Beranda Opini Bias Penilaian Akademik di Ruang Kampus: Mengapa Kita Masih Menilai Kecerdasan dari...

Bias Penilaian Akademik di Ruang Kampus: Mengapa Kita Masih Menilai Kecerdasan dari Penampilan?

BERBAGI
Ilustrasi. (Dok. Istimewa)

Opini | DETaK

Salah satu stereotipe yang masih sering ditemukan di lingkungan kampus adalah anggapan bahwa mahasiswa yang terlalu memperhatikan penampilan berarti kurang serius dalam hal akademik. Alasannya, mereka dianggap lebih sibuk memikirkan outfit, make up, atau penampilan saat pergi ke kampus dibandingkan fokus pada tujuan utama mereka, yaitu belajar.

Jika diperhatikan di lingkungan kampus, penampilan memang masih menjadi topik yang cukup sering dibicarakan. Mulai dari pakaian yang dianggap pantas digunakan di kampus, standar make up yang dinilai “sesuai”, hingga stereotipe bahwa mahasiswa yang berpenampilan menarik belum tentu memiliki kemampuan akademik yang baik.

Iklan Souvenir DETaK

Anggapan seperti ini sebenarnya muncul bukan tanpa alasan. Banyak orang melihat beberapa influencer kampus yang terkenal karena wajah cantik, gaya berpakaian menarik, atau konten media sosial mereka, tetapi di sisi lain tidak terlalu menunjukkan prestasi akademik yang menonjol. Selain itu, ada juga mahasiswa yang datang ke kelas dengan penampilan yang dianggap terlalu berlebihan oleh sebagian dosen atau teman-temannya, namun kurang aktif dalam proses pembelajaran. Dari situlah muncul penilaian bahwa penampilan menarik identik dengan kurang serius dalam akademik.

Padahal, stereotipe seperti itu tidak bisa digeneralisasikan kepada semua mahasiswa yang memiliki penampilan menarik. Penampilan seseorang tidak dapat dijadikan ukuran mutlak untuk menentukan kemampuan, kecerdasan, ataupun keseriusannya dalam belajar. Di era media sosial saat ini, gaya hidup dan cara berpakaian memang banyak dipengaruhi oleh tren digital. Platform seperti TikTok, Instagram, atau Pinterest membuat banyak anak muda terinspirasi untuk mencoba outfit tertentu, belajar make up, atau meningkatkan cara mereka berpenampilan. Hal tersebut akhirnya menjadi bagian dari budaya generasi sekarang.

Menariknya, tidak sedikit juga orang-orang berprestasi yang aktif di media sosial sekaligus tetap memperhatikan penampilan mereka. Banyak mahasiswa yang mampu menyeimbangkan antara akademik, organisasi, dan citra diri di media sosial. Ini menunjukkan bahwa penampilan menarik tidak selalu bertentangan dengan prestasi akademik. Justru bagi sebagian orang, menjaga penampilan dapat meningkatkan rasa percaya diri, yang pada akhirnya membantu mereka lebih aktif berbicara, presentasi, ataupun berinteraksi di lingkungan kampus.

Anggapan bahwa orang pintar harus tampil sederhana, polos, dan tidak terlalu memperhatikan penampilan sebenarnya merupakan stereotipe lama yang terbentuk dari pola pikir masyarakat pada masa sebelumnya. Dahulu, sosok yang dianggap pintar sering digambarkan sebagai seseorang yang pendiam, sederhana, dan tidak terlalu mengikuti tren. Namun, seiring berkembangnya zaman dan pengaruh budaya digital, gambaran tersebut mulai berubah.

Saat ini, seseorang bisa saja memiliki penampilan yang sangat rapi, modis, dan mengikuti tren, tetapi tetap memiliki kemampuan akademik yang baik. Dunia sekarang sudah lebih terbuka terhadap berbagai bentuk ekspresi diri. Cara seseorang berpakaian tidak lagi selalu mencerminkan tingkat kecerdasan atau kualitas dirinya. Karena itu, stereotipe lama tentang hubungan antara penampilan dan kecerdasan mulai kehilangan relevansinya di era modern.

Meskipun begitu, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam beberapa kasus memang ada mahasiswa yang terlalu fokus pada penampilan hingga melupakan tanggung jawab akademiknya. Ada orang yang lebih memprioritaskan tampil sempurna di media sosial atau lingkungan kampus dibandingkan mempersiapkan tugas, belajar, ataupun aktif di kelas. Dalam kondisi seperti ini, penilaian negatif dari orang lain akhirnya muncul karena perilaku tersebut memang terlihat nyata.

Selain itu, lingkungan kampus juga memiliki norma tertentu terkait cara berpakaian dan berpenampilan. Jika seseorang dinilai terlalu berlebihan dalam berpakaian atau menggunakan make up yang tidak sesuai dengan situasi akademik, sebagian orang mungkin akan menganggap hal tersebut kurang pantas. Namun, masalah utamanya sebenarnya bukan pada penampilannya, melainkan pada bagaimana seseorang mampu menempatkan diri dan memahami prioritasnya sebagai mahasiswa.

Pada akhirnya, memiliki looks atau penampilan yang bagus bukanlah sesuatu yang salah. Bahkan, hal tersebut bisa menjadi sesuatu yang positif karena menunjukkan bahwa seseorang peduli terhadap dirinya sendiri dan memiliki rasa percaya diri. Berpenampilan menarik juga dapat memberikan kesan profesional dan rapi dalam lingkungan akademik. Namun, akan lebih baik jika usaha untuk menjaga penampilan diimbangi dengan usaha untuk meningkatkan kualitas diri, terutama dalam bidang akademik dan pengembangan kemampuan. Penampilan yang baik akan menjadi lebih bernilai jika disertai dengan prestasi, wawasan, dan sikap yang baik. Jadi, yang seharusnya diubah bukanlah cara seseorang berpakaian, melainkan cara masyarakat dalam menilai seseorang hanya berdasarkan penampilannya saja.

Penampilan mahasiswa seharusnya tidak dijadikan tolok ukur untuk menilai kemampuan akademik seseorang. Di era media sosial seperti sekarang, menjaga penampilan sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan bentuk ekspresi diri banyak anak muda, termasuk mahasiswa. Berpenampilan menarik bukan berarti tidak cerdas atau tidak serius dalam belajar. Namun, mahasiswa juga tetap perlu memahami prioritas utamanya di lingkungan kampus, yaitu menuntut ilmu dan mengembangkan kemampuan diri. Oleh karena itu, yang paling penting bukanlah memilih antara penampilan atau prestasi, melainkan bagaimana seseorang mampu menyeimbangkan keduanya dengan baik.

Penulis bernama Wanda Amelia Hutasuhut, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Naisya Alina