Beranda Siaran Pers Wisata Museum Tsunami Banda Aceh

Wisata Museum Tsunami Banda Aceh

BERBAGI
Doc. Istimewa

Siaran Pers | DETaK

Museum Tsunami Aceh merupakan monumen peringatan, pusat edukasi kebencanaan, dan simbol bangkitnya masyarakat Aceh dari tragedi gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 yang lalu. Dikutip dari jurnal Dafrina, A. (2013) berjudul Penerapan Arsitektur Metafora pada Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh dalam jurnal Arsitekno, 2(2), 1–8, dijelaskan bahwa Museum Tsunami Aceh dirancang oleh arsitek Indonesia, Ridwan Kamil, dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 23 Februari 2008.

Museum ini berupa gedung dengan struktur empat lantai dan luas sekitar 2.500 m². Dinding lengkung bangunan tersebut ditutupi relief geometris. Ketika memasuki museum, pengunjung akan melewati lorong sempit dan gelap dengan suara gemuruh air yang menciptakan suasana cukup mencekam. Hal ini bertujuan untuk menggambarkan kembali bagaimana suasana saat tsunami terjadi.

Iklan Souvenir DETaK

Dinding museum dihiasi gambar para penari yang sedang menarikan Tari Saman sebagai simbol kekuatan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana tsunami 2004. Tari Saman juga melambangkan kedisiplinan dan kepercayaan religius masyarakat Aceh. Di bagian atas, pengunjung dapat melihat atap yang membentuk gelombang air laut, sementara lantai dasarnya dirancang menyerupai rumah panggung tradisional Aceh yang dahulu banyak selamat dari terjangan tsunami. Selain itu, museum ini juga menjadi warisan bagi generasi penerus bahwa pernah terjadi bencana tsunami dahsyat di Tanah Aceh.

Selain sebagai monumen peringatan atas peristiwa gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004, Museum Tsunami Aceh juga sangat berpotensi dijadikan sebagai destinasi wisata keluarga dan edukasi. Mengapa demikian?

A. Potensi Museum Tsunami Aceh sebagai Destinasi Wisata Keluarga dan Edukasi

Alasan pemilihan Museum Tsunami Aceh sebagai sarana eksplorasi wisata keluarga dan edukasi adalah karena fasilitas gedungnya yang ramah keluarga. Museum ini tidak hanya berisi informasi dan edukasi yang disajikan melalui berbagai media interaktif, tetapi juga menyediakan fasilitas umum yang ramah bagi wisatawan muslim.

Salah satunya adalah mushalla, yaitu tempat beribadah umat Islam yang terletak di bagian bawah di luar museum. Para wisatawan yang ingin menunaikan ibadah salat dapat melaksanakannya di mushalla tersebut. Selain bersih dan nyaman, mushalla ini juga menyediakan sarung dan mukena bagi wisatawan. Selain mushalla yang bersih dan nyaman, terdapat pula toilet dan tempat berwudu yang ramah wisatawan. Kedua fasilitas tersebut dipisahkan antara laki-laki dan perempuan agar tetap menjalankan syariat Islam yang berlaku, sehingga para pengunjung merasa nyaman selama beribadah di sana.

Sebagai destinasi wisata edukasi, Museum Tsunami Aceh menyajikan berbagai informasi mengenai peristiwa tsunami secara sistematis dan menarik. Museum ini dibangun sebagai pengingat peristiwa gempa dan tsunami dahsyat yang pernah melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Museum ini menyajikan berbagai informasi mengenai kronologi terjadinya tsunami, dampak yang ditimbulkan, serta upaya mitigasi bencana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko di masa depan.

Informasi tersebut disajikan melalui berbagai media seperti diorama, foto dokumentasi, video, serta instalasi visual yang interaktif. Terdapat juga bioskop mini yang digunakan untuk pemutaran video dokumentasi saat terjadinya peristiwa tsunami.

