Artikel | DETaK
Jepang dikenal sebagai negara maju yang memiliki sistem sosial dan ekonomi yang tertata rapi. Namun, di balik kehidupan modern yang serba efisien, muncul sebuah fenomena sosial yang menarik sekaligus mengkhawatirkan yang semakin banyak masyarakat Jepang yang memilih untuk tidak menikah.
Fenomena ini bukan sekadar angka statistik. Ia telah menjadi bagian dari realitas budaya dan sosial Jepang masa kini. Tidak sedikit pria dan wanita muda di Jepang yang dengan sadar memutuskan untuk hidup sendiri, tanpa pasangan, tanpa anak, dan tanpa keinginan untuk membangun rumah tangga.

Mengapa hal ini terjadi di negara yang terkenal dengan nilai-nilai tradisional seperti keluarga dan kesetiaan? Apa saja faktor yang membuat masyarakat Jepang semakin “Malas Menikah”? Berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat jepang memilih malas untuk menikah:
- Angka pernikahan di Jepang terus menurun
Data resmi dari pemerintah Jepang menunjukkan bahwa angka pernikahan di negara tersebut terus mengalami penurunan signifikan. Bahkan pada tahun-tahun terakhir, angka pernikahan mencapai titik terendah sejak era pasca perang.
Sebagai contoh, pada tahun 2022, Jepang mencatat sekitar 500.000 pasangan yang menikah, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan tahun 1970-an yang mencapai lebih dari 1 juta pernikahan per tahun. Tak hanya itu, usia pernikahan pertama pun semakin mundur. Banyak orang baru menikah di usia akhir 30-an, atau bahkan tidak menikah sama sekali sepanjang hidupnya.
- Faktor ekonomi sehingga menganggap hidup mandiri lebih aman
Salah satu alasan paling sering dikemukakan oleh warga Jepang yang memilih untuk tidak menikah adalah faktor ekonomi. Biaya hidup di Jepang, terutama di kota besar seperti Tokyo dan Osaka, tergolong sangat tinggi. Harga sewa apartemen hingga biaya menikah itu sendiri menjadi pertimbangan besar.
Bagi pria, tekanan untuk menjadi pencari nafkah utama masih kuat. Banyak pria merasa belum mapan secara finansial sehingga enggan melamar atau membentuk keluarga. Di sisi lain, banyak wanita Jepang yang kini memiliki karier sendiri sehingga merasa tidak bergantung pada pria secara ekonomi. Mereka lebih memilih hidup mandiri dan menggunakan uang untuk diri sendiri.
- Beban sosial dan budaya gender
Jepang masih sangat dipengaruhi oleh pembagian peran gender tradisional, meskipun masyarakatnya makin modern. Dalam banyak rumah tangga Jepang, perempuan diharapkan meninggalkan pekerjaan setelah menikah dan sepenuhnya fokus mengurus anak dan rumah.
Banyak wanita muda yang merasa tidak adil dengan ekspektasi semacam ini. Mereka tidak ingin kehilangan kebebasan dan karier yang sudah susah payah mereka bangun. Akibatnya, mereka lebih memilih untuk tetap melajang daripada harus masuk ke dalam sistem rumah tangga yang dianggap membatasi.
Sementara itu, pria juga merasa terbebani dengan peran sebagai satu-satunya tulang punggung keluarga, ditambah jam kerja yang panjang dan tekanan sosial untuk sukses secara materi. Ini membuat pernikahan terlihat lebih seperti beban daripada kebahagiaan.
- Kenyamanan hidup sendiri
Salah satu faktor paling unik dalam fenomena ini adalah kenyamanan hidup sendiri yang sangat tinggi. Di Jepang, infrastruktur untuk hidup mandiri sangat mendukung. Layanan antar makanan dan belanja online sangat efisien, bahkan ada jasa penyewaan teman, pasangan palsu, hingga jasa pelukan profesional.
Masyarakat Jepang juga cenderung menghargai privasi dan tidak terlalu mencampuri urusan pribadi orang lain. Hal ini memungkinkan orang untuk hidup sendiri tanpa tekanan sosial yang besar. Bahkan istilah-istilah seperti ohitorisama (menikmati hidup sendiri) menjadi populer dan diterima secara luas.
- Fenomena sosial Soshoku Danshi dan Herbivore Women
Dalam budaya populer Jepang sering dikenal istilah “Soshoku Danshi” yaitu laki-laki muda yang tidak agresif secara seksual dan tidak memiliki minat besar pada hubungan romantis atau menikah. Mereka lebih memilih hidup tenang, menikmati hobi, bermain game, atau berkumpul dengan komunitas.
Sebaliknya, muncul juga kelompok wanita yang disebut “herbivore women”, yaitu perempuan yang tidak tertarik mencari pasangan dan lebih memilih fokus pada diri sendiri, karier, dan gaya hidup independen. Fenomena ini bukan hanya soal “malas menikah”, tetapi lebih kepada pergeseran nilai dan prioritas hidup generasi muda Jepang. Mereka tidak lagi menganggap pernikahan sebagai tolak ukur kebahagiaan atau kesuksesan.
- Dampak demografis yang serius
Fenomena malas menikah ini bukan tanpa konsekuensi, Jepang kini menghadapi masalah demografis yang cukup serius. Angka kelahiran sangat rendah, sementara usia harapan hidup sangat tinggi. Ini menyebabkan struktur penduduk Jepang semakin tua, dan tenaga kerja produktif terus menurun.
Kondisi ini menimbulkan berbagai masalah, mulai dari kekurangan tenaga kerja, meningkatnya beban jaminan sosial, hingga pertumbuhan ekonomi yang melambat. Pemerintah Jepang pun mencoba berbagai cara untuk mengatasi masalah ini seperti insentif finansial bagi pasangan menikah, subsidi anak, bahkan memperlonggar aturan imigrasi untuk menambah tenaga kerja asing.
Namun, hingga kini, kebijakan-kebijakan tersebut belum mampu membalikkan tren secara signifikan. Kebiasaan dan pola pikir generasi muda tetap menjadi tantangan terbesar. Banyak pakar sosiologi Jepang yang menyarankan perlunya perubahan yang besar dalam budaya pernikahan termasuk fleksibilitas peran gender, sistem kerja yang lebih manusiawi, dan pendidikan sosial tentang hubungan sehat.
Beberapa komunitas bahkan mulai mendorong bentuk keluarga alternatif seperti co-living, pernikahan tanpa anak, atau kemitraan sipil tanpa ikatan hukum pernikahan. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Jepang perlahan mulai menciptakan norma-norma sosial baru, yang mungkin akan berbeda jauh dari generasi sebelumnya.
Penulis bernama Nasywa Nayyara Tsany, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala
Editor: Amirah Nurlija Zabrina










