Artikel | DETaK
Fenomena kenaikan mata uang dollar di Indonesia menjadi perbincangan hangat sepanjang 2026 saat ini, beberapa waktu terakhir kenaikan angkat tersebut hampir menyentuh angka IDR 18.000 atau secara spesifik berada di angka 17.602 ribu rupiah yang sebelumnya ada di angka 16.350 rupiah. Angka demi angka mulai bergerak naik, Indonesia berada ditengah ancaman inflasi yang nyata. Masyarakat mulai bertanya-tanya tentang bagaimana kondisi ekonomi negara ini sebenarnya. Bagi beberapa kalangan diantaranya kaum elit politik, pengusaha atau bahkan sosialita kenaikan dolar dan perubahan nilai tukar mungkin hanya bagian kecil dari masalah yang mampu diatasi dan berita-berita demikian hanyalah penguat data ekonomi dilayar televisi. Namun, pada kenyataannya dampak dari kejadian ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari ditengah perekonomian masyarakat yang sangat sulit di 2026 ini.
Ketika rupiah benar-benar sudah melemah, maka dipastikan bahwa harga barang lokal maupun impor akan terus meningkat. Bahan-bahan baku produksi akan menjadi semakin mahal dan akibatnya biaya produksi juga mengalami kelonjakan mengakibatkan harga barang dipasaran akan ikut naik. Kondisi seperti ini mempengaruhi daya beli masyarakat kalangan menengah kebawah yang paling rentan menghadapi kenaikan harga, ini bukan hanya fenomena tetapi benar-benar masalah, hal ini juga berpengaruh pada sektor ekonomi negara, dimana investor asing pastinya akan lebih selektif untuk berinvestasi apabila mata uang pada suatu negara kian menurun, hal ini bisa menyebabkan stabilitas ekonomi dan pendapatan negara terganggu.

Permasalahan melamahnya rupiah di Indonesia bukan semata hanya kesalahan secara objektif yang tiba-tiba harga nolar meningkat, namun dibalik itu semua ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi salah satunya kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang membuat dollar semakin kuat. Ketika nilai suatu mata uang kuat, maka banyak negara berkembang yang ikut tertekan merasakan dampaknya termasuk mata uang Indonesia yang penggunaannya masih menggunakan rupiah. Konflik geopolitik dunia, ketidakpastian ekonomi secara global hingga perang dagang antarnegara yang semakin ahri semakin memperbaiki kualitas dan kuantitas menjadi masalah yang saat ini tidak bisa diabaikan bagaimana cara memulihkan agar hal ini tidak terus terjadi. Apa yang akan kita lakukan jika mata uang kita terus melemah ditengah-tengah banyaknya biaya hidup dan tekanan menjadi warga Negara Indonesia.
Kondisi seperti ini yang paling penting adalah bagaimana pemerintah tetap bertanggung jawab memastikan menjaga kepercayaan masyarakat, saat ini masyarakat mulai cemas tentang masa depan mereka ditengah barang-barang yang mulai mengalami kenaikan harga sedangkan nilai mata uang sangatlah lemah. Ini menjadi pertimbangan serius bagi seluruh aspek pemerintah yang ada di Indonesia untuk dapat memastikan bahwa negara kita tidak akan merasakan lagi kejadian krisis moneter seperti pada zaman orde baru. Perlemahan rupiah seharusnya menjadi bahan pengingat bukan hanya sekedar update an sebuah berita ekonomi saja, kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki tantangan yang besar dalam membangun ekonomi yang kuat dan mandiri, untuk dapat mengejar status sebagai negara maju.
Masa depan negara tidak hanya ditentukan oleh pemerintah semata tetapi juga kemampuan seluruh pihak yang terlibat untuk menghadapi situasi ini dengan bijak. Karena, Indonesia juga tidak hanya membutuhkan kebijakan yang fokusnya hanya untk pertumbuhan tapi memerlukan aksi nyata untuk ketahanan jangka panjang. Karena ini bukan hanya permasalahan nilai mata uang, tetapi bagaimana sebuah negara mampu melindungi dan menghadapi keadaan genting dan memastikan keadaan rakyatnya baik-baik saja.
Referensi terkait : https://www.bbc.com/indonesia/articles/c5y9eexrq9z
Penulis bernama Amanda Tasya, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Sara Salsabila










