Beranda Opini Takjil Musiman: Seru, Ramai, tapi Jangan Lupa Makna

[DETaR] Takjil Musiman: Seru, Ramai, tapi Jangan Lupa Makna

BERBAGI
Ilustrasi. (M. Azkal Azkiya/DETaK)

Opini | DETaK

Setiap kali bulan Ramadan tiba, suasana sore di area kampus tampak berubah total. Jalan yang biasanya ramai dengan kendaraan motor dan mahasiswa yang cepat-cepat pulang dari kelas mendadak dipenuhi tenda warna-warni. Meja lipat tertata rapi, plastik transparan berisi es berwarna-warni menggantung, dan aroma gorengan menyeruak ke sekeliling. Suara para pedagang saling bersautan dengan pembeli yang sibuk memilih. Ya, musim takjil telah resmi dimulai.

Takjil musiman selalu memiliki daya tarik tersendiri. Rasanya kurang lengkap jika belum berjalan-jalan sejenak sebelum waktu berbuka puasa. Meskipun awalnya hanya berniat membeli satu atau dua jenis makanan, pada akhirnya pulang membawa satu tas penuh. Kolak, es buah, gorengan, puding, hingga minuman kekinian bertema “Edisi Ramadan”, semuanya terlihat sangat menggoda. Lapar mata? Tentu saja. Terlebih setelah seharian berpuasa, hampir semua yang terlihat seperti pilihan terbaik.

Iklan Souvenir DETaK

Bagi mahasiswa, momen ini bukan sekadar tentang makanan. Ini tentang suasana. Ada kesenangan kecil saat memilih makanan, bercanda dengan teman sambil berdiskusi menu yang ingin dibeli, hingga momen menunggu waktu berbuka bersama di pelataran kos, masjid, atau bahkan di kelas yang dijadikan tempat buka bersama. Sederhana, namun selalu menimbulkan rasa rindu. Takjil musiman menjadi semacam ritual tak tertulis yang membuat Ramadan terasa lebih hidup dan lebih bermakna.

Media sosial pun ikut meramaikan fenomena ini. TikTok dipenuhi dengan foto gelas es berembun dan video gorengan yang baru diangkat dari wajan. Secara tak sadar, takjil tidak hanya menjadi konsumsi fisik, tetapi juga konsumsi visual. Kita membeli, memotret, dan membagikannya. Ada kepuasan tersendiri ketika momen buka puasa terasa lengkap, baik dalam kehidupan nyata maupun di layar ponsel.

Menariknya lagi, takjil musiman juga membuka kesempatan baru. Banyak pedagang dadakan bermunculan. Bahkan sebagian mahasiswa ikut berjualan untuk menambah uang saku. Ada yang menjual es buah di depan kos, ada pula yang menitipkan gorengan ke warung, sementara sebagian lainnya membuka pre-order dessert untuk berbuka. Ramadan menjadi waktu yang sangat potensial untuk menghasilkan uang. Dalam waktu singkat, perputaran uang terasa lebih cepat. Yang biasanya hanya menjadi konsumen bisa beralih menjadi penjual. Kreatif, adaptif, dan memanfaatkan momen.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya waktu beribadah, tetapi juga waktu sosialisasi dan ekonomi. Terjadi pertemuan antara kebutuhan, tradisi, dan kesempatan. Takjil musiman menjadi contoh kecil bagaimana budaya dan ekonomi dapat berjalan seiring. Tradisi berbuka dengan makanan manis membuka peluang usaha bagi banyak orang.

Namun, di balik semua keseruan itu, ada satu hal yang sering kita abaikan: kita sering membeli lebih dari yang sebenarnya kita butuhkan. Lapar seharian membuat segalanya tampak menggoda. Ditambah lagi dengan rasa “takut kehabisan” atau sekadar tergoda oleh harga. Akhirnya, makanan yang dibeli tidak habis. Ada sisa yang terbuang. Padahal inti dari puasa bukan hanya menahan lapar, melainkan juga belajar mengendalikan diri.

Ironisnya, di bulan yang seharusnya mengajarkan kesederhanaan, kita malah bisa menjadi lebih konsumtif. Kita ingin mencoba segala hal karena merasa kesempatan ini hanya datang setahun sekali. Kita membenarkan diri dengan alasan “mumpung Ramadan”. Namun, nilai utama dari puasa justru terletak pada kemampuan kita untuk menahan keinginan, bukan pada melampiaskannya saat waktu buka puasa tiba.

Di sisi lain, terdapat aspek positif yang patut kita jaga. Ketika kita membeli takjil, sebenarnya kita turut berkontribusi pada perekonomian kecil. Ada seorang ibu yang mengumpulkan uang untuk pendidikan anaknya, mahasiswa yang berusaha mandiri, dan keluarga yang berharap banyak dari penjualan selama bulan ini. Di balik satu kantong kolak atau segelas es, terdapat usaha, doa, dan harapan.

Sebagai mahasiswa, kita berada di posisi yang istimewa. Kita cukup peka untuk memahami fenomena sosial, namun juga cukup dekat untuk merasakannya secara langsung. Kita bisa merasakan euforia takjil musiman tanpa kehilangan kesadaran. Kita bisa turut meramaikan suasana, tetapi tidak berlebihan. Kita tetap up-to-date di media sosial, namun tetap berpikir reflektif.

Takjil musiman pada akhirnya merupakan gambaran kecil tentang bagaimana kita menjalani Ramadan. Apakah kita hanya melihatnya sebagai peluang untuk jajan dan pamer di media sosial, atau sebagai bagian dari tradisi yang kaya makna? Bisakah kita membedakan antara apa yang kita butuhkan dan apa yang kita inginkan? Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar mudah, tetapi jawabannya mencerminkan tingkat kedewasaan kita.

Karena sejatinya, takjil musiman hanya muncul selama sebulan dalam setahun. Tenda-tenda itu akan dibongkar. Lapak-lapak akan lenyap. Jalan-jalan di sekitar kampus akan kembali seperti semula. Ramadan akan berlalu, dan kesibukan akan kembali normal. Namun, pelajaran yang kita peroleh seharusnya tidak hilang.

Jadi, silakan nikmati es kesukaanmu, pilih gorengan yang paling menggugah selera, dan rasakan kehangatan suasana sore Ramadan. Jalan-jalan sebentar sebelum Magrib, tertawa dengan teman, dan abadikan momen tersebut jika mau. Namun sambil itu, ingatlah: yang terpenting bukanlah seberapa banyak yang kita beli, tetapi seberapa dalam kita memahami makna di baliknya.

Kemeriahan diperbolehkan. Keseruan boleh. Jajan juga diperbolehkan, asalkan tetap sadar diri, dalam batas wajar, dan tidak kehilangan esensi. Karena Ramadan bukan hanya tentang apa yang kita nikmati saat berbuka, tetapi juga tentang bagaimana kita belajar menjadi lebih bijak setelah hari-hari itu berlalu.

Penulis bernama Mila Karmila, Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Naisya Alina