Beranda Puisi Perempuan yang Menyimpan Langit

Perempuan yang Menyimpan Langit

BERBAGI
Ilustrasi. (Raisa Amanda/DETaK)

Puisi | DETaK

Ia berjalan di puncak pagi yang dingin,
Ditemani kicauan burung dan embun pagi,
Membawa setumpuk buku seakan-akan membawa dunia di telapak tangannya.
Langkahnya kecil, namun menggetarkan bumi,
Karena setiap langkahnya menantang sunyi
Perempuan dulu berkata: cukup sampai dapur saja, cukup sampai batas kepuasan suami saja.
tapi bukan itu yang ia mau.

Ia menapaki tangga, seperti meniti awan dengan sepatu dari harapan.
Setiap halaman yang ia buka adalah pintu langit,
Dan setiap rangkaian rumus, teori, serta huruf
Merupakan bintang yang bersinar di balik rambutnya.

Iklan Souvenir DETaK

Mereka bilang, perempuan terlalu rapuh untuk mimpi besar
Bahunya terlalu kecil untuk sebuah kedudukan
Tapi mereka lupa, akan siapa yang menciptakan langit dengan keteguhan seindah sabar?
Siapa yang menulis puisi dari peluh doa ibu-ibu
Yang menyimpan segala luka dalam lipatan hijabnya,
Lalu tersenyum, seakan badai hanyalah gerimis kecil yang singgah di hatinya?

Sekolah tinggi baginya bukanlah menara gading,

Melainkan sebuah jembatan menuju dirinya sendiri.
Ia belajar bukan untuk meninggi,
Melainkan untuk berdiri sejajar,
Bukan melawan dengan omongan kosong,
tapi menatap dunia dengan mata yang sama tajamnya

setiap ujian adalah musim hujan,
namun dari hujan itu tumbuh tanaman ilmu yang harum.
Ia menyiraminya dengan air mata,
Bukan air putus asa, tapi air kehidupan
Yang membuat benih cita-cita tumbuh di dadanya.

Kini, perempuan itu berdiri di puncak tertinggi kehidupannya
Memandang langit yang dulu menundukkannya.
Ia tersenyum, lalu berbisik pelan,
“aku tak lagi mencari langit,
Karena kini, langitlah yang kupijak dan kutundukkan.”

Penulis bernama Raisa Amanda, Mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Fathimah Az Zahra