Opini | DETaK
“Dapat sertifikat, kan?” Kalimat sederhana ini mungkin terdengar sepele. Namun, tanpa disadari, pertanyaan tersebut menunjukkan bagaimana sebagian mahasiswa mulai mengukur nilai sebuah kegiatan dari selembar dokumen yang akan mereka bawa pulang. Seminar, webinar, pelatihan, hingga kegiatan organisasi sering kali baru terasa menarik ketika ada satu hal yang ditawarkan: sertifikat. Lalu, sebenarnya apa yang sedang kita cari sebagai mahasiswa? Pengalaman, pengetahuan, dan relasi baru, atau sekadar tambahan satu baris di CV?
Sertifikat tentu bukan sesuatu yang salah. Bagi mahasiswa, sertifikat dapat menjadi bukti bahwa seseorang pernah mengikuti suatu kegiatan atau pelatihan. Dalam kondisi tertentu, sertifikat juga dapat digunakan untuk melengkapi persyaratan beasiswa, magang, organisasi, maupun program pengembangan diri. Jadi, tidak ada yang salah ketika mahasiswa mempertimbangkan sertifikat sebagai salah satu manfaat sebelum mengikuti kegiatan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika sertifikat bukan lagi sekadar hasil dari sebuah kegiatan, melainkan alasan utama untuk mengikutinya.
Fenomena ini cukup mudah ditemukan. Ketika sebuah seminar dibuka, pertanyaan tentang pembicara atau topiknya terkadang justru kalah cepat dengan pertanyaan, “Ada sertifikatnya?” Tidak sedikit pula peserta yang mendaftar berbagai webinar, tetapi tidak benar-benar mengikuti materi yang diberikan. Ada yang hanya hadir ketika absensi dibuka, kemudian meninggalkan ruang virtual. Selama sertifikat tetap bisa diperoleh, kegiatan tersebut dianggap selesai.
Jika kebiasaan seperti ini terus berlangsung, kegiatan yang seharusnya menjadi ruang untuk belajar akhirnya berubah menjadi formalitas. Mahasiswa hadir bukan karena ingin mendapatkan sesuatu dari prosesnya, tetapi karena ingin mendapatkan bukti bahwa mereka pernah hadir.
Namun, menyalahkan mahasiswa sepenuhnya juga bukan solusi. Lingkungan kampus turut berperan dalam membentuk pola tersebut. Banyak kegiatan mahasiswa dipromosikan dengan menonjolkan kata “gratis” dan “bersertifikat”. Dua kata ini memang efektif menarik peserta, tetapi secara tidak langsung dapat membentuk anggapan bahwa sebuah kegiatan menjadi bernilai ketika tidak perlu mengeluarkan biaya dan memberikan sertifikat.
Di sisi lain, mahasiswa memang berada dalam situasi yang membuat mereka harus memikirkan masa depan sejak dini. Persaingan mendapatkan beasiswa, magang, pekerjaan, hingga berbagai program pengembangan diri semakin membuat mahasiswa merasa harus memiliki “bekal” sebanyak mungkin. CV pun akhirnya menjadi sesuatu yang terus dikejar untuk terlihat penuh.
Masalahnya, CV yang penuh belum tentu menunjukkan seseorang yang penuh pengalaman. Sepuluh sertifikat dari webinar tidak otomatis lebih berarti daripada satu pengalaman yang benar-benar memberikan pelajaran. Mengikuti seminar selama satu jam mungkin menghasilkan sertifikat, tetapi belum tentu menghasilkan kemampuan baru. Sebaliknya, menjadi panitia sebuah acara mungkin tidak memberikan sertifikat sebanyak webinar yang diikuti, tetapi mahasiswa dapat belajar mengatur waktu, berkomunikasi dengan orang lain, bekerja dalam tim, menghadapi konflik, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya.
Hal-hal seperti itu sering kali tidak terlihat dalam selembar sertifikat. Padahal, justru pengalaman semacam inilah yang dapat membentuk seseorang.
Ada pula kegiatan yang mungkin tidak memberikan sertifikat sama sekali, tetapi memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga. Sebuah diskusi kecil bisa membuat seseorang melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Bertemu dengan orang baru bisa membuka kesempatan untuk berkolaborasi. Bahkan kegagalan dalam sebuah kepanitiaan atau perlombaan dapat menjadi pengalaman yang membuat seseorang belajar memperbaiki diri. Sayangnya, hal-hal tersebut tidak selalu mudah “dipamerkan” di CV.
Di sinilah mahasiswa perlu mulai mengubah cara pandang. Sertifikat boleh dikumpulkan, tetapi jangan sampai jumlahnya menjadi ukuran utama keberhasilan selama kuliah. Sebelum mendaftar sebuah kegiatan, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting untuk diajukan daripada “Dapat sertifikat atau tidak?”
Apa yang bisa saya pelajari dari kegiatan ini?
Pertanyaan tersebut terdengar sederhana, tetapi dapat mengubah cara mahasiswa memilih kegiatan. Jika topiknya relevan, pembicaranya menarik, atau kegiatannya memberikan kesempatan untuk mencoba sesuatu yang baru, maka sertifikat seharusnya menjadi bonus. Bukan tujuan utama.
Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang memilih antara pengalaman atau sertifikat. Keduanya bisa berjalan beriringan. Sertifikat akan menjadi lebih bermakna ketika ia menjadi bukti dari pengalaman yang benar-benar dijalani, bukan sekadar bukti bahwa seseorang pernah masuk ke ruang Zoom.
Menjadi mahasiswa bukan perlombaan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin dokumen. Masa kuliah seharusnya menjadi ruang untuk mencoba berbagai hal, bertemu banyak orang, melakukan kesalahan, belajar dari kegagalan, dan menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak kita sadari.
Sebab, ketika masa kuliah berakhir, mungkin kita masih bisa menunjukkan tumpukan sertifikat yang pernah dikumpulkan. Namun, pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang sebenarnya kita bawa dari semua pengalaman itu?
Jangan sampai CV kita terlihat penuh, tetapi pengalaman kita justru kosong. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengumpulkan bukti bahwa kita pernah hadir, sampai lupa benar-benar hadir dalam prosesnya.
Penulis bernama Ayeisha Ashifa Sakina, mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Nasywa Nayyara Tsany










