Beranda Cerbung Kenapa Ini Bisa Terjadi?

Kenapa Ini Bisa Terjadi?

BERBAGI
Ilustrasi. (Husniyyati [AM] | DETaK)

Cerbung | DETaK

Part 2

Tak terpikir oleh Ryan bahwa dia dari segala orang yang akan berada di ruang putih menusuk ini. Ruang yang diisi dengan hiasan simple dan juga dipenuhi benda-benda tumpul seakan mengejeknya. Di depannya terdapat seorang pria yang berpakaian simple dengan memegang semua papan dan bolpoin di kedua tangannya.

Iklan Souvenir DETaK

Pria tersebut terus menatapnya tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia hanya fokus memperhatikan Ryan sambil sesekali mencatat hal-hal yang menurutnya perlu dicatat di papan tersebut. Namun, sayangnya Ryan sendiri tidak sanggup memperhatikan tingkah pria tersebut. Bagaimanapun dibanding keberadaan pria itu. Hal yang lebih penting ialah bagaimana bisa ia berakhir disini? Kapan semua ini dimulai? Bagaimana bisa ia tidak menyadarinya? 

Namun, apa daya, tidak terdapat satu orang pun yang dapat mengetahui jawaban pasti dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, selain ia sendiri. Tentu saja, Ryan telah menyadarinya. Ryan yang telah memegang prinsip rasional dari lama tidak lah mungkin tidak menyadarinya. Satu-satunya alasan mengapa terus mempertanyakan hal tersebut ialah perasaan denial.

Perasaan denial yang sangat kuat dapat tercipta jika menemukan fakta yang berbeda dari yang kita yakinin, apalagi jika hal tersebut bertentangan dengan yang telah kita percayai seumur hidup. Hal tersebut tidak terkecuali dengan Ryan. Meskipun, ia telah menemukan jawabannya dengan logikanya. Hati tetap membisikan kata tidak mungkin. Pertentangan antara pikiran dan hatinya pun, menyebabkan kondisi Ryan saat. 

Setelah setengah jam saya berlalu, Ryan pun dapat merasa lebih baik dan akhirnya menganggap bahwa semua ini lucu. Mengakibatkan ia tertawa terbahak-bahak, sukses membuat pria didepannya terlihat terperanjat kaget. Namun sayangnya, Ryan tidak dapat menghentikan tertawanya hingga membuatnya menitikkan air mata. Tak lama tawanya pun mereda. Dan Ryan setelah terjebak 3 jam diruangan tersebut. Telah sukses menghilangkan rasa denialnya. Ia pun dapat menatap sang pria yang duduk di sofa didepannya dengan tegas. Sebelum akhir melayangkan pertanyaan. 

“Jadi apa diagnosisnya, dokter?”

Pria yang tadi hanya diam tanpa berucap akhirnya berkata.

“Skizofrenia, ini masih jatuh kategori ring-“

Pria yang dipanggil dokter tersebut tidak sempat menyelesaikan pernyataannya sebelum dipotong oleh suara tawa Ryan. Meski akhirnya, Ryan meminta maaf atas kekasarannya. Jujur ia tidak dapat menahan geli akan fakta tersebut. Oh sungguh, mengejutkan. Ryan yang terkenal akan kerasionalannya dan prinsip yang diyakininya tentang bagaimana mental illness itu tidak ada, menjadi pasien yang harus melakukan rawat inap di rumah sakit jiwa. Ah, memikirkannya terus menerus membuar Ryan jadi ingin terus tertawa. 

Jika ada yang nanyakan bagaimana ia berakhir disini, mungkin harus dimulai dengan Zahad. Yap, Zahad yang merupakan ’sahabat dekat’nya ternyata ilusi skizofrenia-nya. Berawal dari Ryan yang akhir memutuskan memperkenalkan salah satu rekan kerja yang ia anggap dapat di percaya untuk menemui Zahad. Namun selalu berakhir dengan tangan kosong karena Zahad tidak kunjung datang. Membuat rekan kerjanya menyadari bahwa teman yang selama ini dia panggil tidaklah nyata.

Dan menyarankannya untuk datang ke dokter jiwa, yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Ryan yang mengangap itu konyol. Dan setelah diancam memutuskan untuk mengejek dokter jiwa tentang berapa bodoh mereka memilih spesialis itu. Yang berakhir dengan diagnosis bahwa ia mengidap penyakit mental yang telah masuk ke kategori parah. Dan kemudian ia belajar bahwa Zahad merupakan sosok yang di bangunkan di kepalanya sebagai tempat mengeluarkan stressnya. 

Siapa sangka bahwa kata-kata yang biasa dipermainkan terjadi padanya. Oh, sungguh takdir sangatlah luar biasa konyol. Ryan pun hanya bisa terdiam. Ia tidak menyangka bahwasanya hal ini terjadi padanya. Ia tidak menyangka bahwa akhir ia harus tinggal di rumah sakit jiwa selamanya. Ia tidak menyanggaka bahwa hari ini merupakan tahun ketiga ia disana. Ia tidak menyanggka bahwa hari dimana ia berhasil ‘keluar’ ialah hari pertemuan pertamanya dengan Zahad. Ia juga tidak menyangka bahwa hari ini adalah hari dimana ia mengakhiri hidupnya.

Tamat

Penulis bernama Riva Alya Najeela, Mahasiswi Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Syiah Kuala.

Editor: Amirah Nurlija Zabrina