Beranda Opini Media, Pisau Bermata Dua yang Membentuk Persepsi Pernikahan bagi Perempuan

Media, Pisau Bermata Dua yang Membentuk Persepsi Pernikahan bagi Perempuan

BERBAGI
(Cut Dira Alya Gadiza/DETaK

Opini | DETaK

Pernikahan pada dasarnya bukan hanya soal dua orang yang saling mencintai lalu memutuskan untuk hidup bersama. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah fase hidup yang penuh tanggung jawab, penyesuaian, dan realita yang tidak selalu sesuai ekspektasi. Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, perempuan punya peran yang sangat besar dalam pernikahan. Bukan hanya sebagai pasangan, tapi juga sebagai ibu, pengasuh, dan sering kali menjadi pusat dari stabilitas rumah tangga itu sendiri.

Peran ini jadi makin kompleks karena perempuan juga punya peran biologis yang nggak bisa digantikan, yaitu melahirkan. Dari situ saja, perempuan sudah membawa tanggung jawab besar yang bukan cuma fisik, tapi juga emosional dan sosial. Makanya, nggak heran kalau bagi banyak perempuan, pernikahan itu bukan sekadar “ingin” tapi juga sesuatu yang penuh pertimbangan dan kadang tekanan.

Iklan Souvenir DETaK

Di era digital sekarang, cara kita melihat pernikahan sudah banyak berubah. Kalau dulu gambaran tentang pernikahan banyak dipengaruhi oleh keluarga atau lingkungan sekitar, sekarang media, terutama media sosial, punya peran yang cukup besar dalam membentuk cara pandang itu.

Setiap hari, kita disuguhkan berbagai macam konten tentang pernikahan. Ada yang menampilkan sisi romantis dan indah seperti pasangan yang harmonis, pernikahan mewah, kehidupan rumah tangga yang terlihat sempurna tanpa konflik. Konten seperti ini secara tidak langsung membentuk ekspektasi bahwa pernikahan itu harus indah, harus rapi, dan harus terlihat “sempurna”.

Tapi di sisi lain, media juga menampilkan hal yang sebaliknya. Muncul narasi seperti “marriage is scary” yang menyoroti sisi gelap dari pernikahan mulai dari konflik, ketidakseimbangan peran, sampai pengalaman buruk dalam rumah tangga. Konten-konten seperti ini perlahan membentuk rasa takut, terutama bagi perempuan yang merasa akan menghadapi lebih banyak risiko dalam pernikahan.

Menariknya, hal ini bukan sekadar asumsi. Penelitian menunjukkan bahwa paparan konten seperti ini bisa memberikan pengaruh yang cukup signifikan terhadap persepsi seseorang tentang pernikahan, bahkan mencapai sekitar 57,9%. Artinya, apa yang kita lihat di media sosial itu benar-benar bisa membentuk cara kita berpikir, bukan cuma lewat begitu saja.

Namun, di sisi lain, ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa pengaruh media sebenarnya tidak sepenuhnya kuat. Korelasi antara literasi media sosial dengan sikap terhadap pernikahan hanya berada di angka sekitar 0,132, yang berarti pengaruhnya ada, tapi tergolong lemah. Ini menunjukkan bahwa media memang berperan, tapi bukan satu-satunya faktor penentu. Beberapa faktor seperti lingkungan keluarga, pengalaman pribadi, dan nilai yang dianut seseorang tetap punya pengaruh yang jauh lebih besar. Kalau dilihat lebih dalam, perempuan memang cenderung lebih terpengaruh oleh narasi yang dibentuk media. Hal ini wajar, karena perempuan berada pada posisi yang lebih kompleks dalam pernikahan. Selain menghadapi tekanan sosial untuk menikah, perempuan juga harus memikirkan banyak hal, kesiapan mental, kesiapan fisik, hingga tanggung jawab setelah memiliki anak.

Di sinilah media bisa jadi “pisau bermata dua”. Di satu sisi, media bisa jadi sumber edukasi yang sangat membantu. Sekarang sudah banyak konten yang membahas pernikahan secara lebih realistis tentang pentingnya komunikasi, pembagian peran yang adil, kesiapan emosional, bahkan kesehatan reproduksi. Hal-hal seperti ini dulu jarang dibahas secara terbuka, tapi sekarang jadi lebih mudah diakses.

Namun di sisi lain, media juga bisa menciptakan tekanan yang nggak sehat. Banyak perempuan tanpa sadar membandingkan dirinya dengan standar yang ada di media. Harus tampil sempurna, harus punya hubungan yang ideal, harus siap di segala aspek. Padahal, realita pernikahan nggak sesederhana itu.

Masalah lain yang muncul adalah ketika media tidak hanya memengaruhi sebelum menikah, tapi juga setelahnya. Penelitian kembali menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan bisa memicu konflik dalam hubungan, seperti rasa cemburu, kesalahpahaman, bahkan ketegangan dalam rumah tangga. Dalam beberapa kasus, hal ini bahkan bisa berujung pada perceraian. Ini menunjukkan bahwa media bukan hanya membentuk ekspektasi, tapi juga bisa memengaruhi dinamika hubungan secara langsung. Karena itu, penting banget untuk memahami bahwa apa yang kita lihat di media sosial bukanlah gambaran utuh dari realita. Media adalah hasil kurasi yang ditampilkan yang biasanya hanya bagian terbaik atau justru bagian paling dramatis. Jarang sekali kita melihat keseharian yang sebenarnya, yang justru menjadi inti dari sebuah pernikahan.

Pernikahan tetaplah sebuah keputusan yang sangat personal. Perempuan memang punya peran besar di dalamnya, terutama dalam hal melahirkan dan membesarkan generasi berikutnya. Tapi peran itu seharusnya dijalani dengan kesadaran dan kesiapan, bukan karena tekanan sosial atau standar yang dibentuk oleh media. Media memang punya pengaruh, bahkan bisa dibilang cukup besar dalam membentuk perspektif. Tapi pengaruh itu bukan sesuatu yang mutlak. Media bisa membentuk, tapi tidak sepenuhnya menentukan. Kita tetap punya kendali atas bagaimana kita memahami dan memaknai informasi yang kita terima.

Di era digital seperti sekarang, yang dibutuhkan bukan menjauh dari media, tapi belajar untuk lebih kritis. Menyaring mana yang realistis dan mana yang hanya ilusi. Karena kalau tidak, kita bisa saja membangun ekspektasi tentang pernikahan yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ada. Pernikahan bukan tentang seindah apa yang terlihat di media, tapi tentang seberapa siap kita menghadapi realitanya dengan segala kompleksitas, tanggung jawab, dan proses yang ada di dalamnya.

Penulis bermana Naisya Alina, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Nasywa Nayyara Tsany