Siaran Pers | DETaK
Remaja akhir merupakan masa periode transisi yang membawa kita dari dunia remaja menuju kehidupan dewasa. Anak merasakan bahwa masa ini sangat berbeda dengan masa yang sudah ia lalui, yaitu masa anak-anak. Pada masa sekarang ini anak sudah bisa mengambil keputusan sendiri yang berkaitan dengan masa depan serta mulai memikirkan bagaimana kariernya ke depan. Namun, semua itu tidak bisa terjadi secara instan. Anak tetap harus mendapatkan dukungan dari lingkungan sekitar, dan contoh terdekatnya ialah keluarga sendiri.
Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam kematangan psikologis remaja pada masa-masa akhir seperti ini. Ketika orang tua bekerja, interaksi anak dengan orang tuanya berkurang. Namun, kondisi ini memiliki dampak baik dan juga dampak buruk. Dampak baiknya adalah anak dapat menjadi pribadi yang tangguh, mampu mengatur waktu sendiri, dan lebih bertanggung jawab. Kondisi ini juga dapat mendorong terbentuknya kemampuan anak untuk mengendalikan emosi serta mengelola situasi kehidupannya secara pribadi.

Di sisi lain, dampak buruk dari kurangnya interaksi dengan orang tua adalah anak bisa merasakan kesepian yang mendalam, memiliki kebingungan dalam mengambil keputusan, dan terkadang muncul pikiran bahwa orang tuanya tidak menyayanginya. Namun, pikiran seperti ini seharusnya dapat dihindari. Tidak ada orang tua yang ingin berjauhan dengan anak-anaknya. Waktu dan kondisi sering kali memaksa mereka berada dalam situasi tersebut. Oleh karena itu, anak dan orang tua perlu membangun banyak interaksi positif, seperti makan bersama, berbelanja bersama, ataupun melakukan deep talk sesekali.
Dengan adanya suasana yang harmonis di dalam keluarga, anak dapat bebas mengekspresikan dirinya tanpa melupakan norma-norma agama. Orang tua juga dapat menjadi pendengar yang baik ketika memiliki waktu bersama anak-anaknya. Oleh karena itu, orang tua perlu terus meningkatkan kualitas interaksi dengan anak melalui berbagai pendekatan, seperti memberikan contoh perilaku yang positif, mendukung aktivitas anak, serta memberikan reward kepada anak atas setiap pencapaian yang telah diraih.
Menurut Teori Ekologi dari Urie Bronfenbrenner, dapat disimpulkan bahwa kematangan psikologis pada remaja akhir tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui berbagai interaksi kompleks antara anak dan lingkungannya. Kondisi orang tua yang bekerja dapat dikaitkan dengan sistem ekosistem dalam teori ekologi, yang secara tidak langsung memengaruhi perkembangan remaja.
Situasi seperti ini memberikan dua kemungkinan, yaitu tantangan berupa berkurangnya dukungan emosional pada anak serta peluang bagi anak untuk mengembangkan kemandirian dan kemampuan beradaptasi. Dengan demikian, orang tua yang bekerja bukan menjadi penghalang bagi proses kematangan psikologis remaja. Kematangan psikologis pada remaja akan tetap berkembang dengan baik apabila kualitas hubungan dengan orang tua tetap terjaga dan komunikasi berjalan dengan baik. Remaja yang mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut dapat tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan lebih bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri.
Sumber:
Chintamiazzahra, & Putri, U. A. (2025). Pengaruh interaksi orang tua-anak terhadap pembentukan pola pikir dan sikap anak. Jurnal RISOMA. https://journal.appisi.or.id/index.php/risoma/article/view/1106/1155
Dewi, F. N. R. (2021). Konsep diri pada masa remaja akhir dalam kematangan karir siswa. Jurnal Konseling Edukasi, 5(1), 46–62. https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/Konseling_Edukasi/article/view/9746/0
Guy-Evans, O. (2025). Bronfenbrenner’s ecological systems theory. Simply Psychology. https://www.simplypsychology.org/bronfenbrenner.html
Penulis bernama Liyana Alima Athallah, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran , Universitas Syiah Kuala.
Editor: Zikni Anggela










