
Opini | DETaK
Beberapa hari terakhir, kabut asap mulai menyelimuti Kota Banda Aceh. Kondisi ini berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah di luar Aceh. Selain menyebabkan kerusakan lingkungan, karhutla juga menghasilkan asap yang menyebar ke wilayah lain melalui pergerakan angin. Meskipun sumber kebakaran berada jauh dari tempat tinggal kita, dampaknya tetap dapat dirasakan, terutama terhadap kualitas udara dan kesehatan.
Asap karhutla mengandung campuran polutan udara yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), salah satu komponen yang menjadi perhatian utama adalah particulate matter berukuran 2,5 mikrometer atau PM2.5. Partikel yang sangat kecil ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparannya dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, memperburuk kondisi penderita asma, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Informasi ini dikutip dari RRI.co.id (17/10/2026).

Di tengah kondisi tersebut, memahami bahaya asap karhutla saja tidak cukup. Kita juga perlu mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk membantu melindungi diri dan keluarga, terutama ketika kualitas udara mulai memburuk. Berikut beberapa Upaya yang dapat dilakukan saat kabut asap menyelimuti lingkungan sekitar.
1. Pantau Kondisi Kualitas Udara
Sebelum beraktivitas di luar ruangan, kita perlu memeriksa kondisi kualitas udara terlebih dahulu. Langkah ini penting untuk mengetahui tingkat pencemaran udara dan menentukan tindakan pencegahan yang sesuai. Jika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi atau ditunda. Pemantauan kualitas udara perlu dilakukan secara rutin karena kondisnya dapat berubah dalam waktu singkat.
Pemantuan kualitas udara dapat dilakukan melalui beberapa aplikasi dan layanan digital. Kita dapat memanfaatkan layanan Info BMKG atau aplikasi IQAir AirVisual untuk memantau kondisi kualitas udara di wilayah tempat tinggal secara real-time. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan waktu dan aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara sedang memburuk.
2. Batasi Aktivias di Luar Ruangan
Mengurangi waktu diluar ruangan menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membatasi paparan asap karhutla. Semakin lama kita berada di lingkungan yang tercemar asap, semakin besar peluang partikel halus terhirup. Oleh karena itu, kegiatan yang tidak mendesak sebaiknya ditunda hingga kondisi udara membaik. Jika harus keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan penting, usahakan untuk membatasi waktu di luar ruangan dan menghindari area dengan paparan asap yang tinggi. Sementara itu, kegiatan yang dapat dilakukan secara daring sebaiknya dilakukan dari rumah apabila memungkinkan.
3. Menggunakan Masker
Jika harus beraktivitas di luar ruangan saat kabut asap, penggunaan masker dapat membantu mengurangi jumlah partikel asap yang terhirup. Agar perlindungannya lebih optimal, masker perlu digunakan dengan benar, yaitu menutupi hidung dan mulut serta terpasang rapat tanpa celah di sisi wajah. Kondisi masker juga perlu diperhatikan. Masker sekali pakai tidak boleh digunakan berulang kali dan perlu diganti setelah digunakan. Segera ganti masker apabila sudah kotor, basah, atau rusak. Dengan memperhatikan cara penggunaan dan kebersihannya, kita dapat mengurangi paparan partikel asap selama beraktivitas di luar ruangan.
4. Tutup Pintu dan Jendela
Saat asap menyelimuti lingkungan, tutup pintu dan jendela rumah dengan rapat untuk mengurangi masuknya asap dari luar. Pastikan celah-celah yag memungkinkan asap masuk juga tertutup. Jika tersedia, gunakan penyaring udara (air purifier) untuk membantu mengurangi partikel asap di dalam ruangan. Selain itu, hindari kegiatan yang dapat menambah polusi udara dari dalam rumah, seperti merokok, membakar sampah, atau menyalakan api untuk keperluan yang tidak mendesak. Langkah ini penting untuk menjaga kualitas udara di dalam rumah agar tetap lebih baik di tengah paparan asap dari luar.
5. Penuhi Kebutuhan Cairan
Memenuhi kebutuhan cairan dengan minum air putih yang cukup merupakan kebiasaan penting utnuk menjaga kesehatan sehari-hari, termasuk saat terjadi kabut asap karhutla. Pastikan kebutuhna cairan tetap terpenuhi meskipun aktivitas di luar ruangan dibatasi. Saat bepergian, membawa botol minum sendiri dapat membantu memenuhi kebutuhan air putih sepanjang hari.
Meskipun minum air putih tidak dapat menghilangkan pertikel asap yang terhirup, memenuhi kebutuhhan cairan tetap penting untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dan mendukung fungsi tubuh secara optimal.
6. Kenali Gejala Gangguan Kesehatan Akibat Asap
Kita perlu mewaspadai gejala yang dapat muncul akibat paparan asap karhutla, seperti batuk, mata perih, serta iritasi pada hidung dan tenggorokan. Jika gejala muncul saat kabut asap terjadi, kurangi paparan asap dan perhatikan kondisi tubuh. Apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau keluhan lainnya, segera cari pertolongan medis. Keluhan yang tidak kunjung membaik atau semakin parah juga perlu diperiksakan ke fasilitas kesehatan terdekat.
7. Prioritaskan Kelompok Rentan
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih saat terjadi kabut asap karhutla. Kelompok ini lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap sehingga perlu mendapat perlindungan ekstra. Keluarga dapat membantu dengan membatasi aktivitas mereka di luar ruangan, memastikan mereka berada di dalam ruangan dengan kualitas udara yang lebih baik, serta menghindari aktivitas berat saat kualitas udara memburuk. Jika mereka terpaksa keluar rumah, gunakan masker yang sesuai dan pastikan penggunaannya tepat. Apabila muncul keluhan seperti sesak napas atau kondisi kesehatan memburuk, segera cari bantuan medis.
Kabut asap karhutla dapat berdampak pada kita meskipun sumber kebakaran berada jauh dari tempat tinggal. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tetap waspada dan menerapkan langkah-langkah perlindungan sesuai kondisi udara. Memantau kualitas udara, membatasi aktivitas di luar ruangan, menjaga udara di dalam rumah, serta memperhatikan kondisi kesehatan diri dan keluarga dapat membantu mengurangi paparan asap. Dengan memahami langkah-langkah tersebut, diharapkan dapat mengambil tindakan yang tepat untuk menjaga kesehatan selama kabut asap masih terjadi.
Penulis bernama Yolanda Yulfa, Mahasiswi Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Faktultas Teknik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Musfirah









