakan perasaan secara anonim atau sering dikenal dengan istilah “Confess Anonymous” diartikan sebagai mengakui atau mengungkap sesuatu yang berkaitan dengan perasaan, rahasia, dan kesalahan kepada seseorang tanpa mengungkapkan identitas diri pengirim.
Hal ini sangat sering dijumpai dibeberapa platform sosial media seperti Instagram yang menyediakan fitur NGL link untuk mendukung kegiatan ini. Bagi sebagian besar Gen Z, confess anonim dianggap sebagai tempat paling aman untuk mengekspresikan perasaan. Dalam lingkungan sosial yang sering kali menuntut “kesempurnaan” dan cepat menilai, banyak yang merasa takut dianggap berlebihan atau “baper” jika mengungkapkan perasaannya secara terbuka kepada orang yang dituju.

Tetapi sangat disayangkan terdapat beberapa oknum yang menggunakan pesan secara anonim untuk hal yang kurang baik, sehingga dapat memicu hal hal yang tidak diinginkan seperti mengirim pesan yang berhubungan dengan SARA atau ujaran kebencian tanpa alasan yang jelas.
Fenomena confess secara anonim ini tidak hanya menyangkut mengenai pernyataan perasaan tertarik dalam hal positif ke seseorang tetapi juga sering digunakan untuk mengungkapkan berbagai emosi lain seperti rasa kecewa, sakit hati, bahkan amarah yang sulit diutarakan secara langsung. Etika dalam mengirim confess anonim perlu diperhatikan misalnya dengan menjaga bahasa yang digunakan, menghindari penyebutan nama secara langsung, serta memastikan isi pesan tidak mengandung unsur fitnah atau kebencian.
Bagaimana cara untuk confess secara anonym yang baik?
Straight to the point atau langsung kepada intinya adalah cara komunikasi yang paling sering digunakan bagi sebagian Gen Z karena dianggap efektif, tidak membuat kebingungan yang dapat memicu masalah baru, namun tetap diperlukan etika penyampaian pesan yang baik seperti berikut ini:
1. Menggunakan bahasa yang baik.
Bahasa yang baik tidak harus selalu berbentuk kata baku dengan menggunakan bahasa sehari-hari pun dapat dilakukan dengan tidak menggunakan kata-kata hinaan, sebutan buruk kepada seseorang dan tidak menggunakan emoji yang tidak sesuai dengan konteks atau sarkasme.
2. Hindari ungkapan yang berlebihan atau menekan.
Terkadang seseorang melakukan confess secara anonim bersifat memaksa orang yang dituju dengan kalimat pemaksaan karena rasa takut sedikit berkurang, namun hal ini bisa saja membuat orang yang dituju merasa tidak nyaman. Maka dari itu pengirim pesan harus membiarkan keputusan selanjutnya diputuskan oleh orang yang dituju.
3. Hargai privasi dan batas emosi masing-masing.
Tidak semua orang merasa nyaman dibicarakan secara publik walaupun bersifat anonim, maka dari itu tetap batasi hal hal yang menyangkut privasi. Hindari menyinggung pengalaman pribadi yang sensitif seperti masalah keluarga, hubungan pribadi, atau hal yang bisa menyinggung harga diri seseorang.
Dengan menerapkan etika dalam menyampaikan confess secara anonim, setiap pesan yang dikirim dapat menjadi bentuk ekspresi yang jujur namun tetap menghargai perasaan orang lain. Anonimitas seharusnya digunakan untuk menciptakan ruang aman dan positif, bukan untuk menyebarkan hal yang merugikan.
Dampak dari confess secara anonim
Di satu sisi, confess anonim bisa menjadi wadah ekspresi dan pelepasan emosi yang sehat, namun di sisi lain juga dapat menimbulkan permasalahan baru jika tidak digunakan dengan bijak. Adapun beberapa dampak dari confess anonim antara lain sebagai berikut:
1. Menjadi tempat aman untuk mengekspresikan perasaan.
Adanya platform yang menyediakan wadah untuk confess secara anonim dapat mempermudah seseorang untuk menyampaikan perasaan kepada orang yang dituju karena terkadang ini bisa membantu menyalurkan emosi yang terpendam dan membuat hati terasa lebih lega.
2. Membantu memahami dan mengelola emosi.
Tanpa disadari dengan menulis confess, seseorang dapat memahami apa yang ia rasakan dan bagaimana menyampaikan perasaan tersebut kepada orang lain. Hal ini juga dapat menjaga kesehatan mental karena tidak memendam apa yang dirasakan.
3. Meningkatkan rasa empati dan keterhubungan sosial.
Saat menyampaikan pesan secara anonim ke publik, terkadang ada beberapa oknum yang sengaja memberikan saran atau dukungan atau sekedar validasi perasaan pengirim pesan, hal ini juga semakin mempererat hubungan sosial walau saling tidak mengenal.
4. Dapat disalahgunakan untuk hal negatif.
Karena bersifat anonim, terkadang beberapa oknum dengan bebas mengirimkan gossip atau menyindir orang lain tanpa diketahui kebenarannya, yang akhirnya juga dapat merugikan sebuah pihak.
5. Mengurangi rasa tanggung jawab terhadap ucapan.
Terkadang ucapan pesan anonim dianggap kurang pantas atau terlalu berlebihan, tetapi karena identitas pengirim disembunyikan maka banyak dari mereka yang semena-mena mengirim pesan hanya untuk kepuasaan pribadi.
6. Menyepelekan makna kejujuran yang sebenarnya
Jika dilakukan tanpa niat baik, confess anonim bisa kehilangan makna sebagai bentuk kejujuran, dan berubah menjadi pelarian dari kenyataan atau ajang mencari perhatian.
Dari fenomena ini, ada beberapa hal penting yang bisa kita pahami:
– Anonimitas bukan berarti tanpa batas
Meskipun nama disembunyikan, setiap kata yang dikirim tetap memiliki dampak bagi orang lain. Karena itu, penting untuk berpikir dua kali sebelum menulis sesuatu yang mungkin melukai perasaan seseorang.
– Setiap perasaan berhak untuk diungkapkan
Mengungkapkan perasaan secara anonim bukan hal yang salah, asalkan dilakukan dengan cara yang sopan, jujur, dan tidak menyinggung privasi atau harga diri pihak lain.
– Kejujuran sejati tetap memiliki nilai, bahkan tanpa identitas
Saat seseorang menyampaikan perasaannya dengan tulus, pesan itu tetap akan sampai dan bermakna, meskipun pengirimnya tidak dikenal.
Menyatakan perasaan secara anonim juga menjadi suatu langkah yang bagus bagi seseorang yang memiliki ketakutan untuk menyampaikan apa yang dirasakan, namun confess secara anonim juga bukan merupakan solusi utama untuk menyampaikan sesuatu. Sebaik-baiknya komunikasi ialah yang disampaikan secara langsung kepada orang yang dituju, dengan menunjukan identitas sebenarnya, dengan perkataan yang baik pula.
Gen Z harus lebih berani untuk menyampaikan sesuatu secara langsung agar dapat membentuk sikap berani dan bertanggung jawab. Untuk melatih keberanian juga dibutuhkan aksi nyata dengan menyampaikan apa yang dirasakan secara langsung juga dapat menunjukkan bahwa kita memiliki pengelolaan emosi yang baik karena untuk dimengerti orang lain, kita juga harus bisa bersikap tegas menyampaikan atas apa yang kita rasakan.
Penulis bernama Alya Mukhbita Nur Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Amirah Nurlija Zabrina










