Resensi | DETaK
Identitas buku
Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2025
Tebal: sekitar 216 halaman
ISBN: 978-602-05-3132-8
Tentang Penulis
Brian Khrisna merupakan seorang penulis asal Indonesia yang memulai perjalanan kepenulisannya pada tahun 2010 melalui platform Tumblr. Ia menggunakan platform tersebut sebagai tempat untuk membagikan cerita, perasaan, dan berbagai pemikirannya melalui puisi, prosa, senandika, cerita pendek, hingga cerita bersambung.

Seiring berjalannya waktu, Brian mulai menerbitkan berbagai karya dalam bentuk buku. Salah satu karyanya yang menarik perhatian pembaca adalah novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, yang diterbitkan oleh Grasindo pada tahun 2025. Melalui novel ini, Brian mengangkat persoalan kesehatan mental, kesepian, perundungan, dan bagaimana hal-hal sederhana dapat memberikan seseorang alasan untuk kembali menghargai kehidupan.
Sinopsis Buku
Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati menceritakan kehidupan seorang laki-laki bernama Ruslan Abdul Wardhana, yang akrab disapa Ale. Di usianya yang ke-37 tahun, Ale menjalani kehidupan yang dipenuhi kesepian, penolakan sosial, dan berbagai pengalaman menyakitkan sejak masa kecilnya. Kondisi fisiknya kerap menjadi bahan hinaan dan membuatnya mengalami perundungan. Bahkan, lingkungan keluarga dan tempat kerjanya pun tidak memberikan dukungan yang ia harapkan.
Berbagai pengalaman tersebut membuat Ale mengalami depresi akut. Meskipun telah berusaha memperbaiki dirinya agar dapat diterima oleh orang-orang di sekitarnya, usaha tersebut seolah tidak pernah membuahkan hasil. Hingga akhirnya, Ale mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya dalam waktu 24 jam.
Sebelum melaksanakan keputusannya, Ale ingin melakukan beberapa hal yang selama ini jarang ia nikmati. Ia membersihkan apartemennya, menikmati makanan yang diinginkan, dan menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri. Namun, ada satu keinginan sederhana yang belum terpenuhi, yaitu menikmati seporsi mie ayam untuk terakhir kalinya.
Keinginan tersebut menjadi awal dari perjalanan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Perjalanan mencari seporsi mie ayam justru mempertemukan Ale dengan berbagai orang dan pengalaman yang perlahan membuka pandangannya terhadap kehidupan.
Di tengah waktu yang terus berjalan, Ale mulai menemukan berbagai cerita, sudut pandang, dan pengalaman manusia yang membuatnya mempertanyakan kembali keputusan yang telah dibuatnya. Dari perjalanan sederhana tersebut, pembaca diajak memahami bahwa terkadang alasan seseorang untuk bertahan hidup dapat hadir melalui hal-hal kecil yang selama ini dianggap biasa.
Kelebihan dan Kekurangan Buku
Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati memiliki kelebihan dalam mengangkat isu kesehatan mental melalui cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Brian Khrisna berhasil menggambarkan bagaimana perundungan, kesepian, kurangnya dukungan sosial, dan penilaian terhadap fisik seseorang dapat memberikan dampak besar terhadap kondisi psikologis seseorang.
Penggunaan sudut pandang orang pertama juga menjadi salah satu kekuatan novel ini. Pembaca dapat mengikuti pemikiran dan perasaan Ale secara lebih dekat sehingga emosi yang disampaikan terasa lebih nyata. Selain itu, gaya bahasa yang sederhana dan mudah dipahami membuat cerita ini dapat dinikmati oleh berbagai kalangan pembaca.
Hal menarik lainnya adalah bagaimana penulis menjadikan seporsi mie ayam sebagai simbol dari keinginan sederhana dan alasan untuk tetap menjalani kehidupan. Cerita ini mengingatkan pembaca bahwa sesuatu yang terlihat kecil bagi sebagian orang mungkin memiliki arti yang sangat besar bagi orang lain. Novel ini juga mengajak pembaca untuk lebih berempati, tidak mudah menghakimi, serta menyadari pentingnya kehadiran dan dukungan terhadap orang-orang di sekitar.
Namun, novel ini juga memiliki beberapa kekurangan. Pembahasan mengenai depresi dan pengalaman menyakitkan yang dialami Ale dapat terasa cukup berat bagi sebagian pembaca. Beberapa bagian cerita juga menyampaikan pesan kehidupan secara cukup eksplisit sehingga terasa sedikit menggurui. Selain itu, alur yang berpusat pada perjalanan Ale dalam rentang waktu 24 jam mungkin terasa kurang dinamis bagi pembaca yang menyukai cerita dengan konflik dan perubahan alur yang lebih kompleks.
Meskipun demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi pesan utama yang ingin disampaikan penulis. Novel ini tetap menjadi bacaan yang menarik karena mampu menghadirkan perspektif berbeda tentang kehidupan, empati, dan pentingnya menghargai keberadaan seseorang.
Penulis bernama Ayeisha Ashifa Sakina Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala
Editor: Kamilina Junita Damanik










