Artikel | DETaK
Belakangan ini, istilah hantavirus mulai ramai dibicarakan di media sosial. Munculnya sejumlah kasus di luar negeri membuat sebagian masyarakat khawatir dan mulai membandingkannya dengan pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Namun, tenaga kesehatan menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan. Hantavirus bukan virus baru, penyebarannya berbeda dengan COVID-19, dan risiko penularannya kepada masyarakat umum dinilai masih rendah.
Sebenarnya, hantavirus bukanlah virus baru. Virus ini telah lama dikenal dalam dunia kesehatan dan pertama kali mendapat perhatian besar secara internasional pada tahun 1993 ketika terjadi wabah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) di wilayah barat daya Amerika Serikat. Saat itu, sejumlah warga mengalami gangguan pernapasan serius yang kemudian diketahui berkaitan dengan paparan hewan pengerat, terutama tikus liar.

Dilansir dari CNN Indonesia, di Indonesia sendiri, yang umum menular pada manusia adalah jenis Seoul Virus (SEOV). Strain virus ini menyebabkan hemorrhagic fever renal syndrome (HFRS).
Keduanya sama-sama menimbulkan demam, sama seperti penyakit infeksi lainnya. Tapi, setidaknya ada gejala khas yang membedakan keduanya.
Pada HPS, gejala utamanya adalah gangguan pernapasan berat. Selain demam dan gangguan pernapasan, pasien juga bisa mengalami nyeri otot, sakit kepala, mual-muntah, diare, batuk, hingga detak jantung tidak teratur.
Sementara pada kasus HFRS, gejala yang paling khas adalah tubuh menguning karena menyerang ginjal. Gejala lainnya bisa berupa sakit kepala hebat, nyeri punggung dan perut, mual, dan penglihatan kabur. Pasien juga bisa mengalami wajah yang memerah dan ruam.
Kementerian Kesehatan telah mencatat sebanyak 23 kasus positif Hantavirus selama periode tahun 2024 hingga pekan ke-16 2026 di Indonesia.
WHO juga sudah memberikan pernyataan resmi terkait ramainya kasus hantavirus yang dikaitkan dengan sebuah kapal pesiar internasional beberapa waktu terakhir. Dalam keterangannya, WHO menyebut bahwa meskipun kasus ini merupakan situasi serius dan masih mungkin muncul tambahan kasus karena masa inkubasi virus, risiko penyebaran secara global tetap dinilai rendah. WHO bahkan menegaskan bahwa kondisi ini “bukan awal dari pandemi baru seperti COVID-19”.
Meski demikian, mahasiswa tetap perlu memahami informasi yang benar agar tidak mudah termakan kepanikan maupun informasi yang belum jelas sumbernya. Terlebih, kehidupan mahasiswa yang identik dengan aktivitas padat, kamar kos yang kadang kurang terurus, tanpa disadari bisa menciptakan lingkungan yang menarik bagi tikus dan hewan pengerat lainnya.
Situasi seperti ini sering dianggap sepele karena tidak langsung menimbulkan dampak yang terlihat. Padahal, lingkungan yang kurang bersih dapat meningkatkan risiko munculnya hewan pengerat di sekitar tempat tinggal. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga bagian dari menjaga kesehatan.
Menurut World Health Organization dan Centers for Disease Control and Prevention, hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus. Penularan umumnya terjadi ketika seseorang terpapar urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Virus ini bisa masuk ke tubuh melalui udara yang terkontaminasi dan kontak dekat dengan pasien tertentu.
World Health Organization menyebutkan bahwa gejala hantavirus umumnya dapat berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, hingga gangguan pernapasan pada kasus tertentu.
Penting dipahami bahwa hantavirus tidak menyebar semudah flu atau COVID-19. Hingga saat ini, penularan antarmanusia disebut sangat jarang.
Di kalangan mahasiswa sendiri, penyebaran informasi berjalan sangat cepat. Informasi kesehatan sering kali berlangsung sangat cepat melalui TikTok, Instagram, dan media sosial lainnya. Selain penerima informasi, mahasiswa sendiri juga terlibat aktif sebagai penyebar informasi. Sayangnya, tidak semua edukasi yang beredar sudah terverifikasi. Oleh Karena itu, mahasiswa perlu lebih kritis dalam menerima informasi kesehatan dan memastikan sumber berita berasal dari lembaga resmi atau media terpercaya untuk meminimalisir kepanikan berlebihan.
Selain memahami informasi dengan benar, ada baiknya juga dibarengi dengan mulai lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekitar, terutama bagi mahasiswa rantau yang tinggal di kos. Dilansir dari cretivox, pencegahan hantavirus ini bisa dimulai dengan jaga kebersihan lingkungan, hindari area banyak tikus, pakai masker saat membersihkan area berdebu, rajin cuci tangan, serta hindari kontak dekat dengan orang yang ada gejala berat.
Fenomena ini seharusnya menjadi pengingat bagi semua kalangan bahwa kesehatan lingkungan masih menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan mendorong masyarakat, khususnya mahasiswa, agar lebih sadar terhadap kebersihan diri dan lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, menghadapi isu kesehatan bukan berarti harus takut. Sikap yang paling diperlukan adalah tetap tenang, memahami informasi dengan bijak, dan menerapkan langkah pencegahan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pemahaman yang tepat, mahasiswa tidak hanya dapat melindungi diri sendiri, tetapi juga ikut membangun lingkungan yang lebih sehat dan nyaman bagi orang di sekitarnya.
Penulis bernama Ade Irma Aprianti, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.
Editor: Naisya Alina










