Opini | DETaK
Selama piala dunia berlangsung, banyak orang yang mendadak menjadi manusia malam. Mereka rela mengorbankan waktu istirahatnya untuk menyaksikan pertandingan sepak bola terbesar di dunia. Alarm yang sebelumnya dipasang untuk bangun pagi kini berubah fungsi menjadi pengingat jadwal pertandingan sepak bola. Tidur seakan menjadi pilihan kedua bagi mereka yang tidak ingin ketinggalan momen bersejarah piala dunia. Tidak sedikit pula yang menyiapkan kopi, camilan, hingga mengadakan acara nonton bersama agar suasana pertandingan terasa semakin meriah. Bagi para pencinta sepak bola, ajang empat tahunan ini merupakan kesempatan yang terlalu berharga untuk dilewatkan.
Piala dunia adalah kompetisi sepak bola dunia yang diikuti oleh tim nasional senior putra dari negara-negara anggota Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA). Para penggemar sepak bola tentunya akan merasa takut tertinggal momen bersejarah jika melewatkannya. Saat pertandingan berlangsung, muncul emosi yang sulit diungkapkan. Ketegangan ketika tim lawan menyerang, rasa cemas menjelang adu penalti, kegembiraan saat gol tercipta, hingga kekecewaan ketika tim favorit harus tersingkir menjadi pengalaman emosional yang sulit digantikan oleh tayangan olahraga lainnya.

Dalam sudut pandang yang positif, piala dunia dapat menyatukan banyak orang dalam satu atmosfer yang sama. Fenomena ini menjadi sarana untuk menciptakan rasa kebersamaan yang lebih kuat saat berkumpul dan menonton bersama teman, keluarga, ataupun tetangga. Tidak jarang orang yang biasanya sibuk dengan pekerjaannya menyempatkan diri pulang lebih awal atau meluangkan waktu hanya untuk duduk bersama mendukung tim favoritnya. Perbedaan usia, pekerjaan, bahkan latar belakang sering kali melebur dalam satu tujuan yang sama, yakni menyaksikan pertandingan dan berharap tim kebanggaannya meraih kemenangan. Di tengah rutinitas yang padat, piala dunia menghadirkan ruang kebersamaan yang mungkin jarang ditemukan pada hari-hari biasa.
Namun, jika terlalu sering merelakan waktu tidur demi menonton piala dunia, jadwal tidur dapat menjadi berantakan. Mereka menggantikan waktu tidur yang semula dilakukan pada malam hari menjadi pagi hari, bahkan tidak tidur sama sekali. Akibatnya, waktu istirahat yang seharusnya digunakan tubuh untuk memulihkan energi justru tergantikan oleh aktivitas menonton. Kondisi ini memang terasa menyenangkan saat pertandingan berlangsung, tetapi dampaknya baru benar-benar dirasakan pada keesokan harinya.
Bagi mahasiswa, mereka tidak terlalu mempersoalkan jadwal tidur karena saat ini sedang dalam masa liburan. Namun, bukan berarti mereka boleh melakukannya secara rutin. Sebab, pola tidur yang berubah secara drastis tetap berpotensi mengganggu kesehatan tubuh. Ketika masa liburan berakhir, tidak sedikit mahasiswa yang kesulitan kembali menyesuaikan diri dengan jadwal kuliah karena tubuh sudah terbiasa tidur menjelang pagi.
Sebaliknya, bagi kelompok masyarakat yang aktif bekerja, permasalahan ini justru menjadi hal yang cukup signifikan. Mereka menjadi sulit bangun pagi, mengantuk saat bekerja, kehilangan konsentrasi dan fokus, suasana hati menjadi mudah berubah, serta jadwal makan menjadi tidak teratur karena terbiasa mengonsumsi camilan pada tengah malam. Pertandingan piala dunia memang sangat menyenangkan, tetapi tubuh memiliki caranya sendiri untuk menagih waktu istirahat yang telah terkorbankan.
Tidur bukan sekadar aktivitas memejamkan mata, melainkan proses pemulihan diri setelah beraktivitas seharian. Umumnya, durasi tidur yang baik adalah sekitar tujuh hingga delapan jam setiap hari. Jika dilakukan pada waktu yang relatif sama setiap malam, tidur akan memberikan rasa segar ketika bangun pada pagi hari. Menjaga kualitas tidur bukan hanya tentang menghindari rasa kantuk, tetapi juga merupakan investasi penting bagi kesehatan fisik, kestabilan emosi, dan produktivitas dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Sebenarnya, begadang demi menonton pertandingan sepak bola berskala dunia merupakan hal yang wajar. Antusiasme tersebut menunjukkan betapa besarnya kecintaan masyarakat terhadap olahraga ini. Namun, menjadikan kurang tidur sebagai kebiasaan yang dibanggakan bukanlah pilihan yang bijak. Menonton seluruh pertandingan juga bukan satu-satunya cara menikmati piala dunia. Penggemar dapat memilih pertandingan yang benar-benar ingin disaksikan secara langsung, sementara pertandingan lainnya dapat ditonton melalui siaran ulang atau rangkuman pertandingan yang kini mudah diakses melalui berbagai platform digital. Dengan cara tersebut, keseruan piala dunia tetap dapat dinikmati tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Kita boleh mencintai ajang sepak bola dunia ini, tetapi jangan sampai melupakan kebutuhan tubuh sendiri. Gol kemenangan mungkin hanya memerlukan waktu beberapa detik, sedangkan dampak kurang tidur dapat berlangsung sepanjang hari. Pada akhirnya, piala dunia memang menghadirkan malam-malam penuh keseruan, teriakan, dan harapan. Namun, ketika stadion dan lapangan sepak bola kembali sunyi, kita diingatkan bahwa tubuh juga memiliki pertandingan yang harus dimenangkan, yaitu dengan menjaga kesehatan dan mendapatkan istirahat yang cukup. Sebab, kemenangan tim favorit mungkin hanya akan menjadi kenangan, tetapi kesehatan akan terus menemani kita dalam menjalani aktivitas setiap hari.
Penulis bernama Neni Raina Mawaddah, Mahasiswi program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Kamilina Junita Damanik



![[DETOuR] Juhu Singkah: Ketika Rotan Muda Berubah Menjadi Hidangan yang Sarat Makna dari Kalimantan Tengah](https://detakusk.com/wp-content/uploads/2026/07/Ilustrasi-1-1-238x178.png)