Penyajian informasi yang khas ini menjadi daya tarik bagi pengunjung, termasuk anak-anak. Selain itu, setiap desain arsitektur museum juga mengandung simbol tersendiri, salah satunya sebagai simbol kekuatan alam sekaligus refleksi atas tragedi tsunami tersebut. Bagi segmen wisata keluarga, museum ini menjadi tempat yang tepat untuk dikunjungi karena selain memiliki keindahan dan keunikan arsitektur serta fasilitas yang ramah keluarga, museum ini juga memberikan nilai-nilai kemanusiaan, rasa empati, serta kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana.

B. Pendapat Wisatawan Mengenai Museum Tsunami Aceh

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada Senin, 9 Maret 2026 di Museum Tsunami Aceh, berikut dipaparkan beberapa pendapat wisatawan mengenai fasilitas ramah keluarga di museum tersebut.

Wisatawan pertama berasal dari Lhokseumawe yang berkunjung ke Museum Tsunami Aceh untuk jalan-jalan bersama keluarga. Menurutnya, fasilitas di museum ini sudah cukup ramah keluarga dan terlihat lebih baik dibandingkan sebelumnya sebelum dilakukan renovasi. Ia juga menyarankan agar pihak museum menambahkan lift untuk umum agar dapat memudahkan pengunjung, terutama anak-anak yang takut menaiki tangga.

“Untuk tempatnya sudah lumayan baik dari yang sebelumnya. Cuma mungkin tangganya saja, karena banyak anak-anak, jadi kalau bisa ada liftnya. Kadang ada anak-anak yang takut naik tangga,” ucapnya.

Ia juga mengungkapkan harapannya agar Museum Tsunami Aceh dapat lebih dikenal hingga ke seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia maupun di kalangan masyarakat Aceh saja.

“Harapannya Museum Tsunami Aceh lebih dikenal lagi sama orang luar negeri. Karena di bawah tadi ada turis Malaysia. Jadi saya berharap agar museum ini lebih dikenal juga oleh negara lain, bukan cuma Indonesia saja,” ungkapnya.

Wisatawan kedua berasal dari Aceh Tengah. Ia berkunjung ke Museum Tsunami Aceh untuk mengajak keluarganya melihat kembali peristiwa tsunami yang dahulu pernah melanda Aceh. Dalam wawancara tersebut, ia berpendapat bahwa fasilitas museum ini sudah cukup ramah keluarga. Namun, ia menyarankan agar pihak museum menyediakan fasilitas khusus berupa tempat bermain anak-anak di lantai bawah.

“Fasilitas di sini lumayan sudah ramah keluarga, tapi kalau bisa di bawah dibuatkan fasilitas untuk bermain anak-anak,” ucapnya.

Ia juga menambahkan agar dokumentasi masjid-masjid yang tidak terkena tsunami dapat diperbanyak. Hal ini bertujuan agar anak-anak dapat mengetahui bahwa ada banyak masjid yang tetap berdiri meskipun terjadi tsunami.

“Harapan saya ditambahkanlah gambar-gambar masjid yang banyak tidak kena, supaya anak-anak kita tahu yang tidak kena tsunami,” tambahnya.

Wisatawan ketiga berasal dari Meulaboh. Tujuan kunjungannya ke Museum Tsunami Aceh adalah untuk mengajak keluarga berwisata. Menurutnya, fasilitas keluarga di museum ini sudah cukup lengkap dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengunjung.

“Fasilitasnya sejauh ini bisa disesuaikan dan sudah lengkap,” ungkapnya.

Ia juga berharap agar museum ini dapat menjadi lebih baik lagi di masa depan.

“Saya berharap ke depannya semoga Museum Tsunami ini bisa lebih baik lagi, lebih bersih lagi, dan sama-sama kita jaga kebersihannya,” ucapnya.

Tulisan ini merupakan karya Kelompok 3 yang terdiri dari Alya Anjadelisya Hasibuan, Affini Fathara, Zakiyaturrahmi, Suci Rahmatika, Jasria Fazillah, Khairunnisa, dan Cut Alia Rahmadhani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Zikni Anggela